Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 2.

Zaqy kembali ke antrian, tentu saja ia menjadi yang paling terakhir. Ia menggumam kesal, nyaris tak terdengar saking pelannya.

“Maaf, Dik. Boleh saya duluan? Saya buru-buru banget soalnya,” tanya seseorang di belakang Zaqy.
Zaqy baru saja akan menandaskan kekesalan hari ini kepada orang yang menanyainya itu, “Enak saja, kalau mau pakai ya antri dong!” katanya seraya menoleh.
Orang itu tersenyum, “Maaf deh,” ucapnya.

Jantung Zaqy seharusnya berdebar lebih kencang saat melihat orang di hadapannya, namun yang terjadi justru kebalikannya. Ia tak merasakan jantungnya berdetak sama sekali, bagaikan telah diabadikan saat itu juga.

“Ayah,” gumamnya.

Bagaimana segala sesuatu yang ada di diri orang di hadapan Zaqy kecuali; kaca mata, seragam dan gaya rambut, sungguh mirip sekali dengan mendiang ayahnya.
Zaqy merasakan kedua tungkainya lemah, ia melihat berkas yang tadi dibawanya tertiup angin dan beterbangan. Setelah itu segala sesuatunya gelap, ia tak dapat melihat apa-apa lagi.

Zaqy terjaga ketika mendengar suara perdebatan antara paman dan tantenya, ia merasakan kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan.

“Ini semua karena kamu, kamu itu terlalu pelit. Kalau saja jatah sarapan Zaqy seperti biasa, pasti dia tidak akan pingsan seperti ini,” ucap Han seraya menunjuk ke arah istrinya.
Tak mau kalah, Lisa menggeleng, “Bukan, Han. Dia itu memang lemah, seperti ayahnya,” giliran Lisa yang menunjuk Zaqy.

Han sungguh tak habis fikir, ia baru saja akan meninggalkan ruangan penuh aroma kimia ketika Zaqy memanggilnya.

“Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Kau kenapa?” seberondong pertanyaan langsung terlontarkan.
Zaqy tersenyum, “Saya baik-baik saja, Ayah,” jawabnya.
Lisa duduk di sofa, “Kamu kenapa?” ulang Han.
“Ayah mungkin tak bisa percaya ini, tapi saya melihat ayah saya di kantor,” jawab Zaqy. “benar-benar ayah saya.” ulangnya.
Dahi Han sontak berkerut, “Apa?!” tanyanya setengah berteriak.
Lisa bangkit setelah mendengar jawaban Zaqy, “Kepalanya terbentur lantai, jadi pasti masih sakit sampai berkata yang aneh-aneh,” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.
Kedua tangan Zaqy mengepal, “Ayah pikir kamu cuma rindu saja, karena Rei ayah kamu itu kan…”
“Sudah mati.” tukas Zaqy, ia memalingkan pandangan dan kepalan tangannya kian erat.

Han mencium kening Zaqy, setelahnya ia pun turut pergi meninggalkan ruangan dengan mengatakan harapan dan do’a tentang kesembuhan Zaqy sebelumnya.
Zaqy terdiam dalam kesalnya, ia berpikir pasti paman dan tantenya itu telah menganggapnya gila selain dirinya sendiri pula. Tapi ada sedikit rasa percaya dalam dirinya bahwa yang ditemuinya di kantor memang sang ayah, yang Tuhan kirimkan karena Zaqy terlalu rindu.

“Bagaimana keadaan kamu?” tanya seseorang setelah pintu kamar terdengar terbuka.

Zaqy merasakan jantungnya kembali berdebar, kali ini terlalu kencang sampai rasa-rasanya hendak meledak. Pelan, ia memberanikan untuk menoleh. Matanya berkaca-kaca, tidak terbendung lagi air matanya pun mengalir deras.

“Pamโ€”an! Ayah! Tante!” teriak Zaqy.
Orang yang baru saja datang itu nampak kebingungan melihat Zaqy menoleh dan berteriak, “Ada apa?!” tanyanya berteriak pula, “kamu merasa sakit?”
“Anda yang buat saya sakit,” jawab Zaqy.
“Tenanglah!” ucap orang itu lembut, seperti hembusan angin yang menengkan hati Zaqy.

Zaqy pun benar-benar terdiam setelahnya, kata-kata orang itu seperti mantra yang meniadakan huru-hara dalam hatinya.

“Di kantor, kau pingsan saat melihatku. Sekarang, kau berteriak memanggil paman dan tantemu. Memangnya kau pikir aku apa? Monster? Alien?” tanya orang itu.
Zaqy terpegan, “Namaku Christian, aku kesini mau minta maaf,” ucap Christian.
“Anda bukan hanya monster atau alien, anda ini mayat hidup,” kata Zaqy dalam keterpeganannya.
Dahi Christian berkerut, “Zombie?” tanyanya.
Zaqy mengangguk, sejurus kemudian ia menggeleng, “Anda mirip sekali dengan ayah saya yang sudah meninggal,” jawabnya.

Giliran Christian yang terpegan, kedua matanya berkaca-kaca seperti kedua mata Zaqy.

“Padahal saya tidak punya saudara kembar,” ucap Christian.
Zaqy tersenyum saat air matanya mengalir, “Berarti anda memang ayah saya, reinkarnasi mungkin,” katanya.
Christian menyeka air mata yang mengaliri wajah Zaqy, “Anak lelaki itu tidak boleh menangis, sesedih apapun itu,” ucapnya.

Saat itulah justru air mata Zaqy semakin deras membanjiri wajah, seakan-akan tak dapat terhenti lagi.

“Apakah saya bermimpi?” tanya Zaqy.
Christian menggeleng, “Memangnya kenapa?” tanyanya.
“Anda dan hanya anda alasannya,” jawab Zaqy.
Christian memegangi wajahnya, “Beneran mirip ayah kamu, ya?” tanyanya lagi.
Zaqy mengangguk, “Bolehkah saya memeluk anda?” giliran Zaqy yang bertanya.
Ragu, Chriatian mengangguk, “Tentu saja,” ucapnya.

Zaqy pun bangun, ia segera mendekap erat seseorang berwajah mirip dengan ayahnya dan menandaskan kerinduan saat itu pula.

Lisa baru saja memegang gagang pintu ketika pintu kamar Zaqy terbuka, seorang lelaki berwajah ramah dengan senyum yang mengembang menyapa Lisa yang sedikit terkesiap itu.

“Rei,” guman Lisa.
Lisa yang baru saja memasuki ruangan Zaqy itu keluar lagi untuk mengejar seseorang yang mirip dengan kakaknya, “Rei!!!” teriak Lisa.

Christian, orang yang dipanggil Lisa, terus berjalan meski Lisa terus memanggil. Akhirnya Lisa mengejar dan meraih tangan Christian, ia lalu berdiri di depannya.

“Kamu Rei, kan?” tanya Lisa.
Christian menggeleng pelan, “Bukan,” jawabnya singkat.
“Kamu pasti Rei,” ucap Lisa bernas keyakinan.
Kali ini Christian tersenyum, “Tadi anak di dalam kamar itu juga berkata kalau saya mirip dengan ayahnya, apakah semirip itu?” tanyanya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

2 tanggapan untuk “Petualangan Lima Elemen : 2.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s