Diposkan pada Cerbung

Petualangan Lima Elemen : 18.


Lisa tak ingin sama sekali menoleh, “Kamu harus pulang, harus selalu pulang.” jawabnya.

“Tentu saja, Lisa. Aku kan sudah berjanji,”

“Semoga kamu benar-benar menepati janji kamu itu.”
✳✳✳
Kelima elemen saling bergantian menyeka berpuluh-puluh penuh di kening mereka. Raja Volt masih dengan ketenangan tergambar di wajahnya.
“Aku punya rencana,” kata Nauval.

Zaqy segera mendekati Nauval, “Apa itu?” tanyanya.

“Aku tak yakin, tapi kita harus mencobanya.”
Nauval berbisik di telinga Zaqy dan Zaqy mendengarkannya dengan seksama.
Zaqy nampak mengangguk, “Baiklah, mari kita lakukan!” kata Zaqy.
Dari kejauhan; Lia, Dhea dan Abi saling bertanya dalam hati, mereka yang tak diajak dalam rencana Nauval tentu merasa ada sesuatu yang aneh.
Zaqy melesat ke arah raja Volt, diikuti oleh Nauval di belakangnya. Ketika Zaqy melayang dan hendak menyerang Volt, ia merasakan sakit yang begitu sakit di bagian perutnya setelah cahaya kuning menyala dan suara guntur yang keras.
Zaqy menunduk, melihat perutnya nanar, “Petir kuning,” gumamnya dengan terbatuk, mulutnya penuh darah selain perut yang terluka parah itu sendiri.
Dhea, Lia dan Abi sama-sama terpegan, mereka baru saja melihat kenyataan itu bahwa Nauval memang menyerang Zaqy, mereka bertiga bahkan sama-sama yakin mereka baru pertama kali melihat Nauval mengeluarkan petir sekuat itu.

Zaqy merasakan kedua tungkainya lemah, ia jatuh dari ketinggian dan tergeletak di hamparan rerumputan putih di planet Kamaula.
“Zaqy!!!” teriak Dhea, Lia dan Abi hampir bersamaan dan berlari ke arah Zaqy.
Sementara itu, Volt menghampiri Nauval dan dengan cepat mendekap erat Nauval yang tertunduk itu. Volt tersenyum, sesungguhnya ia belum begitu yakin akan apa yang baru saja dilihatnya, tapi ia sungguh bahagia.
Abi terus memandang pemandangan aneh itu, “Apakah kalian memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Abi.

Lia yang sedari tadi fokus mencoba menghentikan pendarahan di perut Zaqy itu pun menoleh, “Apakah Nauval itu…”

Dhea yang biasanya tenang kini mulai panik melihat Zaqy tergeletak tak berdaya dan Nauval dalam pelukan Volt, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya tergesa.

“Larilah,” ucap Zaqy masih terus terbatuk, “pulang ke Bumi. Tinggalkan saja aku.”

Abi bangkit, “Aku lebih baik mati daripada meninggalkan temanku yang sedang sekarat,” ucapnya seraya berjalan menyongsong Volt dan Nauval.

“Sekalipun ada dua petir sekarang,” Dhea pun turut bangkit dan berjalan menyusul Abi, entah kemana hilangnya kepanikan beberapa saat yang lalu.

Abi menoleh ke belakang, “Aku mengerti!” seru Lia seraya mengangguk beberapa kali.

Zaqy tersenyum sesaat, “Dasar kalian, tidak mendengarkan perintah ketua elemen,” katanya nyaris tak terdengar oleh telinga siapapun saking lirihnya.
Tanah putih di planet Kamaula terangkat, membentuk dua buah palu besar yang melayang di awang-awang dan Abi meloncat kemudian meraih kedua palu besar itu lantas melemparkannya ke arah Volt dan Nauval.

