Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 12.


Senyum Lisa kian ranum saat mendapati Zaqy menuruni tangga. Tak tertahankan lagi raut kebahagiaan dalam wajahnya, bersinar melebihi apapun.
“Kamu mau makan apa? Biar tante yang siapkan,” tanya Lisa.

“Gak usah, Tan. Zaqy bisa ambil sendiri,”

“Ma, Hiro mau nasi goreng!”

“Ambil sendiri dong, sudah ada di depan kamu tuh  nasi gorengnya,”

“Kamu mau ini, Zaq?” tanya Lisa lagi.
Zaqy akhirnya mengangguk setelah tak tahu lagi apa yang harus ia katakan, tak ayal piring miliknya pun penuh akan berbagai jenis makanan.
Han yang melihat peristiwa langka itu hanya mesam-mesem. Ia tak menyangka, Lisa akhirnya bisa benar-benar menyayangi Zaqy sepenuh hatinya. Sejenak, ia lupa sama sekali dengan sakit kepalanya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana nasib keempat teman kamu itu?” tanya Han.

“Mereka tinggal di apartemen Christian,” jawab Zaqy masih dengan mengunyah makanannya.

“Apartemen sekecil itu?” tanya Han.

Zaqy menoleh, “Memangnya Ayah pernah ke sana? Apa kalian saling mengenal sebelumnya?” tanyanya antusias.

Han mulai salah tingkah segera setelah pertanyaan itu dilontarkan, “Belum. Maksudnya, sudah. Tapi Ayah tidak tahu siapa Christian itu sebelumnya, yang Ayah tahu dia cuma orang yang akan selalu bersama kamu, jadi Ayah hanya memastikan agar semuanya baik-baik saja.”
Air muka Lisa langsung berubah, alih-alih ikut sarapan, ia justru pergi meninggalkan meja makan dan berdalih akan membersihkan dapur terlebih dahulu.
“Saya hanya merasa tidak asing dengan Pak Tua menyebalkan itu, jika Ayah mengenalnya saya rasa akan ada sesuatu yang bersinar dalam gelapnya tanya di hati saya,”

“Berhentilah memanggilnya seperti itu!” kekata itu dilontarkan amat serius oleh Han, Zaqy bahkan Hiro sampai menghentikan aktifitasnya memakan hidangan pagi itu.

“Maaf,” gumam Zaqy, akhirnya. Terlalu pelan, nyaris tak terdengar.
Sedang Han masih sedikit marah kepada Zaqy. Andai Zaqy tahu apa alasannya.
Di tempat lain…
Christian yang tidur di sofa itu terjaga ketika melihat kegaduhan dari arah kamarnya, ia pun berjalan menuju ke kamar yang telah diserahkan kepada keempat elemen malam tadi.
“Ada apa sih?” tanya Christian.
Lia dan Dhea menujuk ke lantai, di sana terlihat Nauval dan Abi saling berpelukan amat erat dan mereka masih terlelap dalam tidur masing-masing.
“Apa perlu mereka aku bakar?” tanya Lia seraya mengarahkan tangan.
Sebelum api keluar dari telapak tangan Lia, terlebih dahulu kekuatan angin Christian melerai kedua lelaki yang secara tak sengaja melakukan hal menjijikan itu—bahkan hingga kepala Nauval membentur lemari sementara Abi membentur kaki-kaki ranjang.
Zaqy baru saja akan mengetuk pintu apartemen nomor 48 itu ketika pintu itu terbuka. Terlihatlah Christian dengan wajah ditekuk berlipat-lipat, sementara Dhea memegang lengan Abi dan Lia memegang tangan Nauval erat.
Zaqy memandangi tangan Nauval yang dipegang Lia itu tanpa berkedip, ia seolah ingin menggali selaksa makna dari sana.
Lia segera melepaskan pegangan tangannya begitu melihat Zaqy menatap dirinya dan Nauval dengan tatapan seperti itu, “Kami tidak ngapa-ngapain kok,” ucapnya.

“Kalau ngapa-ngapain pun tak masalah, kita bukan apa-apa.”
Hati Lia bagai tertusuk hujaman pedang tajam, tidak ada yang lebih menyakitkan dalam hidupnya selain kata-kata Zaqy hari itu.
✳✳✳
Di lift yang menuju atap gedung tertinggi di kota Jakarta itu Lia terus-menerus memandangi punggung Zaqy. Padahal ia pengguna elemen api, tapi ia merasa tubuhnya telah membeku dan kedinginan dengan sikap Zaqy yang berubah seperti kepada dirinya.
“Aku tidak akan menemani kalian,”

Sontak semua orang menoleh ke arah orang yang mencetuskan kekata itu, “Apa kau bercanda?” tanya Nauval.
Christian justru memandang Zaqy lekat-lekat, ia lantas melepas jaket tebal yang membalut tubuhnya hingga nampaklah baju polisi melekat pada badannya.
Christian menutupi nama yang ada di atas saku kanannya, “Polisi?” tanya Lia dengan dahi berkerut.
Christian menepuk pundak Zaqy, ia lantas membuka tangannya hingga nampaklah sebuah nama di sana.

Zaqy merasakan tungkai-tungkainya lemah, ia merasa tak mampu berdiri menopang badannya sendiri.
“Rei–nal–di Ser–guev, bukankah namamu Christian? Itu baju siapa?” tanya Lia.
Lia menutup mulutnya dengan kedua tangannya begitu tersadar akan suatu hal. Serguev juga adalah merupakan nama belakang Zaqy, dalam benaknya Lia memungkinkan kemungkinan yang sesungguhnya entah kenapa pernah dipikirkannya. Bahwa Christian atau si Reinaldi Serguev ini pantas menjadi ayah Zaqy, bahwa Zaqy dan Christian memiliki kesamaan sikap dan masih banyak hal yang Lia perhatikan atas keduanya.
Lift terus melaju ke atas, “Tidak mungkin, kau…”

“Kau benar, Lia.” tukas Christian, sebuah senyuman terbit di wajahnya, senyuman yang amat membingungkan Lia dan semuanya.
Zaqy mendongak…

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s