Diposkan pada Cerpen

Satsuki-pyon

Seperti hari-hari biasanya, hari ini pun masih sama. Satsuki-pyon terbang ke awang-awang, sayapnya yang indah dan bersinar menyilaukan mata dan dengan tongkat di tangan, ia mencari para orang tua yang dibuang oleh anak atau keluarga di; jalan-jalan, taman bahkan jembatan.

Satsuki-pyon menoleh ketika bunyi tembakan yang nyaring terdengar, ia melesat menuju akhir perjuangan sebelum menapaki bumi. Satsuki-pyon bersedih, akan tetapi ia percaya sebagian besar masyarakat Jepang tak mau lagi melakukan tradisi Ubasute. Ia memang dicintai masyarakat Jepang karena dianggap sebagai pahlawan, terutama bagi orang tua. Tapi tak sedikit pula yang membencinya karena memiliki misi menghilangkan tradisi sejak zaman dahulu itu.
Satsuki-pyon merelakan kekuatannya yang tersisa untuk menyihir hati dan pikiran semua orang yang belum tergerak, sekalipun dengan hal itu ia akan musnah untuk selama-lamanya. Dengan tongkatnya Satsuki-pyon menunjuk ke langit, secerca cahaya paling terang muncul dari sana dan melesat ke atas sebelum meledak dan langit Jepang dihujani cahaya. Satsuki-pyon memejamkan mata, ia benar-benar bahagia meski harus meninggalkan dunia.

Akhir cerita penuh air mata, para penonton di bioskop itu berhamburan keluar. Sesampainya di luar mereka saling berdekapan, meminta maaf dan membuat janji, janji bahwa mereka akan saling sayang sampai kapanpun.

Satsuki dan Hiromoto tersenyum melihat film hasil kerja sama mereka, tak terpikirkan bila film itu akan menghipnotis banyak orang, mereka hanya berdedikasi.

Hiromoto memeluk Satsuki yang duduk di sebelahnya, “Aku sayang Ibu,” gumamnya.
Satsuki menyeka air matanya, “Aku juga menyayangimu,” ucapnya lirih.

Air mata Satsuki itu berartikan kesedihan dan kebahagiaan. Satsuki bahagia masih memiliki seorang anak, sekalipun tak lahir dari rahimnya. Di sisi lain Satsuki bersedih, ia pasti tengah teringat dengan dua anak kandung yang menemukannya dengan Hiromoto.

✳✳✳

Aku masih terantuk-antuk ketika dua orang yang masih mengenakan seragam: masing-masing polisi dan tentara, masuk ke kamar Satsuki. Mereka tampak berhati-hati mengangkat Satsuki yang tengah tertidur lelap itu. Mereka lantas keluar dan masih ogah-ogahan, aku mengekor di belakang mereka.

“Mau dibawa ke mana Satsuki?” tanyaku, sayang kedua lelaki berseragam itu tak bisa mengerti bahasaku. Seolah tau aku akan kembali menanyakan hal yang sama, Si Polisi menoleh, “Sssttt!” katanya seraya meletakkan kelingking di bibirnya.

Aku pun terdiam, sebab seperti biasa revolver selalu ada di sebelah kanan pinggulnya.

Satsuki dimasukkan ke dalam mobil, lengkap dengan selimut tebal, buku catatan dan aku. Aku menerka-nerka pikiran kedua anak Satsuki, aku harap apa yang aku pikirkan tak pernah benar. Tapi memang seharian ini Satsuki seolah sengaja dibuat lelah, ia harus banyak memasak untuk pesta ulang tahun cucunya yang ke empat. Padahal aku sangat yakin, ulang tahun cucu ke empat Satsuki harusnya dilakukan satu minggu lagi, tepatnya pada 12 juni. Imbasnya ia lelah di malam hari, ia pun tertidur begitu lelap.
Satsuki masih saja terlelap, meski mobil berguncang-guncang karena memasuki jalan berbatu. Bahkan ia yang biasanya bangun mendengar panggilanku pun tak bangun, ia benar-benar lelah.

Si Polisi menoleh ke belakang, ada sedikit raut penyesalan di wajahnya sebelum wajah itu dipukul oleh Si Tentara.

“Sudah. Ayo, cepat lakukan!” perintah Si Tentara sembari menunjuk keluar.

