Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 9.

“Apakah aku akan kehilangan kesadaran lagi setelah menggunakan kekuatan air?” tanya Zaqy dengan wajah lesu.
Christian menggeleng pelan, “Tidak. Kali ini pakai kekuatanku,” jawabnya.

Mereka berlima saling berpegangan tangan, kelimanya lantas terbang ke langit untuk menyirami lahan para petani yang kerontang akibat kemarau panjang.

Zaqy menoleh melihat pada Christian, “Entah kenapa, walau aku tak mengenalnya tapi serasa aku sangat dekat dengannya. Padahal aku sangat membencinya, bagaimana bisa? Aku tak tahu. Pak Tua itu, seperti seorang…”
Christian turut menoleh ketika melihat Zaqy memegangi kepala, “Ada apa? Makanya jangan terlalu kagum padaku, jadi pusing begitulah akibatnya,” tanya Christian.
“Namanya Christian, ia bisa mengendalikan semua elemen seperti Zaqy. Dan, ia juga bisa membaca pikiran kita bahkan…” Lia menghentikan celotehannya.
Dahi Dhea berkerut, “Bahkan?” tanyanya.
“Ia juga bisa mengetahui kita suka pada siapa,”
“Maksudnya cinta?” tanya Dhea lagi.

Lia mengangguk, sejurus kemudian ia menoleh ke arah Zaqy, melihat perdebatan antara Zaqy dan Christian yang sudah seperti ayah dan anak itu.

Mereka baru lima belas menit melayang di udara sembari menyiram ladang, akan tetapi semua tanah telah rata terairi. Padahal, biasanya Dhea akan butuh berjam-jam lamanya hingga semua tenaganya hilang dan ia pulang dengan kaki terseok-seok.

“Aku bahkan tak merasa lelah sama sekali,” ucap Dhea.
Keempat rekannya saling tersenyum, “Terima kasih,” kata Dhea lagi.

Simpul senyum di wajah Christian sirna, ia memegangi dadanya dan sontak jadi pusat perhatian.

“Jangan bercanda, Pak Tua!” Zaqy protes.

Zaqy menepuk pundak Christian, Christian malah jatuh tersungkur.

“Kau kenapa, Chris?” tanya Nauval panik.

Christian nampak kesusahan saat mencoba bangkit, ia menatap keempat elemen dengan tatapan nanar dan menghela nafas sebelum mulai berbicara.

“Pasukan raja Volt sudah sampai di Bumi, Jakarta.” kata Christian, lirih.
Semuanya nampak terkesiap, “Lalu, kita harus bagaimana? Apa kita ke Jakarta dulu dan membereskan mereka?” tanya Lia.
“Jangan!”
“Lalu?”
“Aku dan Nauval saja, kalian bertiga pergilah ke Jogja dan temukan elemen Tanah.”

Keempatnya lantas mengangguk. Setelahnya Christian bangkit dan memegang tangan Nauval, keduanya lantas melesat meninggalkan langit kota Medan yang bertabur bintang malam itu.

Dhea masih mendongak ke atas ketika ia bertanya, “Apa kita akan ke Jogja dengan cara seperti itu pula? Kok aku gak yakin, ya?” tanyanya.
“Iya, kita harus bergerak cepat. Akan lama kalau kita pakai pesawat,”
Lia sontak menoleh, “Kamu yakin?” tanyanya.

Zaqy mengangguk yakin, sementara itu Lia dan Dhea berpegangan pada tangan Zaqy dan ketiganya melesat ke udara.

“Apa kamu tahu di mana kota Jogja itu, Zaq!?” tanya Lia setengah berteriak.
“Tidak!!!”
“Apa!!!” Lia dan Dhea sontak menoleh ke arah Zaqy.
“Awas saja kalau kita sampai tersesat, akan kubakar kamu nanti.” umpat Lia.

Sementara itu, di tempat lain…

Christian masih memegangi dadanya, sementara Nauval memandang berkeliling dan terheran-heran. Banyak polisi tergeletak tak berdaya di jalanan, ada pula makhluk asing yang penuh darah dan luka tembakan, bedanya darah dari makhluk asing ini berwarna hijau cerah.

“Han,” gumam Christian.

Christian berlari meninggalkan Nauval yang masih terheran-heran, ia mencari Han setelah mendapatkan gambaran tentang ironi yang melintas di benak hingga membuat dada sesak.

“Kamu di mana, Han?!” teriak Christian.
“Chris,” gumam seseorang entah dari mana.

Christian memandang berkeliling, mencari keberadaan seseorang yang memanggil lirih namanya.

Ia terkesiap bukan main tatkala mendapati Han penuh darah terutama di bagian kepala, “Apa yang terjadi padamu?” tanya Christian panik.
Han mendongak, “Pasukan raja Volt itu telah meluluhlantakkan Jakarta, aku dan teman-temanku coba melawan mereka meski kami kalah jumlah. Tapi semua warga telah kami selamatkan,” tutur Han sembari meringis kesakitan.
“Di mana Zaqy?” tanya Han.
Christian membuang pandangan, tak ingin memperlihatkan wajah sedih kepada sahabatnya. “Kamu nangis, Chris? Kamu tenang saja, aku gak bakalan mati cuma karena luka kaya gini,”
“Diamlah!”

Christian membopong Han, tubuhmya terasa ringan dan bersama Han ia melayang mencari bantuan untuk mengobati luka Han.

“Ternyata aku gak salah lihat waktu itu,”
“Aku sudah menyuruhmu untuk diam bukan?” tanya Christian ketus.

Sementara itu, kedua kepalan tangan Nauval menyala-nyala, ia memegang listrik guna berjaga-jaga ketika memasuki daerah paling sepi nan gelap.

Nauval menoleh ketika merasa bahunya ditepuk, ia baru saja akan membenamkan listrik di tubuh orang atau apapun yang menepuk bahunya sebelum sadar bahwa orang itu ialah Christian.

“Aneh, kenapa aku tidak bisa tahu apa yang ia pikirkan?” tanya Christian dalam hati.
“Ada apa?” tanya Nauval, pertanyaan itu tentu saja menyadarkan Christian akan lamunan.
“Apa ada sesuatu di sini?” tanya Christian balik guna menyelubungi keanehannya.

Nauval menggeleng beberapa kali, sedangkan Christian memegang tangan Nauval begitu tahu tak ada apa-apa di sana. Mereka lantas terbang, menilik Han yang tengah diobati di pos kesehatan darurat.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s