Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 17.


…secepat kilat berbalik dan menampel peluru itu dengan senapannya.
“Mau mati, ya? Ditembak bukannya menghindar kok malah merem?” tanya Han seraya menyeringai.

Mulut Christian sontak terbuka lebar, terkagum, “Sebenarnya kau ini manusia macam apa?” tanyanya seraya geleng-geleng.
Han menujuk matanya dengan jari telunjuk dan tengahnya. Ia melakukan hal yang sama pada Christian sembari berkata: fokus.
Sementara itu,

Di planet Kamaula.
Pertarungan kelima elemen melawan raja Volt sudah dimulai. Dengan kekuatan petirnya, raja Volt membuat kelima elemen kucar-kacir dan kewalahan.
“Kenapa kita tak boleh menggunakan kekuatan kita, sih?” gerutu Zaqy biar telah Nauval jelaskan berkali-kali tentang hal satu itu.

Nauval nampak menghela nafas atas sifat keras kepala Zaqy, “Dia akan menyerap apapun kekuatan yang kita keluarakan lalu mengembalikannya dalam jumlah yang lebih besar. Saat ini satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah melawannya dengan tangan kosong.” tuturnya.
Yang diberi tahu bukannya menurut, malah mengumpulkan kekuatannya dan melesat menuju raja Volt.
“Tidak! Zaqy! Dasar bodoh!!!” umpat Lia.
Zaqy yakin kekuatan udaranya akan melempar raja Volt sangat jauh dengan jarak sedekat itu. Namun waktu serasa terhenti ketika ia telah cukup dekat dan udara dalam genggamannya hilang begitu saja, hilang entah kemana.
Raja Volt menyeringai, “Kau mencari ini? Baiklah, akan aku kembalikan.” katanya seraya mengarahkan tangannya ke depan.
Kejadian itu terlalu cepat. Zaqy bahkan tak ingat bagaimana ia bisa berteriak dan terlempar jauh ke belakang dan terbatuk-batuk karena terbentur bebatuan. Segala sesuatunya terjadi dalam sekedipan mata.
Lia menghampiri Zaqy, ia membantu Zaqy berdiri namun mendaratkan bogem mentah hingga Zaqy kembali terjatuh.
“Dasar bodoh!!!” teriaknya.

Dhea memegang pundak Lia, “Kau hajar Zaqy nanti saja, Lia. Setelah kita bisa membunuh raja Volt. Terserah, mau kau hajar atau bunuh sekalipun,” katanya.
Lia mengarahkan kepalan tangan ke arah Zaqy, sementara Zaqy menelan ludahnya. Miris.
Di Bumi.
Christian mundur beberapa langkah karena alien-alien itu terus turun, tak ada habisnya.
“Ada apa?” tanya Han.

Christian menggelengkan kepala, “Apakah sekarang kau takut?” tanya Han lagi 

Christian spontan mengangguk dan sejurus kemudian menggeleng, “Kalau kau, manusia luar biasa, saja takut, apalagi aku.” ucap Han sembari turut mundur beberapa langkah.
Keduanya terkesiap ketika pundak mereka ditepuk beberapa kali. Keduanya pun menoleh, mendapati orang-orang berseragam lainnya yang belum mereka lihat sama sekali ada di belakang mereka, mengisyaratkan mereka agar beristirahat karena tiba masanya bergantian.
Rumah Han nampak lengang, tidak ada kebisingan—di depan rumah yang Hiro ciptakan karena bermain di depan rumah seperti biasanya. Alien memang bisa muncul di mana saja, dan Lisa sekalipun telah bersiap untuk hal itu. Maka ketika pintu rumahnya diketuk, Lisa meraih tongkat bisbol dan ia sembunyikan di balik punggungnya.

Lisa membuka pintu, bersiap akan memukul ketika Christian mengeluarkan elemen angin sehingga tongkat itu terlempar ke belakang dan lahirkan bebunyian yang mengundang Hiro ke ruang tamu.
“Ayah!” Hiro berlari menjelang Han, sementara Han berjongkok lantas mendekap Hiro yang merentangkan tangan begitu telah dekat.
Christian nampak tersenyum, hal itulah yang seharusnya selalu ia dapatkan andai ia masih hidup.
“Teringat sesuatu?” tanya Lisa, tetiba.
Christian cuma melirik Lisa sekilas, ia kemudian masuk menuju meja makan dan makan sebelum dipersilakan.
“Ternyata dia makan juga,” gumam Lisa.

Han mengangguk, “Iya. Aku juga baru tahu kalau ia butuh makan,” timpalnya.

Christian menghentikan aktifitasnya dan menatap kedua adiknya, “Aku tahu kalian membicarakan aku, kok.” katanya.
Sepasang suami istri itu segera pergi dari tempat mereka berdiri dan duduk bersama Christian. Christian masih memandangi Han dan Lisa dengan menyeringai dan keduanya sontak salah tingkah.
“Dia punya kekuatan angin,” gumam Han.

“Jadi, kita bisa dipukul tanpa disentuh sama sekali?” tanya Lisa.

Han mengangguk, “Tentu saja.” katanya.

“Mau coba?” Christian nampak mengarahkan telapak tangannya ke depan.
Sesusai membantu Han memakaikan seragam kebesarannya, Lisa keluar dari kamarnya dan benar-benar ingin sendiri. Namun seolah tahu betapa kacaunya hati Lisa, Han mengejar dan mereka berlabuh di balkon belakang rumah.
“Kamu kenapa?”

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s