Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : Prolog


Raka membawa sebuah nampan dengan semangkuk soto Kudus di atasnya yang masih mengepul lengkap dengan irisan jeruk nipis, gorengan dan aneka sate. Ia yakin pernah bertemu dengan polisi bernama Zainal Arifin, akan tetapi ia tak pernah tahu di mana ruangan tempat polisi itu bekerja.

Berjalanlah Raka menaiki lantai tiga kantor kepolisian itu, ia berjalan di koridor dan langkahnya terhenti ketika melihat seseorang tengah duduk di kursi panjang di koridor.


“Permisi, saya sedang mencari ruangan bapak Zainal Arifin, apakah anda tahu rungan tersebut?” tanya Raka.

Orang yang ditanyai Raka itu mendongak, “Oh, pak Zainal. Ruangan beliau ada di pojokan.” jawab orang itu seraya menujuk ke arah barat.


Dalam hati Raka menyesal, padahal tadi ia telah melewati koridor itu akan tetapi tak sadar bila salah satu ruang yang dilewati adalah ruangan yang ia cari. Raka berterima kasih kepada orang yang memberikannya informasi, ia tersenyum lalu berbalik badan dan kembali melangkahkan kaki.

Raka berhenti di depan ruangan bertuliskan “Akbp.Zainal Arifin”, dan ia baru akan memegang gagang pintu ketika pintu itu terbuka. Nampaklah seorang dengan seragam polisi dengan banyak lencana di dada, wajahnya ramah dan keriput yang mulai timbul di wajahnya tak mampu menyembunyikan ketampananannya.


Raka melirik sekilas nama di atas saku kanan itu, “Zainal Arifin,” gumamnya.

“Ya, itu nama saya!” seru polisi bernama Zainal itu.

“Eh, ini pak. Saya membawakan pesanan bapak.” ucap Raka.

Yang diajak bicara justru terpegan, di dalam benaknya terputarkan kenangan-kenangan masa lalu melihat seorang di hadapannya. “Pak!” panggil Raka sembari menyentuh tangan Zainal.

Zainal segera tersadar akan lamunannya, “Maaf, saya hanya teringat masa lalu.” katanya.

“Mari masuk!” ajak Zainal.


Raka dan Zainal bertatap-tatapan, mereka bertahan seperti itu seolah ingin menggali keteduhan di mata lawan mereka. Zainal mengamati mata, hidung sampai rambut ikal Raka mirip sekali dengan temannya dulu. Sementara Raka terheran-heran, belum pernah ada orang yang menatapnya selama itu.


“Pak, makananya nanti dingin loh…” kata Raka, dalam hati ia bersumpah akan meninggalkan ruangan dan orang aneh di depannya bila sudah mendapatkan bayaran.

Masih dengan tatapan terselubung makna, Zainal bertanya. “Nama kamu siapa?” tanyanya.

Meski enggan, Raka tetap menjawab. “Nama saya Raka, pak.” jawabnya.

“Bukan itu Raka, maksud saya nama lengkap kamu.” kali ini Zainal sok akrab hingga membuat Raka risih.

“Raka Abdul Rozaky.” kata Raka.

Zainal membanting tangannya di meja, “Sudah aku tebak; mata, hidung dan rambut kamu memang mirip dengan teman saya,” Raka yang masih terkejut itu mengerutkan dahi, “Akhmad Abdul Rozaky.” lanjut Zainal, entah kenapa Raka juga menyebutkan nama yang sama di hatinya.

“Te-man bapak?” tanya Raka ragu.

Zainal mengangguk, “Bagaimana mungkin ayah berteman dengan anda, sementara ayah saya takut dengan polisi?” tanya Raka lagi.

Kali ini dahi Zainal yang berkerut, “Kamu pasti bohong. Bagaimana mungkin ayah kamu takut polisi sementara ia bercita-cita menjadi seorang polisi?” sambil terkekeh, ia balik bertanya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s