Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 10.


Jogja tertidur malam itu. Dari banyaknya tempat di kota pelajar; Zaqy, Lia dan Dhea malah memilih tempat yang selalunya ramai sesak. Malioboro. Untunglah malam itu tak terlalu banyak orang, jadilah tidak ada yang akan mengomentari tentang bagaimana mereka bertiga bisa terbang, mendarat dan berbagai macam hal menghala ketidakmungkinan yang bisa dilakukan manusia biasa.
“Apa kita akan berburu makanan sehingga kita mendarat di sini?” tanya Lia, ketus.

“Tentu saja!” Zaqy berseru dengan girangnya.

“Awas saja sampai kau benar-benar melakukannya!!!” suara itu berdengung di telinga Zaqy.
Zaqy menoleh ke kanan-kiri, tidak ia temui siapapun, tidak juga Christian yang baru saja mengancam dirinya jika malah berwisata kuliner dan bukannya mencari elemen Tanah.
Zaqy memegang tangan Lia dan Dhea, kedua perempuan itu sontak menoleh, “Ada apa?” tanya Lia.

“Kita akan lanjutkan mencari si Tanah.”
Kembali mereka terbang tinggi melesat ke langit Tuhan yang bertabur bintang malam itu. Zaqy mendarat di pinggiran sungai yang cukup luas, dari sana ia dapat melihat pasir-pasir menjulang ke langit sebelum turun menapaki bumi membentuk gunungan-gunungan alami.
“Ini pemandangan yang paling menakjubkan selama perjalanan ini,” decak Zaqy.
Pasir-pasir itu berkilauan saat bulan mampu menyibak awan yang menyekat sinar indahnya.
Zaqy, Lia dan Dhea terkesiap tatkala pasir-pasir yang seharusnya mendarat di gundukan-gundukan sebelum menggunung itu malah melesat ke arah mereka.
“Apa ini?” tanya Dhea.

Lia menepuk pundak Zaqy, “Angin!!!” teriaknya.
Sontak Zaqy mengarahkan tangannya ke depan, dari sanalah angin yang kuat itu berhembus dan membuat pasir yang mengarah kepadanya terpental, menjadi partikel yang membedaki sungai.
“Siapa kalian?!” tanya seseorang dari arah kegelapan.

Ketiganya menoleh, “Kenapa kalian datang kemari? Kenapa kalian bisa menghindari seranganku?” tanya orang itu lagi.
Zaqy memandang Lia dan Dhea bergantian, mengisyaratkan agar keduanya bersedia menyerahkan urusan yang kali ini kepada dirinya. Meskipun keduanya sama-sama ragu, tak ayal keduanya mengangguk.
Zaqy melangkahkan kaki mendekati seseorang yang agaknya masih seumuran dengannya itu. Nafasnya terengah, jantungnya pun berdebar kencang dan ia sesungguhnya tak tahu apa yang bakal dilakukan maupun dikatakan kepada si Tanah ini saking takutnya.
“Perkenalkan, namaku…”
Zaqy tekesiap bukan main, sebuah batu yang besar melesat ke arahnya tepat ketika ia mulai berbicara. Semburan air yang kuat telah menyingkirkan batu besar itu dari hadapan Zaqy, sementara itu Zaqy terduduk lemah.
“Apa kau baru saja berusaha membunuhku?” tanya Zaqy sembari mendongak.

“Kami ini orang baik, kau tenang saja.” kata Lia yang berjalan menghampiri kedua lelaki yang bertikai.

“Siapa kalian sebenarnya?”

“Namaku Lia, si Api. Ini Dhea, si Air. Dan lelaki lemah yang ada di hadapanmu itu Zaqy, si Angin. Ah, maksudku si segalanya.” tutur Lia.

“Namaku Abi,” kata lelaki bernama Abi itu singkat.

Abi menunduk, “Maaf untuk yang tadi,” katanya seraya menjulurkan tangan.
Zaqy meraih uluran tangan itu, akan tetapi ia memonyongkan bibir pertanda ia masih marah kepada sikap orang yang ada di depannya.
“Abigail?”

Abi menoleh, “Kau mengenalku?” tanyanya.
Dhea berjalan menghampiri dua lelaki itu, Lia melakukan hal yang sama.
“Tentu saja, bukankah kita pernah satu sekolah dulu?” Dhea justru kembali bertanya.

Dahi Abi berkerut, meski tidak begitu kentara malam itu, “Benarkah?” tanya Abi.
Di benak Abi terlintas fragmen-fragmen masa kecilnya, masa di mana ia masih memakai seragam merah putih. Barangkali menjadi masa paling indah dalam hidupnya.
✳✳✳
“Menurut kamu, apa mereka berpacaran sejak SD?” tanya Lia.

Zaqy menoleh, “Apa dua orang yang saling dekat itu harus diartikan sebagai sepasang kekasih?” Zaqy kembali bertanya.

Lia pun menoleh, “Tentu saja. Pasti ada sesuatu di antara dua orang yang saling dekat. Seperti…”

“Seperti?”
Sementara itu…
“Aku gak nyangka, kamu masih ingat aku,” kata Abi seraya melampar batu ke sungai.

Dhea menyaksikan air yang memecah, mengombak ke tepian itu dengan tersenyum, “Tentu saja, tidak akan mudah melupakan seseorang yang mau menjadi temanku untuk pertama kalinya.” katanya.

“Kamu, masih mau jadi…”

“Tentu saja!” tukas Abi.
Dhea tahu, tidak mudah bagi Abi untuk merubah apa yang tertanam sejak kecil.

Sejak pertemuan Abi dengan ayah Dhea, Abi memutuskan untuk bisa memakai baju hijau suatu hari nanti.
“Kamu kerja di sini?” tanya Dhea seraya memandang berkeliling.

Abi mengangguk, “Serius? Bukannya kamu seharusnya seorang guru?” tanya Dhea lagi.
Dhea menghembuskan nafas, panjang…

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s