Diposkan pada Cerpen

Time Machine

PhotoFunia-1570010542

 

Kamu duduk di bangku taman yang basah setelah hujan sore tadi. Apa yang paling kamu butuhkan saat ini, adalah mesin waktu. Kamu ingin mengulang; bulan desember yang terjadinya seperti baru kemarin, menceritakan semua yang kamu alami dan kata maaf yang datang terlambat di ujung kepergian. Serta, barangkali kamu akan merengek di kaki kekasihmu seperti anak kecil dan kekasihmu tak pernah pergi.

 

✳✳✳

 

“Apa yang akan kamu lakukan jika aku pergi lagi?” tanya kekasihmu yang masih memakai baju hijau itu.

Kamu menoleh, menatapnya tajam seperti mengancam. “Aku akan meraih revolver dan meledakkan kepalamu, biar kamu tetap bersamaku.” jawabmu seraya tersenyum licik.

Dahi kekasihmu berkerut, “Kamu akan hidup dengan mayat?” tanyanya.

Kamu mengangguk, “Iya. Sebab mungkin di negara-negara yang akan kamu kunjungi kamu akan mati, seperti ayah dan kakekmu yang sama-sama dimatikan dan menjadi pahlawan negara sebentar dan kemudian dilupakan.”

“Jadi, kamu takut aku mati?” tanya kekasihmu lagi.

Kamu pun mengangguk lagi, namun sesaat kemudian kamu menggeleng. “Aku memang takut kamu mati, tapi aku lebih takut tak bisa melupakan kamu setelah kematianmu dan aku tak pernah hidup,” katamu, “…dan memang begitulah kenyataannya.”

“Aku janji…”

“Jangan pernah membuat janji!” hardikmu kepada kekasihmu.

 

Dan kekasihmu terdiam, menatapmu dengan kedua mata berkaca-kaca.

 

Kekasihmu nampak meraih sesuatu di ranselnya, ia mengeluarkan sebuah amplop putih dengan garis warna biru dan merah di tepiannya. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, sering malah. Kamu menebak suatu putusan dan kamu berharap tebakan yang kali ini salah.

 

Giliran mata kamu yang berkaca-kaca, “Kamu mau pergi lagi?” tanyamu sambil terisak.

Kekasihmu mengangguk, “Ini…” kata kekasihmu seraya meletakkan revolver yang entah dari mana itu di tanganmu.

Kamu langsung meraihnya lantas mengarahkan revolver itu di kening kekasihmu, “Pastikan tidak ada orang yang melihat.” kata kekasihmu.

 

Pelan, kamu nampak menarik pelatuk. Sementara kekasihmu memejamkan matanya dan terlahirlah bulir-bulir air mata.

 

Aku menutup mata;

 

Dorr!!!

 

Kamu menghambur, mendekap kekasihmu erat dan merasakan detak jantung yang masih berdetak dan nafas yang tak beraturan meniupi tengkukmu.

 

✳✳✳

 

Senja yang terlukis di langit kota kian indah seiring berjalannya waktu menjelang malam. Seperti pelukan untuk kekasihmu yang kian erat seiring dekatnya jarakmu dengan stasiun kereta bawah tanah.

 

“Aku akan menikahimu dan ini bukan janji, aku bersumpah.”

Kamu tersenyum tapi menangis, “Kembali saja dulu, baru nanti kita bisa putuskan mau melakukan apa,” katamu seraya menyeka bulir suci di wajah.

“Aku harap kita punya dua anak laki-laki,” cetus kekasihmu.

“Tidak. Aku ingin seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan,” katamu seraya memonyongkan bibir.

 

Kamu mendekap tentara yang juga kekasihmu itu, erat dan lama.

Suara panggilan dari pengeras suara menandakan kamu dan kekasihmu sudah harus menyudahi apa yang tak ingin diakhiri.

 

“Kembalilah, aku mohon.”

 

Kekasihmu mundur beberapa langkah, ia lantas mengangkat tangan kanannya dan berhormat kepadamu dan sukses melahirkan simpul senyum di wajahmu.

