Diposkan pada Cerpen

Petualangan Lima Elemen : Bonus


Waktu menunjukan pukul 23:55, sebentar lagi genap tengah malam dan hari yang baru terjelangi. Sepasang ayah dan anak itu ada di antara kerumunan kemacetan yang juga ingin merayakan liburan akhir pekan. Mereka tak merasakan sama sekali dinginnya angin malam, malah berpuluh-puluh lahir di tubuh karenanya. Christian pun telah lupa sama sekali dengan pekerjaannya dan ia memiliki pekerjaan baru: menggerutu.
Christian menggelengkan kepala beberapa kali, ia tak ingin hal itu terjadi kepadanya dan Zaqy di hari kebersamaan.
“Ada apa?” tanya Zaqy.

Christian yang sedikit terkejut itu menoleh, “Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan kita lakukan,” katanya.

Zaqy nampak mengangguk-angguk, “Apa kau tahu, kenapa aku memilih untuk tinggal di gedung paling tinggi di kota ini?” giliran Christian yang bertanya.

“Karena kau tak takut ketinggian,” jawab Zaqy, singkat.
Tentu saja. Jawaban yang terlalu standar. Batin Christian.
Christian menyembunyikan kesal dalam senyum ranumnya, “Bukan. Tapi karena ini adalah impian ibumu,” tuturnya.

Zaqy tercenung mendengar seseorang yang telah lama hilang dari hidupnya itu diungkit lagi, “Benarkah?” tanya Zaqy.
Christian mengangguk. Ia berjalan menghala Zaqy dan duduk di samping anak semata wayangnya itu.
“Ibumu itu, dia memiliki impian hidup di tempat yang tinggi semacam gedung apartemen ini. Katanya, dari atap kita bisa melihat kota-kota—kerlap kerlip lampu indahnya, ketika bulan penuh dan bintang bertaburan di langit. Di sore hari juga ada senja yang indah. Di pagi hari ada sunrise yang tak kalah indahnya, kalau kita tak malas bangun tidur.” Christian tersenyum dengan kata-kata terakhir, itu adalah kata mendiang istri yang ditunjukan kepadanya.

Christian menyeka ujung mata, “Bahkan…”

“Bahkan?”

“Ketika mendung pun, pemandangan dari ketinggian tetaplah indah.”
Zaqy bangkit, Christian sontak mendongak. Namun, ia tak bisa menanyakan alasan Zaqy. Akhirnya ia hanya memegang tangan Zaqy, mencegah agar ia tak sampai pergi.
“Ayo kita ke atap!” ajak Zaqy.

“Apa?”

Zaqy menoleh pada ayahnya, “Sekarang jam 05:30. Kita akan melihat apa yang sangat ibu suka,” katanya.
Christian melihat kilat di mata Zaqy, menandakan bahwa kedua mata itu tengah berkaca-kaca. Ia mahfum, betapa rindu pasti menggebu-gebu. Tapi ia tak pun tak mengerti sama sekali betapa tersiksanya, ketika Zaqy bahkan belum pernah bersua dengan ibunya sejak ia jejakkan kaki ke dunia.
Lift itu membawa Christian dan Zaqy sampai ke atap gedung hanya dalam hitungan detik.
“Apa kau merindukannya?”
Christian sontak menoleh ketika pertanyaan itu dilontarkan, Harusnya aku yang mengatakannya, bukan? Meski aku sudah tahu pasti sangat-sangat merindukannya. Batinnya.
Christian tak urung mengangguk, “Tante Lisa, walaupun ia sempat tak mengakuiku namun sekarang ia sudah benar-benar jadi ibuku,” Zaqy memalingkan pandangan ketika mengatakannya.
Dan Christian, sekalipun ia tersenyum tidak ada yang tahu betapa hatinya remuk karena bukan ibu kandung Zaqy sendiri yang menjadi ibunya.
“Paman Han juga, ia menyuruhku memenggilnya dengan titel ‘ayah’. Aku melakukannya dan aku benar-benar memiliki seorang ayah sekarang. Ayah yang lainnya.” Zaqy masih melanjutkan misinya membuat hati sang ayah lebih tenang meski kenyataan malah sebalinya.
Christian tak kuasa menahan rasa yang membeludak dalam hatinya. Ia membabi buta, menghambur dan membuat Zaqy sampai keseulitan bernafas setelah terkesiap, selain kemeja yang dikenakannya yang basah oleh air mata Christian.
“Ah, lihatlah! Senja!” seru Zaqy, mengalihkan suasana.
Christian terpaksa menyudahi pelukan yang juga penandasan rindunya itu. Christian melihat ke depan, kepada senja yang merona setelah matahari dilengserkan dari singgasananya. Malam pun mulai melepas layar, dan titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang terbentuk setelahnya, setelah air mata sepasang ayah dan anak itu telah benar-benar kering. Mereka bertahan berdiri seperti itu, memandangi gurat oranye sampai benar-benar hilang di telan putaran pergantian masa.
“Terima kasih,” kata Zaqy, akhirnya, setelah beberapa saat lamanya udara dikuasai sang lengang.

Dahi Christian berkerut seketika, di ketika itu ia juga ingat bahwa ia tak mengajak Zaqy kemanapun seperti yang telah ia janjikan. “Untuk? Aku bahkan tak mengajakmu kemanapun hanya karena—gambaran ramalan di dalam kepalaku,” tanyaku.

Dan masih asyik memandangi sisa-sisa senja, Zaqy menjawab, “Ibu benar, ini sangat indah. Dengan begini saja, itu sudah cukup.” katanya.
Christian sedikit terkesiap ketika tangan Zaqy melewati tengkuknya sebelum mendarat di pundak dan jarak mereka sama sekali tak bersekat.
Chistian akhirnya mengamini kata-kata Zaqy, Dengan begini saja, itu sudah cukup. Katanya dalam hati.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

5 tanggapan untuk “Petualangan Lima Elemen : Bonus

    1. I am deeply moved. It’s easy to make my heart happy, but not many do it. And that is precisely what you do. Read my writing. Yes, just by reading it. I will also improve and be better if it’s still lacking. So, thank you very much.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s