Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 6.

Borneo

Zaqy takjub dengan pemandangan di kiri dan kanan jalan, ia tak menyangka bila ia akan tiba di tanah di mana ada banyak sekali pepohonan seperti yang tersebut di dalam buku “Tumbuhku Di Kalimantan” sewaktu SD. Kali ini ia tak hanya membayangkan, ia melihat secara langsung dan menikmatinya.

Zaqy dan Christian menoleh ketika Nauval berdeham, “Tolong lepaskan aku, dengan tangan terikat seperti ini aku seperti pencuri yang baru saja kalian tangkap,” ucap Nauval kesal.

Zaqy dan Christian saling berpandangan, sejurus kemudian mereka sama-sama mengangguk.

Christian melepaskan ikatan pada tangan Nauval, “Maaf, aku lupa,” katanya singkat.
“Lupa?” tanya Nauval kian kesal, dari tangannya menyemburat cahaya biru menyilaukan.
Christian melepaskan tangannya dari tangan Nauval, “Jadi mau dilepasin gak, nih?” tanyanya.
“Iya, iya. Maafkan aku, cepat lepaskan!” jawab Nauval.

Zaqy menenteng sebuah tas besar sementara Christian menenteng satu koper setelah koper yang lainnya dibawakan Nauval.

“Biar ku tebak, kita ke sini buat cari pengendali Elemen Air kan?” tanya Nauval.
Zaqy menoleh, “Aku juga berpikiran begitu,” katanya.
“Kalian semua salah, justru kita ke sini untuk menemukan Elemen Api,” jawab Christian.
Mulut Zaqy dan Nauval sama-sama menganga, “Bukankah di pulau ini sering terjadi kebakaran di musim kemarau, karena hal itulah pasti ada pemadam dan ku pikir tadinya itu Elemen Air,” cetus Zaqy.
Nauval mengangguk, “Pengendali Elemen Api ini hampir sama sepertimu,” Christian menunjuk Nauval, “dia menyerap kekuatan dari alam.”

Dari kejauhan terlihat asap tebal membubul tinggi, membuat langit biru berubah abu.

“Kenapa kita memilih penginapan dengan pemandangan kebakaran hutan seperti ini?” tanya Zaqy.
“Ah, kau ini. Masih saja bertanya, apa perlu aku jelaskan lagi?” Christian justru balik bertanya.
“Dasar bocah,” guman Nauval seraya menyeringai.
“Apa katamu!?” teriak Zaqy.
“Bo–cah,” kata Nauval seolah mengeja.
Zaqy meraih kerah baju Nauval, “Kau pikir berapa usiaku hingga kau memanggilku ‘bocah’, heh?” tanyanya kesal.
“17 mungkin,” jawab Nauval.
“Kurang ajar!” hardik Zaqy seraya melayangkan tangan.

Christian menangkap tangan Zaqy, ia memutarnya hingga Zaqy meringis kesakitan.

“Kita tidak punya banyak waktu untuk ini, kemarin kau tidak mau melawan Nauval saat aku suruh,” ucapnya.
“Iya, deh. Maaf. Lepaskan aku, Pak Tua,” ucap Zaqy.
Christian melepaskan genggaman tererat itu, “Kalian boleh istirahat, atau ikut denganku ke sana,” katanya menujuk ke arah asap tebal.
“Harus sekarang, ya?” tanya Zaqy bernada protes.
“Aku kan tadi sudah bilang, kalian boleh istirahat kalau tak mau ikut aku,” jelas Christian.

Christian berada di urutan terdepan, diikuti oleh Nauval dan Zaqy di belakangnya. Mereka mulai memasuki hutan di mana terdapat banyak api selain asap tebal, menyisakan hutan tanpa pepohonan.

“Entah kenapa aku sedih,” gumam Zaqy.
“Aku tahu bagaimana menghilangkan kesedihanmu itu,” kata Christian.

Mereka bertiga saling berhadap-hadapan; Christian memegang tangan Zaqy, Zaqy memegang tangan Nauval dan begitu pula Nauval memegang tangan Christian hingga membentuk lingkaran.

“Zaq, sekarang bayangkan kamu punya kekuatan air yang besar dan saat ini kamu ingin membagikannya kepadaku dan Nauval. Cepat lakukan!” perintah Christian.
Nauval menoleh ke arah Zaqy, “Tidak mungkin. Apakah bocah ini bisa mengendalikan semua elemen?” tanya Nauval dalam hati.
Zaqy mengangguk, “Baik,” ucapnya.

Zaqy pun memejamkan kedua mata, ia menuduk dan masih memegang kedua tangannya ia melakukan apa yang dikatakan Christian.
Dari masing-masing telapak tangan Zaqy, Nauval dan Christian menyemburlah air yang begitu kuat hingga mereka melepaskan pegangan tangan saking kuatnya.

“Yosh! Berhasil. Sekarang giliranku,” ucap Christian.

Christian tampak menghela nafas, ia lantas menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan lantas ke atas. Zaqy dan Nauval terlempar ke awang-awang setelahnya, sementara Christian menyusul mereka.

“Padamkan semua apinya anak-anak!” perintah Christian.

Zaqy dan Nauval tampak sibuk mengarahkan air yang menyembur dari tangannya ke arah hamparan api di bawah mereka, sementara Christian tangan kanannya ikut memadamkan api dan tangan kirinya mengendalikan kekuatan angin untuk membuat dirinya, Zaqy dan Nauval tetap bertahan di udara.

Melihat tiga orang melayang di awang-awang, Lia pun berlari. Ia menghentikan langkahnya ketika mengetahui tiga orang itu tengah membantunya memusnahkan api di hutan yang kian membesar.

“Maaf telah memadamkan api milikmu,” ucap Christian begitu berhadapan dengan Lia.
Lia tersenyum, sementara Zaqy dan Nauval turun dari awang-awang, “Itu api yang diciptakan manusia bodoh, itu bukan milikku,” ucapnya.

Christian terpegan, dalam benaknya ia berpikir tentang putung rokok yang dibuang perumput atau orang yang hendak mengbersihkan lahan tapi malas, keduanya sama-sama merusak dengan membakar hutan.

“Perkenalkan, namaku Christian. Ini Nauval dan ini Zaq…”
Chritian berhenti berkata-kata ketika melihat Zaqy memegangi dadanya, “Kau tidap apa-apa, Zaq?” tanyanya.
Zaqy masih menunduk dan memegangi dadanya, “Ini pasti karena ia menggunakan elemen air,” ucap Nauval.
“Rumahku ada di dekat sini, apakah kalian mau ke rumahku untuk menyembuhkannya?” tanya Lia.
“Boleh,” jawab Christian.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s