 

Ada banyak yang ingin kamu katakan, ketika lelaki paling tampan dalam hidup selain Do Kyung So dan ayahmu itu melangkahkan kaki. Ada banyak cerita dan kebenaran, ada sedikit kebohongan dan kata maaf. Yang ada hanya lambaian tangan, sebelum senyum paling ranum dan sikap hormat sekali lagi sebelum pintu kereta tertutup dan melaju secepat kilat meninggalkan kamu dan kesedihanmu ditinggalkan sekali lagi. Kamu, menanti.

 

✳✳✳

 

Fragmen-fragmen di kepala tentang tentara yang tak pernah kembali ke negara asalnya untuk menikahimu terus tersimpan rapi. Terkadang kamu tersenyum saat mengingatnya, tapi tak .jarang pula kamu menangis. Ini adalah tahun ke tiga puluh sembilan, dan kamu masih sering datang ke taman hanya untuk mengulang kenangan paling indah sekaligus paling suram.

 

Kamu menoleh ketika seseorang duduk di sebelahmu, “Apa kabar?” tanya orang itu.

 

Bukannya menjawab, kamu malah terpegan. Air mata yang seharusnya meruah pun malah hilang arah hingga entah ke mana perginya.

 

“Apakah kamu menantiku?” tanya orang itu.

Kamu mengangguk, “Mari kita menikah, aku sudah berja–  Ah, tidak. Maksudku, ya, itu…”

 

Kamu mengangguk lagi, kamu kahabisan kata dan membenamkan diri di dada lelaki yang sangat kamu sayangi tiga puluh sembilan tahun yang lalu dan hari ini, sampai mati.

 

“Tapi, maaf. Sepertinya kita tidak akan bisa punya dua anak laki-laki, ya?”

Kamu tersenyum, “Tentu saja,” gumammu.

 

Di saat yang bersamaan, datanglah seorang wanita yang memakai seragam dokter dan seorang lelaki berseragam polisi yang sama-sama menenteng payung.

 

“Ayah!”

“Ibu!”

 

Keduanya lantas saling menoleh dan saling pandang dalam waktu yang cukup lama, seperti telah melupakan tujuan mereka datang ke taman yang mulai basah lagi dengan segala rerintik hujan.

 

Kamu dan kekasihmu pun saling tatap, menggali kesetian di mata masing-masing dan sama-sama tersenyum setelah mahfum.

 

“Anak angkat,” gumam kalian nyaris bersamaan.

“Kita bisa memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan dari mereka,”

“Maksud kamu dua anak laki-laki?” tanya kekasihmu, terdapat penekanan pada kata ‘dua anak laki-laki’.

 

Kamu dan kekasihmu terus berdebat, sampai tak sadar bila dokter dan polisi yang juga anak kalian itu saling berkenalan.

 

✳✳✳

 

Gereja sangat sepi pagi itu. Setelah bersujud di altarNya, kamu membuka surat dalam amplop putih yang selama ini tak pernah berani kamu buka, terlebih setelah isu ikhwal semua tentara yang berangkat bersama kekasihmu tewas terkena seragan mambabi buta.

 

Kamu membuka lembaran usang itu;

 

“Aku tahu kamu tidak suka dengan janji, tapi saat ini aku tetap ingin membuat janji. Aku berjanji, aku akan kembali dan menikahimu.”

 

Kamu tersenyum lagi, kamu menangis lagi, sesaat sebelum kekasihmu yang sehari yang lalu telah resmi menjadi suamimu itu datang menjemputmu. Kamu dan kekasihmu lantas berjalan menuju pintu keluar gereja, tidak ada lagi penyesalan setelah keajaiban Tuhan dan kesempurnaan.

 

Selesai

 

#EmpisEmpisTemanggung

#Empisher

#TemaSenja

#1pekan1tulisan

 

* ditulis sembari mendengarkan lagu “Goodbye” milik Maudy Ayunda

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s