Diposkan pada Cerpen

Kupu-kupu Kuning

Jakarta tertidur malam itu, Ardi hanya ditemani tumpukan berkas yang menggunung di dasbor mobilnya selain angin malam. Sesekali Ardi akan menegok ponselnya barang sekejab, sekedar melihat siapa yang memanggilnya di jam pulang malam itu.
Ardi yang sekarang adalah seorang karyawan di suatu perusahaan, tak ada yang tersisa dari profesinya di masa lalu selain seragam dan beberapa foto usang yang menunjukan bahwa dirinya dahulu adalah seorang polisi. Semua lencana telah diambil atasannya, lencana yang didapatkan lantaran pandai mengungkap kasus dan menangkap penjahat. Pada akhirnya ia dibebastugaskan karena terlalu sibuk menyelidiki hilangnya sang istri di sebuah hutan, sampai sekarang jasad istrinya belum juga ditemukan.

Ardi menoleh ketika ponselnya lagi-lagi berdering nyaring, ia membaca sekilas nama yang tertera di layar persegi itu, “My Boss”. Ardi segera mengangkatnya, akan tetapi mobilnya berguncang hebat sebelum Ardi berbicara, segala sesuatunya menjadi gelap.

“Halo! Ardi? Halo!”

Suara klakson berbunyi terus-menerus, Ardi sempat terjaga dan melihat mobilnya ringsek lantaran menabrak pohon. Ia kemudian memegang kepalanya yang berdenyut nyeri, ia melihat telapak tangannya yang terasa basah. Darah. Ardi melihat seekor kupu-kupu berwarna kuning menyala, lalu samar-samar bayang seseorang berwajah mirip istrinya, sesaat kemudian ia kembali menutup mata.

✳✳✳

Ruang persegi bercat putih itu penuh aroma kimia, Ardi terbangun dari tidur panjangnya dan menyadari tangannya tergenggam oleh seorang yang tertidur di kursi di sebelahnya.

“Firman,” gumam Ardi.
Seorang anak lelaki berseragam putih abu-abu itu terkesiap dan langsung terjaga, “Ayah, bagaimana keadaan Ayah? Apa yang terjadi?
Ayah baik-baik saja, kan?” tanyanya tergesa.

Ardi hanya tersenyum, denyutan di kepala itu kembali terasa dan simpul senyum di wajahnya segera menghilang.

Sontak Ardi memegangi kepala penuh perban itu, “Ayah kenapa?” tanya Firman lagi.

Firman menghambur, dalam kepanikan itu ia berlari sembari memanggil; dokter, suster dan siapa saja yang ia harap dapat menolong ayahnya. Anehnya tak ia temukan siapapun di sana, semua orang seperti lenyap menyatu bersama dinginnya angin pagi.
Sementara itu di dalam ruangan, Ardi memandangi kupu-kupu warna kuning yang menyala-nyala. Kupu-kupu itu membuat hati Ardi tenang, bahkan ia sama sekali tak ingat dengan sakit kepalanya. Sayangnya kupu-kupu itu segera menghilang, berganti hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduk Ardi berdiri.

“Astaga!” Ardi terkesiap bukan main ketika melihat seseorang wanita yang memakai pakaian serba putih berdiri di depan ranjangnya.
“Siapa kamu?” tanyanya.
Wanita itu mendongak, nampaklah wajah pucat disertai luka di kedua mata serta leher, “Apakah itu kamu, Shani?” tanya Ardi, kedua matanya berkaca-kaca.
Wanita bernama Shani itu mengangguk, “Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau tak pernah pulang? Matamu, lehermu itu, kenapa?” tanya Ardi lagi.

Shani menunjuk ke arah pintu, saat itulah pintu itu terbuka dan Firman masuk.

Ardi menoleh, “Firman, lihatlah! Ini ada ibumu,” ucapnya dengan wajah berurai air mata.
Dahi Firman berkerut, “Ini,” Ardi menunjuk ke arah depan.

Saat itulah jutru Shani lesap, sementara Ardi nampak kebingungan kenapa Shani bisa tetiba hilang begitu.

“Mungkin ayah kamu masih syok dengan kejadian tadi malam, hingga ia berhalusinasi bahwa istrinya ada di ruangan ini,” kata dokter, menjelaskan.
Firman tersenyum, “Tadinya saya pikir beneran ibu saya pulang, tapi itu tidak mungkin. Polisi sudah memastikan kalau ibu saya telah di makan beruang dan hewan sejenisnya di hutan tiga tahun yang lalu,”
“Kamu yang sabar, ya!”

