Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 1.

Bandung


Matahari berangsur menua di ujung cakrawala, Enal masih bertahan di bukit Mangu memandangi pemandangan matahari terbenam itu sembari memeluk lutut. Hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya, ia masih memikirkan tentang cita-cita dan belum mendapatkan jawaban sama sekali.


Mamad menepuk pundak Enal, pundak yang penuh akan beban, “Ini adalah hari yang entah keberapa ratus, dan kamu masih belum tahu mau jadi apa?” tanya sahabat yang sudah seperti saudara bagi Enal itu.

Enal menggeleng pelan, “Ayolah, Nal. Kamu ikut aku saja,” Mamad memulai lagi rengekannya.

Kali ini Enal menoleh, “Kamu tahu kan, ayah ibuku itu miskin?” tanyanya penuh penekanan.

Mamad memegang kedua pundak Enal, “Kamu juga pasti tahu kan, ayah dan ibuku lebih miskin lagi?” ia balik bertanya dengan nada yang lebih tinggi.

Enal menunduk, “Masuk akpol itu gratis, kok,” ucap Mamad.


Klise, Enal sudah terlalu sering mendengar kata-kata itu. Enal berpikir Mamad tidak pernah memikirkan tentang kedepannya nanti. Bila Enal gagal, ia jugalah yang akan siap menanggung malu seumur hidup.


Mamad bangkit berdiri, “Aku tidak akan datang menemuimu lagi,” Enal sontak menoleh, “besok aku tunggu di terminal. Kalau kau mau, ikutlah denganku. Tetapi jika tidak, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku akan berangkat sendiri.” kata Mamad seraya menepuk pundak Enal beberapa kali.


Mamad pun pergi, Enal seperti baru saja menemui perpisahan dengan sahabat satu-satunya itu. Enal selalu memikirkan tentang kedua kemungkinan, suatu hal yang membuatnya sampai harus setiap sore menjelangi bukit Mangu untuk menjernihkan pikiran. Bila ia tetap di desa, ia pasti akan lebih sering berkencan dengan cangkul, nyamuk di hutan dan terik mentari. Namun jika ia ikut Mamad, ia pasti akan kelaparan, tak tahu nasib apa menunggunya bahkan ia pernah membayangkan bagaimana jika ia hilang di keramaian kota.


✳✳✳


“Hoi, mas! Jadi mau ke kota, tidak? Kalau tidak, kursinya mau diisi orang lain ini,” tanya seorang kernet pada Mamad yang sedari tadi memandang berkeliling.

Mamad menoleh ke arah kernet itu, “Jadi, pak. Tunggu lima menit lagi ya!!!” teriaknya.

Mata kernet itu melotot, tak tersembunyikan lagi kekesalan di wajahnya, “Satu menit!!!” teriak kernet itu sembari menunjukan jari kelingkingnya.

Mamad terpaksa mengangguk, “Ok!” teriaknya.


Berlatar belakang suara bis dan pengumuman keberangkatan di pengeras suara di terminal itu, hitungan detik menjadi sangat berharga bagi Mamad sekaligus paling mendebarkan. Ia tak masalah bila ia harus berangkat sendiri, namun ia tetap berharap Enal sahabatnya itu ikut dengan dirinya.


Kernet itu melirik jam tangannya, ia baru saja akan memberitahukan bahwa waktu satu menit milik Mamad telah habis ketika Mamad berjalan melewatinya.


“Ayo berangkat, pak. Sepertinya temenku memang gak akan datang,” katanya dengan wajah lesu.

“Tunggu!!! Tunggu!!!’ teriak seseorang dari kejauhan.


Mamad baru saja menginjakkan kaki di tangga bis ketika mendengar teriakan yang tak asing di telinganya itu, ia lantas menoleh dan sedikit terkejut melihat seseorang yang tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.


Kini wajah Mamad berhias senyuman, “Aku ikut!” seru Enal.

Mamad menepuk pundak Enal beberapa kali, “Bagus. Ayo naik!” ajaknya.


Enal pun menyunggingkan senyuman, dunia terbentang luas di depan matanya. Ia telah siap untuk apapun yang ada di hadapan, ia juga telah siap tentang semua yang akan terjadi nanti. Berusaha sekuat tenanga untuk mengetahui berhasil atau gagal, bukannya diam dan membuat kesempatan-kesempatan hilang.


