Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 16.


~Pembunuh berantai yang masih remaja~
Baru saja selesai mengisi formulir pendaftaran sekalipun bahkan pengumuman kelulusannya dari bangku SMA belum terturun. Ia sangat yakin, seribu persen yakin. Bagaiman tinggi badan, keberanian dan kepedulian yang dikatakan orang-orang melekat pada dirinya. Perpaduan itu adalah tiket menuju dunia yang ia tuju. Kedua orang tuanya pun setuju, maka sempurnalah rencana rancangan masa depannya.
Hingga pada suatu ketika, saat satu keluarganya tengah tertidur lelap. Tetiba terdengar bunyi gaduh di ruang tamu dan sesiapa menjelang termasuk dirinya. Di perjalanan menjelang itulah ia dapati orang-orang berpakaian serba hitam. Matanya beralih pandang, dan ia tercenung—tersedih, mendapati ayah ibunya tergeletak tak berdaya di lantai dengan luka bacok dan berdarah-darah.
“Apakah kita bunuh dia juga, Bos?” tanya seseorang yang menenteng celurit.

Seorang yang dipanggil Bos itu menggeleng pelan, “Tidak. Kita biarkan ia hidup dan lihat, apakah ia bisa balas dendam di masa depan,” katanya.
Bos dan orang-orang berbaju hitam keluar dari rumah dan menyisakan ia yang dengan kepayahan menjelangi ayah ibunya yang memandang kosong kepadanya.
Ia sedikit terkesiap ketika tengah menangis ketika tangan ayahnya yang juga berdarah menyentuh wajahnya, “Jangan kamu ikuti kata mereka, kamu masih mau raih cita-cita kamu itu, bukan?” butuh berlipat-lipat kekuatan untuk sang ayah pertanyaan satu itu, untuk berkata-kata.
Ia mengangguk, saat itulah ia lihat ayahnya tersenyum sebelum kembali tertidur yang tak bakal bangun lagi.
Ayahnya baru saja mengingatkan, namun entah kemana perginya kekata sang ayah yang padahal ia pun setuju, mengiyakan. Matanya telah ditutupi kegelapan, sehingga ia sama sekali tak bisa melihat mana baik buruk. Sama halnya dengan hatinya, awan-awan itu menggelantung. Pekat.
Sejak saat itu ia hidup hanya untuk satu tujuan, balas dendam. Ia telah lupa sama sekali dengan cita-citanya, ia lupa euforianya andai ia bisa memakai seragam. Padahal, dengan membayangkannya saja sebuah senyuman selalu terbit. Ia sama sekali bukan dirinya yang dulu, yang ambisius dan memiliki cita-cita agar berguna bagi banyak orang.
~Pembunuh berantai yang sudah dewasa~
Tidak sama dengan Bos yang masih memiliki hati dan menyisakan ia karena masih di bawah umur, ia membantai seluruh keluarga Bos bahkan anak bungsunya yang baru berusia lima tahun sekalipun. Itulah misi pertamanya.

Namanya sangat terkenal di internet. Mendadak ia masuk dalam jajaran buronan polisi paling diburu sekaligus yang paling susah untuk ditangkap.
===
Pembunuh Berantai itu menunduk, saat itulah Han menegakkan wajah Pembunuh Berantai lantas menghapus air mata di wajahnya yang terus menerus mengalir itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Han tak mengindahkan, dan terus menghapusi air mata itu. “Hei!!!” teriak Pembunuh Berantai.

Han menatapnya, “Hidup seperti itu, kau pasti sangat kesepian. Aku rasa kau bakal dihukum mati, maka dari itu aku membuat satu keputusan besar,” katanya.

“Keputusan besar?” tanyanya.

Han menghela nafas, “Aku akan membuatmu bahagia,” katanya, “…aku akan jadi sahabatmu.”
Pembunuh Berantai itu nampak tercenung, tak percaya.
Dan seolah tahu apa yang dipikirkan Pembunuh Berantai, Han menambahkan, “Aku serius, berbahagialah.” katanya.
Alih-alih tersenyum sebagai tanda bahwa ia bahagia, Pembunuh Berantai itu justru kembali menangis bahkan air matanya kian meruah. Wajah Han merah, marah. Ia baru saja akan menggerutui Pembunuh Berantai ketika ia dengar sirene dari luar sana. Polisi dan ambulance datang bersamaan, memisahkan Han dan Pembunuh Berantai namun hati mereka sama-sama terisi.
Hampir satu minggu lamanya Han berkencan ruangan bercat putih penuh aroma kimia, karena pisau yang dibenamkan di perutnya oleh Pembunuh Berantai. Luka dan keadaan itulah yang mengingatkan Han pada Pembunuh Berantai, sahabat barunya. Han ingat pada permintaan Pembunuh Berantai, ia ingat karena kata-kata itu pun terus mengaung di telinganya bagai godam yang memaluremukkan hatinya yang memutuskan bakal menyerah itu dan menumbuhkan hati yang lainnya, hati yang baru.
“Berjanjilah satu hal,” kata Pembunuh Berantai berlatar belakang suara sirene dan derap langkah memburu yang kian dekat, siap segera memisahkan ia dan sahabatnya.

“Apa itu?” tanya Han.

“Teruslah berada di jalanmu saat ini, teruslah di sana demi aku.”
Han mengangguk, entah mengapa. Pembunuh berantai itu tak tahu sama sekali bagaimana susahnya Han mengatakan jawaban ‘iya’ dengan mengangguk.
✳✳✳
Christian terkesiap ketika melihat bagaimana Han menembak kemudian, Han benar-benar bergairah menunjukan siapa dirinya yang sesungguhnya kepada Christian.
“Apa-apa’an semangat yang menggebu itu?” gerutu Christian.
Christian terkesiap untuk kedua kali, kali ini karena sebuah peluru berhasil melewati Han dan otomatis menuju ke arahnya. Ia memejamkan mata, bersiap akan mengelurkan kekuatan angin ketika Han…

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s