Dokter itu berlenggang pergi, sementara Firman larut dalam kesedihan mengingat mendiang ibunya.

Shani yakin pernah melihat penunjuk arah di pertigaan menuju puncak gunung Mangu, ia juga yakin harusnya jalan menuju puncak adalah berbelok ke kanan, namun yang ada justru sebaliknya. Seseorang menepuk pundak Shani, ia adalah rekan kerja Shani sekaligus rekan kerja suami Shani. Shani berpikir mungkin ia hanya tengah lupa, sebab terlalu lama tak menjejakkan kaki di gunung yang tak seberapa tinggi itu.
Namun kecurigaan Shani beralasan, ia bukannya sampai puncak malah sampai di hutan pinus.
Shani merasakan mulutnya dibekap, ia mengelak namun tangan-tangan besar itu terlalu kuat untuk ia kalahkan. Selanjutnya Shani melihat sebuah golok, besar dan berkilau. Golok itu terasa dingin ketika menyentuh kulit lehernya, Shani merasakan sakit yang teramat sakit selain pakaiannya yang basah dan nafas yang perlahan-lahan tersekat. Ia jatuh tersungkur, seseorang membalik tubuh Shani, seseorang yang amat Shani kenal. Orang itu memegang pisau kecil, ia menyeringai sebelum menancapkannya tepat di kedua mata Shani.
Semuanya gelap, Shani tak merasakan apa-apa lagi selain tubuhnya yang dingin. Di ambang kematian itu ia mengingat anak semata wayangnya, Firman, yang juga sering mendapatkan perlakuan tidak enak dari orang yang misterius. Firman pernah pulang dengan babak belur, kadang kaki atau tangannya patah. Yang paling parah, Firman pernah tertabrak mobil hingga kritis. Shani sadar, bahwa profesinya dan profesi suaminyalah yang melahirkan ironi-ironi itu, yang kini menimpa dirinya sendiri.

Ardi terjaga dengan kedua mata membelalak, keringat memenuhi kening dan seluruh wajahnya. Nafas dan debaran jantungnya pun tergesa.

“Ada apa, Yah?” tanya Firman yang terkaget-kaget.
Ardi menoleh, “Antarkan ayah ke gunung Mangu, sekarang.” ucapnya, tatapan matanya nampak serius.

Firman menelan ludah, seharusnya ayahnya adalah orang yang paling tahu bahwa seorang yang belum memiliki sim tak boleh berkendara, akan tetapi sang ayah malah menyuruhnya mengendara. Akan tetapi Firman juga tahu, ia tak mungkin menolak apapun itu keinginan sang ayah.

Dengan kesusahan, Ardi yang dibantu Firman itu mendaki gunung Mangu sampai di pertigaan menuju puncak. Firman protes ketika ayahnya belok kiri, akan tetapi Ardi yakin ia harus belok ke kiri.
Di sana, di hutan pinus yang sepi itu muncul kupu-kupu warna kuning menyala. Sesaat kemudian, muncul sosok Shani, ia segera menunjuk ke sebuah gua yang terletak di dekat sana.

“Apakah ayah berencana untuk masuk ke sana?” tanya Firman.
Ardi mengangguk, “Tentu saja, dulu ayah ini polisi dan polisi itu seorang yang pemberani.” ucapnya seraya melangkahkan kaki.

Ragu, Firman mengikuti ayahnya memasuki gua. Ia dan sang ayah terkejut sebab di dalam sana terdapat banyak tanaman berbau wangi, mereka sama-sama yakin baru pertama kali melihat dan mencium tanaman itu.
Mereka menelusuk, aroma wangi dari tanaman berubah menjadi bau yang tak dapat dijelaskan. Sangat berbeda.

Kedua tungkai Ardi lemas selain degup jantung yang tak lagi dirasa, “Shani,” gumamnya, setetes air mata mengaliri wajahnya.
“Ibu!!!” teriak Firman.

Firman berlari namun Ardi menghadangnya, selanjutnya Ardi membenamkan tubuh anak semata wayangnya itu ke dalam dekapannya.

Ardi melihat kupu-kupu warna kuning sekali lagi, ia kemudan melihat Shani yang kali ini tersenyum sebelum hilang lagi.

#EmpisEmpisTemanggung

#Empisher

#1pekan1tulisan

#TemaMutasi

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

4 tanggapan untuk “Kupu-kupu Kuning

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s