Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 13.


Zaqy menatap Christian yang ternyata adalah ayahnya itu, dengan mata yang panas dan sejurus kemudian berkaca-kaca. Jantung Christian berasa nyeri melihat pemandangan itu, ia baru saja akan menghambur ketika Zaqy memencet tombol dan lift terbuka lantas Zaqy keluar dan berlari tanpa tujuan.
Christian memandang berkeliling pada empat elemen yang masih nampak tercenung itu, “Kalian, tunggulah di atap. Zaqy pasti pergi, aku pasti menyelesaikan masalah ini,” ia nampak menunduk sesaat, “…maafkan aku.”
Christian baru saja berbalik dan akan berlari ketika Lia meraih lengannya. Christian tersenyum melihat pengendali api itu menyunggingkan senyum kepadanya. Tidak ada sepatah katapun ketika mereka bercakapan, namun hanya karenanya saja Lia sudah mendapat semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini cuma ia pendam. Bagaimana Christian terlalu kentara menyayangi Zaqy lebih dari semua elemen, bagaimana Christian acap kali memperhatikan lelaki payah satu itu dan bagaimana ketika membicarkan tentang Zaqy, wajah Christian bersinar secerah binar di matanya. Semua karena Christian adalah ayah Zaqy. Christian Serguev: Reinaldi  Serguev.
Pintu lift tertutup perlahan, Lia masih bisa melihat bagaimana Christian mengerahkan semua tenaganya demi bisa melesat cepat dan menjelangi Zaqy.
Christian melambatkan larinya ketika melihat tujuannya tengah memandang keluar dinding kaca ketika tiada sesiapa. Pelan, ia berjalan menghampiri.
“Apa kau marah padaku?”

Zaqy menoleh, ia menyeringai, “Pantas saja aku tak pernah asing ketika melihatmu, pantas saja paman Han marah jika aku memanggilmu ‘Pak Tua’, pantas saja aku selalu merindukanmu walau setiap waktu kita bisa bertemu, pantas saja aku…” Zaqy menunduk, sementara air mata itu membanjir.

Zaqy yakin ia baru saja mengedipkan mata ketika tubuh besar itu mendekapnya erat dan lama, “Ini aneh sekali. Rasanya aku sedang bermimpi saja,”

Pelukan itu makin erat, “Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Ayah.”
Christian menepuk-nepuk pundak anak semata wayangnya yang telah dewasa itu, sesekali ia akan melepas pelukan dan memeluk Zaqy lagi dan lagi.
Angin berhembus dengan kencang di atap gedung itu. Kelima elemen tengah mengumpulkan kakuatan mereka masing-masing agar bisa melesat dan cepat sampai di planet Kamaula.
Christian mendekati kesemuanya, “Jaga diri kalian baik-baik, kalian harus pulang dalam keadaan hidup. Mari kita berjuang, aku akan membantu di sini bersama polisi dan militer sebelum…” ia membuang muka, tak ingin sama sekali menunjukan wajah sedihnya ketika mengucapkan realita itu.

“Maaf telah memanggilmu ‘Pak Tua’, Ayah,”
Christian mendongak, karena seseorang yang baru saja berbicara telah mulai mengawang. Panas air matanya telah memaksa bulir-bulir itu melewati pipinya.
“Saat aku kembali ke Bumi, kau masih ada kan?” tanya Zaqy, ia tersenyum meski hatinya terusik ketika menanyakan hal itu.

Christian tersenyum, “Tentu saja,” katanya.

“Baguslah, nanti kita akan banyak mengobrol, menghabiskan waktu. Hanya berdua.”
Senyum di wajah Christian makin ranum. Namun, sesaat kemudian sirna seiring melesatnya para elemen menembusi langit. Rasanya Christian ingin membabi buta, melompat dari atap itu dan mati untuk kedua kali saat itu juga agar kesedihan dalam hatinya segera menghilang, jika tidak teringat alasan ia direinkarnasi dan tentang alien yang pasti bakal diturunkan lagi oleh raja Volt.
Christian terduduk lemah, ia meraung-raung dalam tangis seolah menceritakan kepada seluruh kota bahwa ia tengah berduka.
✳✳✳
“Jadi kau membohonginya?” Han geleng-geleng kepala.

Christian mengangguk beberapa kali, “Apa kau mau dibenci olehnya?” tanya Han lagi.

“Akan lebih baik jika dia membenciku setelah aku pergi. Dengan begitu, ia tak perlu lagi mengingat ayahnya yang sama sekali tidak berguna ini,” Christian memukul-mukul dadanya sendiri, berkali-kali, dan sekali lagi terombang-ambing dalam lautan kesedihan.

“Satu-satunya hal yang tak berubah dari dirimu bahkan setelah kau dibangitkan dari kematian adalah, bahwa kau tak pernah benar-benar dapat memahami,”

Christian menatap Han lekat, “Apa maksudmu?” nada bicaranya seketika berubah.

“Kau bahkan tak memahami Zaqy, anakmu sendiri, apa kau tahu?” tanya Han, “…Zaqy bukan sama sekali orang yang kau bayangkan, yang kau harapkan setelah kau bohongi begitu. Justru…”

“Justru?” Christian mendesak.

“Ia akan meyalahkan dirinya sendiri. Ia berpikir—bertanya, ‘Mengapa ayah sampai berbohong begitu? Apa karena aku? Benarkah karena aku? Kenapa?’, dan penyesalan-penyesalan itu terungkit dan terungkit terus sekalipun ia pintar menyembunyikannya pula,” tutur Han, “…kau tak hanya melukai dirimu sendiri dan Zaqy, namun juga menjadikan luka itu kenangan yang terkenang dan susah untuk dilupakan.”
Christian terpekur, sementara Han bangkit dan meninggalkan sahabatnya itu.
Sekarang, aku harus bagaimana? Batin Christian.
Tetiba Lisa muncul, menghadap kakaknya dan siap menumpahkan segala sesuatu di dalam benaknya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s