Si Polisi mengeluarkan Satsuki dari mobil dengan hati-hati, ia meletakkan Satsuki di bawah pohon yang rindang lantas menyelimuti tubuh Satsuki dengan selimut tebal. Ia pun meletakkan buku catatan Satsuki di sana, tangannya nampak sigap mengusap ujung mata sebelum masuk ke dalam mobil. Sementara Si Tentara membopongku, ia pun hendak meletakkan aku di dekat Satsuki tapi aku mengelak dan melompat ke dadanya. Aku merobak wajahnya hingga berdarah-darah dan ia sontak melemparku hingga kakiku terbentur batu. Si Tentara yang naik pitam dan meringis kesakitan itu meraih dan mengarahkan revolver ke arahku, ia baru saja akan menarik pelatuknya ketika aku memejamkan mata. Aku mendengar suara benda terjatuh, aku membuka mata dan melihat Si Polisi tengah membujuk Si Tentara untuk masuk ke mobil, melupakan niat buruknya membunuhku.

Mobil itu berjalan menjauhiku dan Satsuki, aku mencoba berlari tapi kurasakan sakit yang luar biasa di kaki. Saat aku melihat, kakiku berdarah dan aku kesal karena tak bisa mengejar kedua anak durhaka itu.

“Dasar anak durhaka! Kalian ini pakai seragam tapi melakukan hal yang tidak baik. Aku bersumpah akan mencakar kalian kalau sampai kita bertemu lagi, aku pastikan luka yang saat itu akan sangat sakit. Dasar kalian, tentara durhaka!!! Polisi durhaka!!!” makiku meski hanya aku yang tahu.

Salju turun saat aku selesai menandaskan kekesalan dengan berteriak, aku langsung teringat Satsuki dan menghampirinya.

Satsuki sedikit terkejut ketika aku mencakarnya pelan. Percayalah, aku telah memanggilnya berulang-ulang namun ia tetap tak bangun. Aku harap ia mahfum, seperti waktu sebelumnya saat Satsuki aku bangunkan.

Satsuki bangkit, memandang berkeliling dengan terheran-heran dan melihat kepadaku. “Jadi apa yang aku tulis jadi kenyataan?” tanyanya.
“Iya, mereka telah membuangmu,” jawabku.
Satsuki tersenyum, “Tak apa, Hoshi. Aku memang butuh suatu riset untuk menceritakan akhir cerita yang kubuat. Mulai sekarang, kita anggap saja kejadian ini sebagai riset. Kamu mau menemaniku, kan?” tanyanya lagi dengan berurai air mata.
“Tentu saja,” jawabku.

Satsuki meraih buku catatannya, ia kemudian menggendongku dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal. Malam itu Satsuki berjalan kedinginan di bawah guyuran salju, ia tak punya tempat tujuan sama sekali.

Satsuki melambaikan tangan kepada mobil yang melintas, tapi tak satupun yang berhenti dan menengok seperti apa membekunya ia dan diriku malam itu. Satsuki menjatuhkanku, aku meringis kesakitan karena meski aku siaga, tetap saja luka di kakiku ini membuatku seolah payah. Aku pun meringis kesakitan, dan aku baru saja akan protes ketika Satsuki jatuh ke arah gundukan salju.

“Tolong!!!” teriakku, sontak.

Tetap saja tidak ada mobil yang berhenti, lagi pula di mana ini? Apakah ini masih di Jepang?

Sorot lampu menyilaukan mataku, seorang tergopoh-gopoh keluar dari mobil dan menghampiri kami berdua.

“Apakah anda baik-baik saja?” tanya orang itu.

Lelaki yang mengangat tubuh Satsuki itu berwajah ramah, aku menerka ia bukan seorang polisi apalagi tentara. Ia pun membopongku dan memasukkanku ke dalam mobil. Lelaki itu melajukan mobilnya sedikit cepat membelah dinginnya malam.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.
Lelaki itu menoleh, “Astaga, kakimu terluka!” ucapnya.
“Seorang tentara telah melemparku hingga kakiku terbentur batu,” kataku.
“Tenanglah, kita juga pasti akan ke dokter hewan untuk mengobati lukamu itu,” katanya lagi.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Kenapa kalian di luar rumah di cuaca dingin seperti ini? Apakah mungkin…” pertanyaan lelaki itu menggantung.
“Jika kau menebak Ubasute, kau benar. Kau tahu, Satsuki sebenarnya sedih, tapi ia selalu tersenyum dan berbohong kepadaku,” kataku seraya menoleh ke kursi belakang.

Gedung, lorong koridor dan ruangan bercat putih, lelaki itu memilih untuk menemaniku ketimbang menemani Satsuke yang masih memejamkan mata. Padahal aku sudah menyarankan agar ia menemani Satsuke saja, aku hanya sakit kaki sementara Satsuke barangkali telah hancur hati dan hidupnya.

✳✳✳

“Nama saya Hiromoto, saya menemukan anda di jalanan bersama kucing yang terluka kakinya itu,” ucap Hiromoto memperkenalkan diri seraya menunjuk ke arahku.
Satsuki tersenyum, “Terima kasih,” ucapnya.
“Apa yang terjadi kepada anda?” tanya Hiromoto.

