Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 3.

Lisa mengangguk, “Ya. Ayah dari anak di dalam ruangan itu adalah kakak saya, dan itu adalah anda.” ucapnya.

Masih dengan tersenyum, Christian pamit dan berjalan melewati Lisa yang terisak-isak.

“Kamu bisa membohongi siapapun, tetapi kamu tidak bisa membohongi aku, Rei. Kita sudah sama-sama sejak kecil,” kata Lisa.

Christian menghentikan langkahnya, ia berjalan ke arah Lisa dan meraih tangannya lantas membawa paksa Lisa berjalan.

“Mau kau bawa ke mana aku?” tanya Lisa.

Christian tak mengindahkan, ia seolah tak pernah mendengar pertanyaan itu.

“Lepaskan, Rei. Tanganku sakit,” Lisa memohon.

Christian masih terus memegangi tangan Lisa, sampai akhirnya mereka tiba di balkon yang sepi dan barulah Christian melepaskan pegangan tangan yang erat itu.

“Kenapa dia terlihat sedih?” tanya Christian.
Lisa menoleh, “Maksud kamu?” tanyanya.
“Zaqy, kenapa dia terlihat sedih?!” tanya Christian setengah berteriak.
Lisa menunduk, “Kamu sakiti dia?” tanya Christian lagi.
“Jadi, kamu memang beneran Rei, kan?” Lisa justru balik bertanya.

Christian memalingkan pandangan, sementara dalam benak Lisa berkejaran tentang bagaimana Rei mati hingga upacara pemakaman yang penuh akan polisi dan orang-orang penting.

“Jangan panggil aku Rei,” gumam Christian.
“Kenapa?” tanya Lisa.
“Itu akan membuat kematianku yang kedua kalinya semakin dekat,” jawab Christian.
Lisa nampak terpegan, “Kamu belum menjawab pertanyaanku, Lisa. Kamu sakiti dia? Kamu sakiti Zaqy?” tanya Christian.
Lisa mengangguk pelan, sementara Christian memegang erat kedua pundak Lisa setelahnya, “Kenapa?!” teriaknya.

“Ayah,” gumam Zaqy.
Senyuman nampak menghiasi wajah Zaqy, “Ayah sedang apa di sana? Apakah ayah tahu di sini aku bertemu orang yang mirip sekali dengan ayah?” tanyanya.

Lisa mengelak, ia melepaskan pegangan erat yang mencengkeram kedua pundaknya itu.

“Dia gak tahu apa-apa, Lis. Kenapa kamu sakiti dia? Kamu itu bibinya,” tanya Christian dengan berurai air mata.
“Maaf,” gumam Lisa.
“Saat kamu mati, kamu tidak punya dan meninggalkan apa-apa selain lencana dan seragam. Kami sangat miskin saat ini, Han tidak kunjung naik jabatan dan bahkan suatu hari aku pernah…”
“Pernah apa?” tanya Christian.
Lisa menggelengkan kepalanya, “Aku pernah mengusirnya namun Han membawanya kembali,” jawab Lisa masih menunduk.
“Kurang ajar!” teriak Christian, tangannya nampak melayang.

Lisa memejamkan mata, ia bergidik ngeri mendengar kakaknya yang berteriak sembari mengumpat pun tangan kakaknya itu di udara.

✳✳✳

Di kantin kantor kepolisian…

“Lin, apalah kau percaya dengan penuturan atasan kita?” tanya Han.
Lelaki berseragam yang bermana Lin itu mengangguk, “Aku percaya, tapi tidakkah itu terlalu aneh? Bumi diserang alien? Aku tak akan dapat mempercayai itu,” ucapnya.
“Kalau kau?” Lin balik bertanya.

Dalam benak Han saat itu justru terputarkan kenanan tersuram sekaligus teraneh yang tak dapat ia jelaskan.

Waktu itu…

Han dan Rei ditugaskan untuk mengamanankan distrik paling sepi di negaranya setelah berhembus isu tentang kedatangan tornado. Han dan Rei yang dibantu para relawan dengan sigap mengevakuasi orang-orang sebelum tornado itu datang. Namun ada yang terlewat karena kecerobohan keduanya atau memang karena saat itu mereka tengah panik, beberapa rumah masih berpenghuni sementara tornado sudah semakin dekat.

“Han, kau evakuasi orang-orang di dalam rumah itu. Aku akan coba menahan tornadonya,” ucap Rei.
Dahi Han berkerut, “Apa kau sudah gila? Dengan apa kau akan menahannya? Kita tak akan ke mana-mana, lagian kau tahu sendiri kita sudah tidak bisa menyelamatkan mereka. Mungkin orang-orang di dalam rumah itu sudah takdirnya dimatikan,”
Rei menatap Han lekat-lekat, “Percayalah padaku, kali ini saja. Waktu kita tidak banyak,” ucapnya lirih namun sungguh.

Karena kesal, Han menuruti saja perintah Rei yang aneh dan menantang maut itu. Han mengetuki satu persatu pintu, ia lantas membawa orang-orang yang tertinggal itu ke pengungsian.

Di perjalanan itulah ia melihat Rei terbang, “Apa-apaan itu!” teriaknya seraya menginjak rem.
Sontak orang-orang dalam mobil terkaget, “Ada apa, Komandan?” tanya seseorang.

Han mendongak, ia memandangi langit. Di atas sana Rei sudah tak terlihat lagi.

“Maafkan saya, saya hanya terkejut,” ucap Han, ia pun melanjutkan perjalanan.

Han menunggu Rei di tempat pengungsian, namun Rei tak pernah datang. Sampai terdengarlah sebuah berita, bahwa Reinold Serguev, rekan kerjanya, mati setelah tubuhnya terbawa tornado yang sekaligus menghancurkan distrik tersepi itu.
Kenangan itu tak akan pernah dapat Han lupakan, terkadang ia juga menyesali kebodohannya tentang kenapa ia tak mencegah Rei dan kukuh pada pendiriannya sendiri saja.

Lin menepuk pundak Han hingga Han terkesiap, “Aku sih, percaya gak percaya,” jawab Han, akhirnya.
“Intinya kita harus menuruti apapun yang diperintahkan atasan, biar kita bisa tetap di kantor dan pakai seragam kebanggan kita ini,” kata Lim.
“Dan kita harus bergerak serta berpikir cepat kalau alien-alien itu benar-benar tiba,” kata Han, “biar tidak ada lagi yang mati.” lanjutnya dalam hati.

Han tersenyum, ia kembali melanjutkan makan siangnya.

✳✳✳

Han terkesiap melihat dua orang yang berpegangan tangan di depan sana, ia yakin wanita yang tangannya digenggam itu adalah Lisa istrinya. Han setengah berlari ke arah keduanya, ia baru saja akan menyentuh pundak lelaki di sebelah Lisa ketika keduanya menoleh karena mendengar suara langkah memburu.

“Han,” gumam Lisa.
“Rei,” guman Han, matanya membelalak dan mulutnya menganga.
“Itukah kau, Rei?” tanya Han.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s