Sementara itu Dhea membentuk air yang mengelilinginya menjadi anak panah dan sepersatu dari anak panah itu meluncur ke arah Volt dan Nauval terus-menerus.
Sambil terus menghindar dari seragan bertubi-tubi yang dilancarkan Abi, Volt berkata, “Kau hadapilah elemen air itu, anakku. Aku akan menghadapi si tanah sialan ini,” ucap Volt.

Dhea dan Abi sama-sama tercengang mendengarnya, “Anak?” tanya mereka dalam hati.
Volt memejamkan mata, dalam sekejab petir putih telah menyelimuti tubuhnya.
“Ia semakin kuat,” batin Abi.
Volt tersenyum, ia memadang Abi nun jauh di sana. Secepat kilat Volt melesat, Abi bahkan tak sempat berpikir untuk menghindar. Ia terpental jauh setelah Volt memukulnya dengan petir putihnya. Seperti belum puas melempar Abi, Volt terus menuju Abi dan memukul yang tentu saja Abi terlempar kesana-kemari.
“Abi!!!” teriak Dhea.

“Kamu memang tidak pernah bisa berhenti memikirkan orang lain,” ucap Nauval tepat di telinga Dhea.

Dhea menoleh, petir kuning menyilaukan matanya. Dhea berteriak ketika petir kuning menghantam kulitnya, “Mulai sekarang, pikirkanlah dirimu juga.” ucap Nauval seraya terus menyerang dan Dhea terus berteriak kesakitan.
Di kejauhan…
Mendengar teriakan Abi dan Dhea, Zaqy mencoba bangkit, “Mereka pasti mati kalau terus begini,” katanya seraya memegangi perut, “kita harus bantu mereka,” katanya lagi.

Lia menunduk, “Bagaimana dengan kamu sendiri?” tanyanya.

“Jangan pikirkan aku, aku…”

“Aku cinta kamu.” tukas Lia.

Jantung Zaqy berhenti berdetak, “Aku tidak mau kamu mati, mereka berdua tahu perasaanku jadi mereka menyuruhku di sini merawat kamu,” tutur Lia, matanya berkaca-kaca.
Dhea dan Abi tergeletak tanpa daya di tempat yang berdekatan, Nauval mengangkat tangan ke udara dan petir kuning keluar dari tangannya.
“Ini dari ayah,” kata Volt, petir putih bersatu dengan petir kuning Nauval setelah Volt menyalurkan petir itu dari telapak tangannya.
Terciptalah petir berwarna hitam, petir paling kuat yang pernah ada. Abi dan Dhea hanya mampu menatap kekuatan maha dahsyat itu tanpa bisa mengelak lagi, hal ini adalah sesuatu yang terus mereka pikirkan sejak tadi.

Abi memegang tangan Dhea, mereka saling tersenyum meski mata mereka berkaca-kaca. Mereka lantas memejamkan mata dan tahu ketika mereka membuka mata, mereka akan ada di dunia yang baru.
“Hentikan!!!” teriak Zaqy.
Nauval menoleh, petir hitamnya semakin kuat begitu ia tahu keberadaan Zaqy.

Sementara Lia semakin erat menggenggam tangan Zaqy, ia pun memejamkan mata seperti kedua temannya.
Volt menatap ke bawah, petir hitam mendarat di dadanya, “Apa yang kau lakukan!?” tanya Volt setengah berteriak.

“Maaf, ayah. Sejak ayah membunuh ibu, ayah bukanlah ayahku lagi,” ucap Nauval.

“Kurang ajar!” umpat Volt.
Tubuh Volt hancur setelah Nauval menarik jantung ayahnya, potongan tubuh itu terlempar tak beraturan arahnya. Air mata mengaliri wajah Nauval, ia kini juga telah kehilangan ayahnya.
“Strategi yang aneh,” ucap Zaqy seraya menoleh.

Nauval tersenyum, “Maaf atas lukamu,” katanya.
Perjalanan ke Bumi itu kelima pasang sahabat saling berangkulan, dengan segala luka yang ada mereka masih bisa bertahan hidup dan akan menjalankan misi selanjutnya.
Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s