Satsuki pun diingatkan lagi, tak ayal ia menangis. Hiromoto yang menanyakan pertanyaan itu menyesal, ia mendekap Satsuki saat itu juga.

“Tak apa, ada saya di sini,” kata Hiromoto.

✳✳✳

Aku dan Satsuki memasuki rumah bercat cokelat yang lebih pantas disebut gedung saking besarnya. Di lantai, banyak sekali berserakan kertas-kertas dan Satsuki mengambil salah satu dari kertas-kertas itu.

Satsuki mengerutkan dahi, “Kamu seorang penulis?” tanyanya.
Hiromoto mengangguk, sejurus kemudian ia menggeleng pelan, “Saya pembuat film,” jawabnya.

Satsuki tak mengindahkan, ia masih sibuk membaca naskah dalam genggaman.

“Cerita ini sangat buruk,” cetus Satsuki.
Hiromoto yang tengah meneguk air minum itu tersedak lalu terbatuk-batuk, “Maaf?” tanyanya.
Satsuki memandang Hiromoto dengan berani, “Aku bertaruh kau pasti pembuat film yang payah, dan filmmu hanya ditonton beberapa orang saja,”
Hiromoto menunduk, “Anda benar,” gumamnya.
Satsuki berjalan menghampiri Hiromoto, “Coba kau baca ini,” katanya seraya menyodorkan buku catatan miliknya.

Hiromoto meraih buku itu dan duduk di sofa sebelum mulai membuka lembar demi lembar.

“Oh, iya. Di mana ibu dan ayahmu?” tanya Satsuki.
Hiromoto mendongak, terlihatlah simpul senyum tapi senyum itu terlihat seolah membendung air matanya, “Mereka sudah tidak ada,” jawabnya.
“Maaf,”

Hiromoto mengalihkan pandangan kepada buku yang usang itu, ia membuka sampul dan mulutnya menganga melihat judul cerita yang ada di sana, “Satsuki-pyon”.

“Jangan berkomentar sebelum kamu selesai membacanya,” kata Satsuki, seolah tahu apa yang dipikirkan Hiromoto.
“Aku akan membuatkanmu masakan sebagai rasa terima kasihku. Oh, iya. Kau juga boleh menganggapku sebagai ibumu hari ini,” katanya lagi seraya tersenyum.
Hiromoto sontak menoleh, “Terima kasih,” ucapnya.

Hiromoto membaca cerita dalam buku itu, sementara Satsuki mengumpulkan bahan-bahan untuk memasaknya.

✳✳✳

Satsuki turun dari mobil, tentu saja sambil membopongku. Dari jauh kami tetap bisa melihat dengan jelas Si Tentara dan Si Polisi saling mencium kening anak dan istri masing-masing sebelum pergi. Aku merasakan bulir-bulir air menetesiku, ketika aku mendongak, aku melihatnya menangis lagi. Aku mencoba melepaskan diri, dendamku kepada Si Tentara dan Si Polisi masih ada dalam dada. Tetapi Satsuki mendekapku erat, aku pun tak bisa apa-apa. Ia membawaku masuk ke dalam mobil, mendapati Hiromoto yang geleng-geleng kepala dan berdecak keheranan.

“Tak apa, Hiro. Ibu rela, apalagi ibu sudah punya kamu,” kata Satsuki seraya menepuk pundak Hiro.
Hiro menoleh, “Kalau saja boleh; saya ingin turun, memukuli mereka dan melepas seragam yang mereka pakai itu. Ah, sungguh mereka sama sekali tak pantas memakainya!” ucap Hiromoto, kesal.
“Aku juga!” tak mau kalah, aku pun berseru.
“Sudahlah, kita pergi saja,”

Mobil itu melaju menuju semua jalanan di Jepang, Hiromoto sesekali menoleh ke arah Satsuki dan tersenyum.

“Ada apa?” tanya Satsuki.
Senyum Hiromoto semakin ranum, ia menepikan mobilnya dan menoleh, “Saya berencana membuat cerita dalam buku catatan Ibu menjadi film, boleh?” tanyanya.
“Tentu saja,” kata Satsuki, di wajahnya tergambar simpul senyum dan menutupi kesedihannya.
“Yosha!!!” teriak Hiromoto sambil memukul awang-awang.

Ada sesuatu yang hilang, yang paling berharga dalam hidup Satsuki. Tapi Tuhan melahirkan kebahagiaan yang lainnya dan aku percaya, yang kali ini akan membuatnya lebih bahagia. Malam itu, di bawah guyuran salju yang masih betah berlama-lama membekukan Jepang, kami tertawa bersama. Tentu saja mereka tak tahu kalau aku turut tertawa.

Selesai

#EmpisEmpisTemanggung
#Empisher
#1pekan1tulisan
#TemaRela

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s