Diposkan pada Cerbung

Petualan Lima Elemen : 11.


“Tentu saja. Aku ini guru di siang hari, tapi kalau malam hari ya, beginilah…”

“Aku yakin hari itu akan tiba. Sampai hari itu terjelangi, aku akan selalu mendoakan kamu.”

Abi tersenyum, “Terima kasih,” ucapnya.
Zaqy berdeham, membuat dua orang yang saling menandaskan rindu itu menoleh ke belakang. Terlihatlah Zaqy dengan wajah yang serius yang berkacak pinggang.
“Apakah sudah selesai pacarannya? Kita sudah harus ke Jakarta. Christian baru saja memberitahuku kalau alien di sana kian banyak.” tanya Zaqy.
Keduanya saling pandang sebelum bangkit dan menghampiri Zaqy. Seperti yang telah terjadi, kali ini bagaimana mereka akan berangkat ke Jakarta pun dengan cara terbang. Keempat orang itu saling berpegangan tangan, mereka melesat ke udara menuju langit Jakarta.
“Aku bahkan belum pamit kepada keluargaku,” ucap Abi.

Zaqy menoleh, “Itu salahmu, harusnya kamu gunakan waktu yang tersisa tadi untuk hal itu, bukannya pacaran!” katanya, terdapat penekanan pada kata ‘pacaran’.
Christian dan Nauval saling membelakangi, mereka dikepung alien yang membentuk lingkaran mengepung keduanya.
“Apakah kali ini kita bakal mati?” tanya Nauval seraya menyeka darah yang melesat melewati pipinya.

“Tentu saja tidak!” teriak seseorang dari arah atas.
Nauval dan Christian mendongak, terlihatlah keempat elemen yang memegang kekuatan masing-masing.
“Serang!!!” teriak Zaqy begitu ia dan ketiga temannya mendarat di tanah Jakarta.
Berikutnya; angin, api, air dan tanah menyembur dari tangan keempat elemen menghancurkan para alien. Sementara itu, Nauval dan Christian jatuh setelah sekuat tenaga melawan para musuh bumi itu.
✳✳✳
Christian terjaga, mendapati ruangan penuh sesak akan orang-orang yang terluka akibat serangan alien. Ia juga menemukan Nauval di sebelahnya, yang masih memejamkan kedua mata dengan perban di mana-mana.
“Apa kau baik-baik saja, Pak?” tanya Zaqy.

Christian tersenyum, “Aku tidak menyangka, ternyata kau bisa jatuh pula,” kata Zaqy.

Christian bangkit meski kesusahan, “Tentu saja, kau pikir aku apa?” tanyanya.

“Kau…”

Dahi Christian berkerut, “Apa?” tanyanya.
Zaqy memegangi kepalanya yang berdenyut, tak ada yang tahu apa yang dirasakan, tidak juga dirinya sendiri. Ada sesuatu yang hendak ia muntahkan, tetapi semuanya segera hilang begitu saja entah kenapa. Karena hal itulah Zaqy selalu merasa kepalanya sangat sakit, lebih sakit dari semua sakit yang pernah ia rasakan.
Christian menepuk lengan Zaqy, “Kau kenapa?” tanyanya.

Zaqy menatap Christian, “Tak apa, mungkin cuma kelelahan,” jawabnya.
✳✳✳
Ada suara gaduh dari dapur. Lisa bangun lebih awal pagi itu, semuanya demi hidangan spesial untuk keponakannya. Kedatangan Christian di hidup Lisa telah membuka pintu hati Lisa, ia kini sayang kepada Zaqy seperti ia menyayangi Hiro dan Han.
“Mama ngapain sih, jam segini sudah masak? Ganggin orang tidur tahu!” tanya Hiro, protes, seraya mengucak matanya yang masih berat untuk dibuka.

Dari kamar yang lain muncul Han, “Maafkan Mama ya. Kalian duduklah, Mama akan membuatkan minuman untuk kalian sebagai permintaan maaf.” kata Lisa.

“Bukankah itu sesuatu yang biasa kau lakukan?” tanya Han seraya menarik kursi.

Lisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal itu, “Ah, benar juga.” cetusnya.
Han mendongak ke lantai dua, ia pun bangkit dan menaiki tangga menuju lantai dua. Han kemudian mengetuk pintu kamar Zaqy, tidak ada jawaban bahkan untuk ketukan Han yang ketiga kalinya.
Han membuka pintu, inilah pertama kali ia mendapati Zaqy masih terlelap di ranjangnya di pagi hari.
“Kau pasti sangat lelah, ya?” kata Han seraya merapikan rambut Zaqy yang berantakan.

Zaqy membuka mata saat itu, “Ah, tidak! Apakah aku membangunkanmu?” tanya Han.

Zaqy menatap kedua mata Han dengan tatapan mata yang kosong, “Aku memang sudah bangun kok, Yah!” katanya.
Han menjentik dahi Zaqy hingga Zaqy meringis kesakitan sampai mengangkat kedua kakinya ke udara. Han tersenyum karenanya, ia benar-benar bahagia dengan kepulangan Zaqy. Meski di sisi lain Han juga tahu, bahwa kepulangan Zaqy yang kali ini untuk kepergian yang lebih lama lagi.
“Turunlah! Tantemu sudah memasakanmu banyak sekali makanan,”

Zaqy terkaget, “Memasakkan kita, kan?” tanyanya.

“Bukan, masakan itu untukmu. Kami sepertinya hanya mendapat makanan sisa darimu,” jawab Han sembari menunduk.
Rasanya hati Zaqy akan meledak, ia ingin menagis saat senyumnya mengembang begitu ranum. Untuk kedua kalinya ia merasa dianggap oleh bibinya, mungkin suatu hari hingga sampai tiada terhingga lagi.
Zaqy dan Han menuruni lantai dua, mereka berdua disambut senyum Lisa dan Hiro. Ada banyak makanan yang memenuhi meja makan, seolah mereka bukan sebuah keluarga pas-pasan di mana kepala keluarganya adalah seorang polisi yang tak kunjung naik jabatan.
Han menghentikan langkahnya sejenak, kepalanya berdenyut-denyut dan ia siap untuk denyutan yang lebih sakit lagi seiring dekatnya ia dengan meja makan.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s