Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 15.


Christian ada di antara orang-orang berseragam—gabungan polisi dan militer, memegang senjata menjadi seorang polisi sekali lagi. Di tengah aktifitas misinya menembaki para alien, Han sesekali mencuri pandang terhadap sahabatnya itu dan tersenyum sendiri.
Keduanya saling memunggungi, “Aku tahu aku tak seharusnya menghawatirkanmu begini karena kau yang sekarang cuma zombie, tapi aku mohon,” dada Han terasa sangat sesak, “…hiduplah!!!”

Christian nampak tercenung walau sesaat, “Maaf,” katanya.

Han menoleh, “Untuk?” tanyanya.

“Dulu. Kau pasti terus memikirkan aku, bukan?”

“Jangan terlalu percaya diri,” Han menyeringai.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, ketika Christian a.k.a Reinold Serguev gugur dalam tugasnya…
Han menghadap komandannya, keputusannya sudah bulat. Sang Komandan terkesiap sampai sontak bangkit dari tempat duduknya yang maha nyaman itu.
“Apakah kau sudah benar-benar memikirkannya?” tanya Komandan.
Han mengangguk, sangat yakin. Melihat air muka Han bernas keyakinan, Komandan menghembuskan nafas panjang, kembali bersua kursi goyangnya lantas meraih selebaran dari sebalik laci meja kerjanya.
Han menerima selebaran yang disodorkan komandan. Ia membusungkan dada—menegakkan badan dan berhormat lantas berjalan menuju pintu keluar ketika Komandan membalas hormatnya.
Han baru saja memegang gagang pintu ketika Komandan kembali mengingatkan, “Negara sangat berterima kasih kepadamu. Sementara itu, Rei pasti sedih mengetahui keputusanmu ini setelah gugurnya ia. Kau tahu sendiri, apa yang terjadi kepada Rei sama sekali bukan kesalahanmu. Itu pilihannya sendiri untuk melindungi semua orang sekalipun ia harus mati pada akhirnya, kau…” Komandan nampak melepas kaca matanya, menyeka apa yang tanpa sadar telah tak terbendung, “sudahlah. Semua terserah padamu.”
Han hanya mengangguk, ia melanjutkan langkahnya lagi yang sempat terhenti dan keteguhan hatinya tak goyah sedikitpun.
Apa yang telah dikatakan Komandan sama seperti kata semua rekannya di kepolisian bahkan barangkali sesuatu di dalam hatinya yang meronta, mengelak sekuat tenaga agar ironi itu tak mesti terjadi.
Saban hari seusai bertugas, Han memikirkan hal itu. Ia memiliki hobi baru, memandang lekat-lekat selebaran bertuliskan ‘Formulir Pengunduran Diri’ dan kadang berakhir dengan senyum, tawa bahkan air mata. Ia juga melupakan kencan mingguannya dengan Lisa dan Lisa tentu miris dengan perubahan pada sikap Han. Ia tak mempermasalahkan kencan mingguannya sama sekali. Hanya saja, ketika waktu Han sudah berantakan seperti itu, pastilah terjadi sesuatu yang besar. Lisa mencoba menemui Han, namun Han hilang bak ditelan detak detik waktu. Satu-satunya cara untuk menemui Han adalah di ketika kekasihnya itu tengah bertugas di lapangan atau di kantor. Belakangan Lisa mengetahui alasan Han menghilang, dan ia mengancam akan memutuskan ikatan cinta jika Han tetap bersikukuh dengan keputusan terbodohnya itu. Yang diancam bukannya susah dan sedih malah menganggap itu sesuatu yang pantas didapatkannya untuk menghilangkan Reinold Serguev dari muka bumi. Untuk tak mencegah Reinold yang meski berbeda sama sekali dengan dirinya, namun tetaplah manusia yang toh pada akhirnya mati juga.
Dengan punggungnya, Christian mendorong Han karena tetiba berhenti menembak.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berhenti?” gerutu Christian.
Han segera tersadar dalam lamunan, dan karena terkesiap ia malah membabi buta.

Christian tercengang melihat bagaimana Han menembak dan karenanya melumpuhkan banyak alien dalam waktu sekedipan mata.
“Trik apa itu? Trik baru? Untuk trik menembakmu, aku mengakuinya. Itu sangat hebat! Keren!”
Han justru menahan tawa. Andai Christian tahu itu hanya reflek belaka karena ia dikagetkan.

Biarpun Han telah kembali ke medan perang, namun fragmen-fragmen masa lalu itu terus berlanjut terputar di kepalanya.
Pada suatu hari, Han menangkap pembunuh berantai yang sudah bertahun-tahun menjadi target besar penangkapan kepolisian.
Han yang mendapat luka tusukan di perut karena melawan pembunuh berantai, duduk di sebelah pembunuh berantai tersebut dan ia terjebak dalam situasi di mana ia dan pembunuh berantai itu harus saling mengobrol untuk mengusir kecanggungan masing-masing. Tangan pembunuh berantai telah diborgol dan sejumlah luka yang Han bubuhkan telah membuat pembunuh berantai itu terdiam, tak bisa bergerak sama sekali. Han pun telah menghubungi 110 dan ambulance, dan sebentar lagi rekan-rekannya bakal datang menjelang.
“Sudah berapa lama jadi polisi?” tanya Pembunuh Berantai, memulai percakapan.

“Lumayan lama,” jawab Han sembari menoleh.

Di ketika itu pulalah Pembunuh Berantai turut menoleh, “Kau tahu, dulu aku juga ingin menjadi polisi,” aku Pembunuh Berantai.
Han tercenung, pengakuan Pembunuh Berantai telah mengguncang hatinya.
Han menelan ludah, dan mendadak air liurnya seperti bakso bulat yang dalam keadaan bulat itu diangkat dari danau kuah sapi yang masih mengepul dan memaksa Han untuk menelannya saat itu juga. “Bagaimana bisa?” tanya Han.
Pembunuh berantai itu mengalihkan pandangan, memandang ke depan. Ia siap menumpahkan cerita terkelam dalam hidupnya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s