Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 4.

Lisa memegang kedua tangan Han, “Jangan panggil nama dia yang dulu,” katanya.
Christian tersenyum, “Namaku kini, Christian,” katanya seraya menepuk lengan Han.
Han menunduk, sejurus kemudian ia mendongak dan menghambur. “Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku, aku memang bodoh. Seharusnya aku tak membiarkanmu pergi saat itu, aku…
“Han?” Christian melepas pelukan Han, ia menatap Han dan menemukan kesedihan di mata sahabatnya itu.
“Semua itu bukan salahmu, itu sepenuhnya salahku,” kata Christian.

Tidak ada yang bisa Han katakan dan lakukan lagi, kecuali memeluk kembali Christian dan menandaskan kerinduan.

“Memangnya harus Zaqy, ya?” tanya Han seraya menoleh ke arah Zaqy yang tengah tertidur lelap.
Christian mengangguk, “Sayangnya, iya,” jawabnya seraya menunduk.
“Dia sudah banyak menderita,” kata Han seraya melirik ke arah Lisa yang langsung menunduk begitu Han mengatakannya.
Christian tersenyum, “Aku percaya, kalian pasti merawatnya dengan baik,” katanya seraya merangkul sepasang suami istri di kiri dan kanannya itu.

Lisa menunduk, ia merasa tak pernah merawat keponakannya dengan baik. Bahkan, ia terkesan menyiksanya.

✳✳✳

Han memeluk Zaqy, “Berjanjilah kamu akan pulang. Ayah juga akan membuat janji, jika kamu pulang ayah pasti membuat kamu kuliah,” ucapnya seraya terisak.
Zaqy mengangguk, “Saya pasti kembali,” katanya seraya melepas pelukan tererat itu.

Lisa menatap Zaqy, Zaqy melakukan hal yang sama. Mereka bertahan seperti itu tanpa kata, tanpa suara.

Lisa melangkahkan kaki. Perlahan, ia meraih tubuh Zaqy lantas membenamkan dalam pelukannya, “Maaf,” hanya kata itu yang terucap dari mulut Lisa.

Zaqy tersenyum, itulah kali pertama ia dipeluk oleh sang tante dan pertama kali pula bagi dirinya merasakan kasih sayang yang belum pernah didapatkan selama tinggal di rumah. Zaqy sungguh sangat bahagia.

“Berjanjilah kau akan membawanya pulang kepadaku, aku berjanji akan merawatnya dengan baik kali ini. Aku akan bekerja, aku akan punya uang, aku akan melakukan apapun. Jadi…”
Christian menepuk punggung Lisa beberapa kali, “Aku tahu,” katanya pelan.

Christian berusaha melepas pelukan Lisa, akan tetepi Lisa tak mau lagi melepaskan kakaknya pergi, tidak untuk kedua kalinya.

“Aku harus pergi,” gumamnya, “sekarang.”
Lisa menggelang, “Kau belum berkata bahwa kau berjanji,” ucapnya.
“Baiklah, Lisa. Aku berjanji. Tapi, jika kau nanti menyakiti Zaqy lagi, aku pun akan hidup lagi dan akan membalas semua perbuatanmu,” kata Christian.
Lisa melepas pelukan eratnya, “Aku tidak akan menjadi bodoh seperti kamu,” katanya seraya tersenyum.

Zaqy dan Christian melambaikan tangan, Han dan Lisa melakukan hal yang sama dan kereta bawah tanah itu melesat secepat kilat meninggalkan stasiun yang dipenuhi haru.

“Aku sangat menyesal, sungguh,” ucap Lisa.
Han mendekap Lisa, “Tak apa, aku tahu kamu memang aslinya berhati baik. Aku selalu percaya itu,” katanya.
“Sekarang aku takut ia tak kembali. Ah, sungguh aku sangat ingin membuatkannya masakan yang enak,” kata Lisa lagi, kali ini seraya terisak-isak.

Han menepuk punggung Lisa beberapa kali, berharap hal itu dapat membuat Lisa merasa sedikit lebih baik.

Sementara itu, di dalam kereta Zaqy terus menerus memandang Christian tanpa henti, ia melakukan itu karena ia masih percaya bahwa orang yang ada di hadapannya adalah sang ayah versi cupu.

Seolah mengerti isi kepala Zaqy, Christian pun bertanya, “Kamu masih mengira aku ayahmu, ya?” tanyanya.
Zaqy mengangguk dan seperti biasa matanya berkaca-kaca, “Jangan memikirkan hal yang tidak penting, sekarang ini kamu adalah seorang Elemen, kamu harus fokus pada keselamatan umat manusia yang terancam,” kata Christian penuh penekanan.
Zaqy baru saja akan mengungkapkan perasaan kesalnya ketika Christian menepuk kedua pundaknya, “Mulai sekarang, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Anggap saja aku manusia paling menyebalkan di dunia, aku tidak mirip sama sekali dengan ayahmu dan kau harus menjadi lebih kuat lagi.” Christian mengatakannya dengan berurai air mata.
Zaqy mengangguk beberapa kali, “Sekarang tidurlah. Saat kau bangun nanti, lakukanlah apa yang aku katakan,” ucap Christian lagi, kali ini sembari menyeka air mata.

Zaqy memejamkan mata setelahnya, sementara itu Christian memalingkan pandangan kepada kota-kota yang mulai berganti hamparan rumput nan hijau.

“Ah, kenapa kepalaku terasa sangat sakit?” tanya Zaqy seraya memegangi kepalanya.
Christian menoleh, “Itu berarti ingatanmu yang hilang adalah yang paling berarti bagimu,” gumamnya.
“Apa?” tanya Zaqy.
Christian menggeleng setelah tersadar, “Ah, tidak. Mungkin karena perjalanan jauh, kau pasti belum pernah melakukan perjalanan jauh sebelumnya kan?” tanyanya.
Zaqy menggeleng pelan, “Iya, sih. Memangnya kita mau ke mana dulu?” tanyanya.
“Bandung.” jawab Christian.

Christian tampak menyoreti kertas yang dipangkunya, di sana ada foto Zaqy.

“Kenapa kau mencoret-coret wajahku?” tanya Zaqy kesal.

Mendengar hal itu Christian semakin bersemangat mencoreti wajah Zaqy dalam lembaran potret itu, sementara itu Zaqy menjadi semakin kesal lagi dan Christian tahu ia telah berhasil atas Zaqy.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s