Diposkan pada Cerpen

Petualangan Lima Elemen : 14.


Christian menatap adiknya itu, sekejab. Ia masih terlalu membenci sikap Lisa yang memperlakukan anaknya dengan sangat tidak baik. Ia terlalu membenci Lisa untuk sekedar bertanya ‘Bagaimana kabarmu selama ini? Bagaimana hidupmu selama ini? Apakah kau ingin bercerita sesuatu? Aku pasti selalu siap mendengarkan ceritamu.’, seperti sewaktu ketika ia masih hidup. Ia akhirnya kembali menekuri kata-kata Han yang terus terngiang di telinga.
Lisa mengatur duduknya—menegakkan badan dan menghembuskan nafas panjang sebelum memulai percakapan, “Aku tahu aku bahkan tak pantas berbicara seperti ini—di depanmu, setelah semua yang telah aku lakukan,” katanya, “…tapi aku benar-benar ingin menebus kesalahanku lewat dirimu.”

Christian mendongak, “Apa yang kau katakan?” tanyanya.

“Zaqy, dia sangat kesepian. Han telah mengangkat dirinya sebagai ayah Zaqy dan Zaqy sangat senang di ketika itu. Sejak hari itu akhirnya Zaqy memiliki seorang ayah. Namun, tidak ada yang tahu betapa hatinya sangat kesepian dan tersedih.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuknya, Lisa? Apa yang bisa aku berikan?”

Lisa tersenyum, “Dia tidak butuh apa-apa. Toh, dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkan. Hanya satu, satu yang tak bisa,”

“Apa itu?”

“Waktu.”
Christian lagi-lagi terpegan, terpekur dan benaknya benar-benar penuh di ketika itu. Seperti bakal meledak saja.
“Dia pasti sangat ingin bersama dengan ayahnya, seperti selayaknya anak dan ayah pada umumnya. Dia butuh kamu, kamulah satu-satunya yang tak bisa ia raih,”

“Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, Lisa. Setelah Raja Volt mati, aku pun akan hilang: kembali.”

“Pasti akan ada jalan, aku yakin,”
Lisa menerbitkan senyum, dan dengan air muka bernas keyakinan, ia bangkit dan meningglkan kakaknya. Tepat setelah Lisa keluar, Han masuk dengan langkah memburunya.
“Alien-alien itu sudah turun ke Bumi!” kata Han.

Christian menoleh lantas bangkit dan berkali menyeka ujung mata, “Para pengendali elemen telah sampai di planet Kamaula. Ayo, kita berangkat!” katanya.

Han baru saja akan membuka pintu ketika ponselnya berdering nyaring, “Hormat!” ucap Han seketika.
Hal itu mengingatkan Christian pada profesinya yang dulu dan seragam yang kini ia pakai. Hal itu pulalah yang mengingatkan Christian tentang Han dan seragamnya yang meski baru, namun apa-apa yang menempel di dada dan pundak tetaplah sama.
“Jadi, kau belum pernah sama sekali naik jabatan?” tanya Christian.

Han sontak menoleh, “Hei!!! Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu? Bumi tengah diserang!” tanyanya, protes.

“Aku tahu,”

“Apa maksud senyummu itu? Cepat hilangkan dari wajahmu! Aku sangat tidak menyukainya,” Han membuka pintu dan segera hilang begitu saja.
Sepanjang perjalanan ke markas kepolisian, Han terus masam mukanya karena Christian terus mengomel tentang jabatan Han yang masih itu-itu juga. Han punya trik tersendiri menghindari omelan sahabatnya, ia akan menyanyikan lagu kebangsaan sekeras mungkin.
Sementara itu di tempat lain…
Planet Kamaula
Hamparan tanah yang seperti pasir-pasir putih itu tersibak begitu para elemen memijak. Mereka sama-sama takjub, segala sesuatunya berwarna putih cerah dan mereka sama-sama yakin bahwa pemandangan macam itu cuma bakal mereka temui di alam mimpi. Khayalan.
Sesaat kemudian, awan-awan hitam yang bergulung-gulung itu menutup cerahnya pemandangan. Ketakjuban pun berubah menjadi suatu kecurigaan.
“Ada yang datang,” cetus Nauval.

“Siapa?” Zaqy bertanya.

“Raja Volt?” kali ini Lia menebak.
Nauval mengangguk, sontak kelimanya mengatur posisi waspada. Bersiap menyerang.
Angin bertiup begitu kencang setelahnya, dan kelima elemen pasti sudah terhempas jika Zaqy tak membuat tameng-tameng dari kekuatan udaranya itu.
“Itu…” Dhea nampak menujuk ke arah bebukitan.
Kilat menyambar-nyambar, sementara di bawahnya nampak seseorang tengah berjalan santai menjelang kelima elemen. Entah, apakah itu orang atau alien.
“Apakah itu raja Volt?” tanya Lia.

Nauval mengngguk, “Ya,” jawabnya singkat.
Kesemuanya nampak tercenung. Raja Volt, walaupun dikatakan bahwa ia manusia namun bentuknya berbeda sama sekali dengan manusia pada umumnya. Ia memiliki dua tanduk di kepala, sayap yang terbuat dari petir dan ia selalu memegang tongkat keemasan.

Keadaan udara seketika berubah ketika raja Volt telah sampai di hadapan kelima elemen. Karena hal itu pulalah kelima elemen sampai mundur beberapa langkah.
“Selamat datang di planetku. Planet Kamaula. Aku sudah lama sekali menantikan kalian,” ucap raja Volt seraya menyeringai.
Pertarungan besar akan segera dimulai.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s