Bis itu pun melaju menjauhi kota kelahiran, sepanjang perjalanan kedua sahabat itu saling tersenyum setelah sama-sama berpandangan. Mimpi hanyalah sehasta dari jarak mereka.


“Aku penasaran, bagaimana akhirnya kau memilih ikut denganku?” tanya Mamad.

Senyuman Enal justru semakin ranum, “Ceritanya panjang.” jawabnya.


Enal mengingat kejadian sore itu, sore saat ia pulang dari bukit Mangu dan menghadap ayahnya.


Nafas Enal terengah-engah setelah berlari menuju rumah, “Ada apa?” tanya Bakhri, ayah Enal, yang menghentikan aktifitas mengunyahnya begitu mendengar langkah kaki anak semata wayangnya yang memburu itu.

“Aku sudah putuskan,” Enal menghela nafas, “…aku akan ikut Mamad ke kota besok, untuk jadi seorang polisi.” katanya.

Bakhri terbatuk-batuk mendengar kekata yang dilontarkan Enal, “Apa!?” tanyanya setengah berteriak.

“Aku gak peduli walaupun ayah marah, ayah melarang, aku akan tetap pergi besok.” tukas Enal.

Setelah meneguk air putih, Bakhri bangkit berdiri, “Siapa juga yang marah sama kamu. Ayah itu cuma terkejut saja, kok tiba-tiba pengen jadi polisi gitu, lho.” katanya sembari geleng-geleng kepala, masih tidak yakin dengan apa yang telah didengarnya.

Enal menunduk, “Sebenarnya gak tiba-tiba kok, yah. Cuma aku takut mengataknnya selama ini,” tutur Enal, kesedihan mulai menghiasi wajahnya.


Bakhri berjalan mendekati Enal, ia lantas mendekap erat Enal. Mereka bertahan lama seperti itu dan dekapan yang jarang didapatkan keduanya berartikan apapun.


“Maafkan ayah yang tidak mengerti kamu,” ucap Bakhri.

Bahkri melepaskan pelukan Enal, ia lantas memegang kepala Enal, mengusap-usap rambut kumalnya itu. “Kamu boleh pergi,” kata Bakhri, wajahnya berhias senyuman.

Enal nyaris tak percaya dengan reaksi ayahnya, “Ayah serius?” tanyanya.

Bakhri mengangguk, “Ayah, benar-benar serius?” tanya Enal lagi untuk memastikan ketidakmungkinan di hadapannya itu.

“Ayah boleh miskin, tapi ayah masih punya tabungan untuk saat-saat seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir soal itu,” kata Bakhri penuh penekanan.

Kali ini Enal yang memeluk erat ayahnya, “Terima kasih, yah.” ucapnya.

“Tapi kamu harus ingat satu hal, kamu harus siap untuk apapun hasilnya nanti. Berhasil atau gagal, kamu harus bisa menerimanya. Apapun itu, ayah akan selalu bangga sama kamu.” Bakhri mengataknnya dengan sebutir air mata melewati pipi.

Enal mengangguk, “Aku tahu, yah. Aku pasti akan menerima apapun hasilnya nanti, yang terpenting aku sudah berusaha.” katanya.

Enal melepaskan pelukan itu, Bakhri sontak menyeka air matanya. “Ayah tidak apa-apa aku tinggal sendiri?” tanyanya.

“Gak apa-apa, justru ayah mengkhawatirkan kamu.” Bahkri kembali membelai rambut Enal, suatu hal yang akan menjadi yang paling ia rindukan nanti.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

7 tanggapan untuk “Cerita Masa Lalu : 1.

      1. Saya? Wkwkwk

        Saya sangat penakut dan lemah juga tidak berprestasi. Dengan mematuhi mereka saja saya rasa sudah cukup.

        Pernah suatu ketika saya hidup begitu dekat dengan mereka, di sana saya tahu betul bagaimana mereka berjuang untuk dapat seragam. Itu menyentuh sekali sedang omongan orang selalu miring.

        Suka

    1. And thank you my friend for reading my new fiction story. As you know, that was about “how an patrner of friendship try to fly to their dream” but, all is’nt easy.

      This will be update every thursday. So, don’t be late.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s