Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 1.

Zaqy terjaga, ia langsung memegangi dadanya yang teramat sakit. Kesedihan tercurah dari sana, kesedihan karena kerinduannya kepada sang ayah yang meninggal akibat bencana topan di kotanya.

“Ayah, aku rindu,” gumam Zaqy.

Zaqy buru-buru menghapus air matanya begitu mendengar pintu kamarnya terbuka, ia pun bangkit dari ranjang dan berdiri di depan pintu.

“Selamat pagi!” sapanya ceria.
Orang di luar sana terlonjak, “Kau selalu saja mengagetkanku,” ucapnya setengah mengeram.
“Kau selalu saja melakukan hal yang sia-sia,” Zaqy berkomentar.
Orang itu mengangguk, “Kau benar, padahal aku telah bersumpah tak akan membangunkanmu di pagi hari tapi…” ia menggeleng beberapa kali, “aku di sini.”

Zaqy tersenyum setelahnya, ia pun tahu maksud kedatangan orang yang baru saja menemuinya selain membangunkannya tidur. Bahwa orang itu telah menyiapkan sarapan untuk Zaqy, bahwa orang itu sudah menunggu Zaqy di ruang makan sejak tadi dan tak pernah menyentuh makanannya sama sekali sebelum batang hidung Zaqy terlihat seperti pagi-pagi yang telah terlewati.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Zaqy pun turun dan kedatangannya disambut senyum manis orang yang menemuinya tadi.

“Selamat pagi, paman Han!” sapa Zaqy.
“Tante…” ucap Zaqy lagi, nada bicaranya berangsur merendah.
Han tersenyum, sesaat kemudian ia menyeringai, “Sudah kubilang, panggil aku ayah. Satu lagi, jangan kau panggil namaku, aku paling tidak suka itu,” ucapnya.
Zaqy mengangguk, “Baiklah, pam—”
“ayah.” tukasnya.
“Halo, Hiro,” sapa Zaqy seraya mengusap kepala seorang anak lelaki yang memakai seragam merah putih.
Hiro tersenyum, “Kak Zaqy sudah sembuh?” tanyanya.
Zaqy mengangguk, “Kak Zaqy kan anak pahlawan, jadi kalau sakit, sakitnya pasti cuma sebentar,” jawabnya penuh senyum.

Wanita yang duduk di sebelah Han itu bangkit, ia menyiapkan; nasi, sedikit lauk dan sepotong tempe goreng. Wanita itu lantas meletakkan piring yang baru saja diisinya dengan sedikit lauk itu ke hadapan Zaqy, tanpa senyum sama sekali.

Dahi Han berkerut, “Lisa, kau bercanda ya? Masa Zaqy kau kasih makan segitu,” tanyanya.
Sambil meraih sendok Zaqy mengibaskan satu tangannya, “Tidak apa-apa, yah. Saya memang sedang diet,” ucap Zaqy seraya menarik kemeja putihnya hingga nampaklah perutnya yang six pack itu.
Hiro bersorak melihat hal itu, “Kak Zaqy hebat!” decaknya kagum.

Han geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zaqy, ia tahu betul Zaqy sangat kekurangan dengan jatah sarapannya pagi ini. Meski begitu ia tak dapat berbuat apa-apa, Lisa ada di antaranya dan ia seperti Tuhan di rumah itu.

“Magang yang bener ya, Zaq. Biar cepat diterima. Jangan lupa tersenyum, kamu tampan kalau tersenyum,” ucap Han.
Zaqy tersenyum, “Pasti, Yah. Zaqy pasti segera diterima,” katanya.
“Ya, sudah. Sana masuk,” kata Han.

Zaqy mengangguk, ia lantas berbalik dan berlari memasuki kantor tempatnya magang. Sementara Han, melanjutkan perjalannya yang terhenti karena mengantar Zaqy.
Han selalu menyesal dalam hatinya, seharusnya Zaqy melanjutkan kuliah s2 seperti keinginannya dan keinginan Zaqy sendiri, akan tetapi karena adanya Lisa segala sesuatunya tersekat termasuk mimpi-mimpi Zaqy.
Han selalu memandangi isi dalam kotak di bawah dasbor sebelum masuk ke kantor kepolisian, tempat di mana Han bekerja. Ia selalu menghitung jumlah lembaran yang tersimpan di sana, ia berharap kumpulan lembaran itu bisa membawa Zaqy berkuliah lagi suatu hari nanti.
Han adalah seorang polisi, sama seperti ayah Zaqy dahulu. Bahkan pertemuan Han dengan Lisa, adik ayah Zaqy, ialah karena mereka sama-sama polisi.

Han terkesiap, kaca jendelanya diketuk beberapa kali dan ia langsung menoleh ke kanan.

“Apa yang kau lakukan di sana? Ayo masuk!” ajak seorang rekan.
Han mengangguk, “Ok, sebentar,” ucapnya.

Han menutup laci dasbor, ia lantas menguncinya. Hanya Han seoranglah yang tahu laci di bawah dasbor itu bisa terbuka, begitu pula dengan isinya.
Han berlari mengejar rekan yang tadi mengajaknya masuk, ia merangkul rekannya itu dan saling tertawa setelahnya.

Ketika membersihkan kamar Zaqy, Lisa menemukan sebuah foto di dalam laci. Foto itu ialah foto Rei, kakaknya, yang memakai seragam polisi yang tetap terlihat gagah meskipun foto tersebut telah usang.
Sepersatu air mata Lisa menetes, ia menyekanya lantas berlari keluar ruangan.

Zaqy menenteng sebuah baki dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang kertas catatan berisi daftar minuman yang dipesan para pegawai kantor.

“Zaq!” teriak seseorang dari arah belakang.
Zaqy menoleh, “Tolong foto copy ini dua puluh lembar. Lantai sembilan, Rony Agustinus. Cepetan!” perintah orang bernama Rony itu seraya menepuk lengan Zaqy beberapa kali setelah menyerahkan setumpukan kertas.

Zaqy termangu, di dalam benaknya berkejaran semua tugas bahkan tugas yang telah dilakukannya pula. Segala sesuatunya berlarian di sana dan Zaqy ingin sekali berlari kencang saat itu juga, menghindar dari hiruk pikuk kantor.
Zaqy berlari; ia menuju dapur, membuat aneka minuman dan mengantarnya kepada pemesan. Ia lantas memasuki ruang di mana ada mesin foto copy dan mengantri di sana, namun ia terlupa membawa berkas yang hendak di foto copy. Zaqy mengacak-acak rambutnya karena kesal, ia berlari mencari berkas yang yang seharusnya sudah di foto copy itu. Ia benar-benar sibuk.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s