Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 8.

Dengan luka di sekujur tubuh itu, Zaqy masih mencoba berlari. Langkahnya yang terseok-seok membuat ia mudah untuk ditemukan. Orang-orang yang juga menenteng balok kayu itu menangkap Zaqy, mereka menjatuhkan Zaqy sebelum memukuli Zaqy dengan balok yang dibawa. Zaqy mencoba menutupi kepalanya, sambil merintih kesakitan ia memohon meski pukulan itu terus mendarat di tubuhnya bertubi-tubi.

“Zaqy!!!” teriak Lisa seraya bangkit.

Wajah Lisa penuh peluh, nafas dan debaran jantungnya memburu dan ia terus memikirkan seseorang yang baru saja hadir dalam mimpi buruk di tidur siangnya, Zaqy. Hiro yang baru saja pulang sekolah itu berlari mendengar teriakan dari lantai dua, ia melihat pintu kamar Zaqy terbuka dan ia memasukinya.

Sang ibu nampak terpegan di atas ranjang, “Ada apa, Ma?” tanya Hiro panik.
Lisa menoleh, “Ah, gak. Mama cuma mimpi buruk,” jawabnya seraya tersenyum.
“Kenapa mama tidur di kamar Kak Zaqy?” tanya Hiro lagi.
Masih dengan senyum yang mengembang Lisa menjawab, “Tadi mama itu bersih-bersih, terus kelelahan sampai ketiduran,” jawabnya, ia belum berani mengakui bahwa ia merindukan keponakannya itu, kepada Hiro sekalipun.

Di tempat yang lain…

Han dan semua orang di dalam ruangan itu sama-sama terpegan, ketika video yang diputar memperlihatkan sosok raja Volt yang; memiliki sebuah tanduk di kepalanya, bertelinga kecil dan panjang seperti seorang peri dan menggenggam petir selain tongkat berwarna keemasan. Dalam video tersebut, raja Volt berpesan;

“Bersiaplah wahai makhluk bumi, aku akan menurunkan pasukanku untuk memusnahkan kalian. Tapi sekalipun kalian bersiap, aku yakin bumi akan hancur. Tidak ada lagi kehidupan, tidak juga untuk apapun. Tidak ada yang akan tersisa.” terlihat raja Volt menyeringai hingga terlihatlah simpul senyum yang licik sebelum video itu terhenti.

✳✳✳

Dalam perjalanan menuju Medan di dalam pesawat itu, Christian terdiam tatkala melihat seorang berbaju polisi melintas, Christian membaca pikiran polisi itu.

“Ada apa, Pak Tua?” tanya Zaqy seraya menepuk pundak Christian.
Christian masih terdiam, “Hoi!!!” teriak Zaqy.

Nauval dan Lia menoleh setelah mendengar Zaqy berteriak, sepersatu dari mereka lantas bangkit dan menghampiri Zaqy serta Christian.

“Ada apa?” tanya Nauval.
Zaqy nampak mengangkat bahu, “Entahlah, Pak Tua ini terus saja terdiam,” jawabnya.
“Bumi dalam bahaya,” gumam Christian.
Christian menunjuk polisi yang hendak duduk itu, “Aku membaca pikirannya. Ternyata raja Volt telah mengirim sebuah video kepada kepolisian tentang peringatan serangan,” kata Christian lagi.

Giliran mereka bertiga yang terpegan, membayangkan seragan itu saja mereka tak mampu.

“Kita harus bagaimana?” tanya Lia.
“Kita harus cepat menemukan elemen Air dan Tanah. Setelah kita ke Medan, kita akan ke Jogja. Baru setelahnya kita bisa ke planet Kamaula.”
“Ternyata raja Volt tidak membiarkan proses penyatuan ini berjalan seperti semestinya.” lanjut Christian dalam hati.

Nauval dan Zaqy kembali ke tempat duduknya, di benak mereka penuh akan gambaran serangan dari raja Volt. Sementara Zaqy pun mengalami hal yang sama, Christian malah nampak sangat resah dan tidak bisa diam. Ia yakin kota pertama yang akan diserang adalah kota kelahirannya, Jakarta.

✳✳✳

Sesampainya di bandara, Christian langsung melesat ke awang-awang. Hal ini tentu saja membuat Zaqy, Nauval dan Lia terkesiap, untung saja tidak ada orang lain yang curiga.

“Apa yang Pak Tua itu lakukan, sih?” tanya Zaqy.
“Apa dia mau pamer kekutannya?” tanyanya lagi.
Nauval mendongak, “Seperti yang dikatakannya, sudah tidak ada waktu lagi. Jadi dia bergerak cepat, kita juga harus bergerak cepat,” kata Nauval.

Nauval berlari, diikuti oleh Lia dan Zaqy. Di luar bandara sudah ada Christian berkacak pinggang.

“Sebagai elemen, kalian ini termasuk yang terlelet,”
Zaqy baru saja akan protes ketika Nauval menutup mulut Zaqy, “Jadi, di mana letak si Air itu?” tanya Nauval.
Christian menunjuk ke arah barat, “Di sana,” ucapnya.
“Penganglah tanganku!” perintah Christian.

Meski ragu, ketiganya lantas memegang tangan Christian dan secepat kilat keempatnya melesat menuju tempat tujuan. Rerumputan di sekitar tersingkap ketika Christian dan ketiga elemen mendarat. Mereka berpijak di sebuah bukit yang gersang, namun seperti baru dihujani.

“Boleh gak sih, kalau aku mabuknya sekarang?” tanya Zaqy seraya berjalan terhuyung.
“Siapa kalian?” tanya seorang gadis berhijab itu.

Sesiapa lantas menoleh, terlihatlah gadis yang memakai pakaian serba biru tengah mengarahkan tangan ke arah mereka berempat.

“Tenanglah, kami adalah kawanmu,” ucap Christian.
“Kami sama sepertimu, kami pun dapat mengendalikan elemen,” kata Christian lagi.

Gadis berhijab itu menurunkan tangannya, ia tampak menunduk dan sejurus kemudian mendongak. Terlihatlah sebuah simpul senyum yang manis, gadis itu telah menerima kedatangan keempat temannya.

“Namaku Dhea, aku sedang membantu para petani menyirami tanaman mereka,” kata Dhea di lain waktu.
“Bukankah akan kesulitan dan kelelahan bila sendiri? Bagaimana kalau berlima?” tanya Christian.
“Memangnya kita bisa? Mungkin kau dan Zaqy bisa, tapi aku dan Nauval?” giliran Lia yang bertanya.

Christian tersenyum, ia lantas mengangguk.

“Bagaimana caranya?” tanya Dhea.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s