Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 7.

Rumah Lia cukup besar untuk ditinggali sendiri, di depan rumahnya ada sebuah gazebo dan mereka membaringkan Zaqy di sana.
Zaqy tergeletak di gazebo dengan kedua mata terpejam, sedang; Christian, Nauval dan Lia ada di sekelilingnya tengah bercakap-cakap.

“Aku tidak menyangka kalau kekuatanku ini pada akhirnya akan berguna bagi dunia,” ucap Lia.
“Di hutan ini pun sudah berguna padahal,” kata Christian.
“Jadi ini si Elemen Api,” batin Nauval.
“Lalu bagaimana, kamu mau kan gabung bersama kita?” tanya Christian.
Lia mengangguk, “Tentu saja, aku akan dengan senang hati menerima tawaran ini. Terlebih sekarang di hutan ini semua api sudah aku serap, aku bisa lebih tenang sekarang,” jawabnya.

Lia memandangi wajah Zaqy ketika Christian dan Nauval pergi dari gazebo itu. Lia menemukan keteduhan di sana, namun saat itu pula api cintanya membara.

Lia mengusap rambut yang memenuhi kening Zaqy, saat itulah Zaqy terbangun. Karena terkesiap, Lia malah mengeluarkan elemen apinya hingga membakar rambut Zaqy. Zaqy mencoba mengeluarkan elemen air, namun yang keluar malah angin yang berhembus kencang dan membuat api kian membesar. Zaqy semakin panik, sepanik Lia yang hanya melihat peristiwa tragis itu. Zaqy tidak menyerah, ia mengeluarkan elemennya lagi dan kali ini benar-benar air yang keluar. Api itu pun akhirnya padam, akan tetapi rambut Zaqy sudah tak berbentuk lagi.

“Apa yang kau lakukan, sih?!” tanya Zaqy kesal.
Entah kenapa dada Lia terasa sangat sakit ketika Zaqy memakinya, “Maaf, aku hanya…”
“Ada apa sih ini?” tanya Christian dari kejauhan.

Zaqy membuka kening yang ia tutupi dengan telapak tangannya, sontak saat itu pula Christian dan Nauval tertawa terbahak-bahak.

“Dasar bocah,” kata Nauval di sela tertawanya.

Zaqy mengarahkan tangannya, sejurus kemudian Nauval telah terpental jauh hingga membentur pohon. Nauval terdiam, namun bukannya meringis kesakitan, ia justru kembali tertawa. Ia menertawakan Zaqy dengan rambut barunya itu.

“Aku sudah tidak tampan lagi,” guman Zaqy.
Lia tersenyum, “Ya, mau gimana lagi. Inilah solusinya,” Christian meletakkan alat pencukur yang digunakan untuk memelontos rambut Zaqy.

Lia kembali tersenyum melihat Nauval dan Zaqy yang terus bertikaian sejak tadi, Nauval terus menertawakan Zaqy dan Zaqy bahkan terus menerus mengeluarkan semua kekuatan elemennya.

“Kamu bahagia banget kayaknya,” ucap Christian yang duduk di sebelah Lia.
Lia menoleh, “Aku sudah lama gak sesenang ini, terakhir kali…”
“Hari ulang tahun sebelum rumah kamu yang lama terbakar,” tukas Christian.

Lia terpegan, ia kembali diingatkan dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Hari itu adalah hari di mana ia berulang tahun yang kelima belas.

Lia baru saja akan meniup lilin ulang tahun bertuliskan angka 15 ketika bunyi gaduh terdengar dari ruang luar. Ketika ayah Lia mengintip melalui jendela, ia malah terkena lemparan batu tepat di kepala hingga berdarah-darah.

Ayah Lia yang kembali ke ruang dilaksanakannya ulang tahun itu tentu membuat Lia dan ibunya khawatir, “Ada apa, Yah?” tanya Lia, sontak.
Sang ayah tersenyum, “Tidak ada apa-apa sayang,” jawabnya.

Lia meneteskan air mata melihat wajah yang ayah penuh darah, darah itu pula telah mengototori kemeja putih ayahnya.

“Sepertinya fitnah itu telah menyebar,” gumam ayah Lia.
Ibu Lia nampak gugup sembari terus mendekap Lia erat, “Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.

Ayah Lia merasakan nyeri di kepalanya semakin sakit, terlebih ketika ia mendengar; suara kaca terpecah berulang-ulang, pintu yang terus digedor-gedor dan teriakan para warga yang bersumpah akan membakar rumah bila penghuninya tidak keluar.

“Gunakan kekuatanmu!” perintah ibu Lia.
Ayah Lia menggeleng pelan, “Kekuatan ini bakal hilang kalau aku gunakan untuk sesuatu yang membahayakan orang,” katanya.
Ibu Lia megacak-acak rambutnya sendiri, “Apa tidak ada cara lagi? Kita di sini atau keluar pasti sama saja, warga pasti membunuh kita,” tanyanya kian panik.
Sementara itu Lia hanya bisa terus menangis sembari melirik sekilas lilin yang mulai tak berbentuk itu, “Sebenarnya ada satu cara,” cetus ayah Lia, “Lia akan selamat kalau aku menurunkan kekuatan apiku, tapi kita…”
“Kita akan mati?” tanya ibu Lia.
Ayah Lia mengangguk, “Mau bagaimana lagi, aku akan melakukan apapun sekalipun mengorbankan nyawaku sendiri. Demi Lia, aku rela,” ucapnya.

Dari luar, terlihat rumah kayu yang terisi oleh; Lia, sang ayah dan ibu terbakar. Semua orang berseru kegirangan ketika sama-sama yakin bahwa keluarga dengan isu keluarga penyihir itu telah mati. Akan tetapi kegembiraan berubah ketakutan, tatkala Lia keluar dari rumah dengan pakaian yang terbakar tetapi tubuhnya baik-baik saja. Bahkan Lia terlihat menggenggam api di kedua tangannya, sesekali ia pun melemparkan ke arah warga dan sontak semua orang lari kucar-kacir karena itu.

✳✳✳

“Bagaimana kau bisa tahu hal itu?” tanya Lia yang masih terheran.
Christian tersenyum, “Aku tahu semua, termasuk hati kamu yang selembut salju dan tentang kamu yang menyukai Zaqy,” katanya.

Mulut Lia sontak menganga, sejurus kemudian pipinya berwarna merah merona dan ia memalingkan pandangan.

“Ah, sok tahu deh,”
“Aku memang tahu, Lia. Sejak pertemuan kemarin, kau langsung jatuh cinta. Tidak ada gunanya menutupi semua itu dari diriku si pembaca pikiran,” senyum itu masih bertahan di wajah Chirstian.
Lia memberanikan diri dengan menatap kedua mata Christian, “Tolong jangan beri tahu Zaqy. Setidaknya biarkan aku yang mengatakannya sendiri nanti,” Lia mengucapkannya seraya merapatkan kedua telapak tangan, memohon.
“Aku tidak janji,”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s