Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 2.

Mamad nyaris bertahan beberapa saat dengan mulut menganga mendengar penjelasan Enal, “Begitulah, kalau kau?” tanya Enal.

Mamad berdeham, “Aku mulai dari mana ya, sebenarnya sih…”


Mamad pun mengingat kejadian sore hari itu…


Mamad menemui Budi, seorang juragan tanah. Mamad menenteng sebuah surat di tangan kanan.


Dahi Mamad berkerut, “Cuma segitu saja?” tanya Mamad.

Budi mengangguk, “Kalau kamu mau uang cepat, ya adanya cuma segitu.” jawabnya dengan santai.

Mamad langsung menunduk, “Sisanya nanti aku kasih ke ibu atau bapak kamu saja ya,” kata Budi cepat-cepat menambahkan setelah melihat Mamad bersedih seperti itu.


Mamad mendongak, senyum itu terbit di wajahnya.


Budi menghitung sekali lagi bergepok-gepok uang yang tergelar di meja, setelahnya ia memasukan uang itu ke dalam tas lalu menyerahkannya kepada Mamad. Sementara itu, Mamad menyerahkan sertifikat tanah yang telah lama didekapnya setelah menerima uang itu.


“Terima kasih,” ucap Mamad.

Budi tersenyum, “Semoga kamu sukses, aku sebagai orang tua di desa ini cuma bisa bantu do’a dari sini,” katanya tulus.


Mamad berterima kasih untuk kedua kali setelah mendengar dukungan dari orang asing itu, setelahnya ia pulang ke rumah.


Rahman, ayahnya telah menungguinya di ruang tamu. Ia langsung bangkit dan berkacak pinggang begitu pintu itu terbuka, ia pun menghampiri Mamad dengan wajah terisi kekesalan.


“Sampai kamu menjual tanah demi cita-cita kamu…” Rahman mengacungkan telunjuknya ke udara.

Mamad menunjukan tas yang dibawanya, membuat ayahnya berhenti berbicara. “Sudah aku lakukan sebelum pulang ke rumah.” tukasnya.

Sontak Rahman mendorong Mamad saking kesalnya, “Dasar egois, tidak tahu diri. Kamu pikir itu hanya milikmu?” tanyanya sembari memegangi dada yang mulai merasakan nyeri.


Dengan kepayahan, Rahman berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Mamad yang terjatuh itu bangkit, ia memunguti uang-uang yang berserakan.


Sita berjongkok di dekat Mamad, “Mas, gak apa-apa?” tanyanya seraya membantu Mamad memunguti uangnya.

Mamad menoleh lantas menggeleng pelan, “Uang segini memangnya cukup?” tanya Sita lagi.

“Sebenarnya sih…”


Belum sempat Mamad menjawab pertanyaan adiknya, perhatiannya tersita dengan Sita yang mencopoti kedua antingnya.


“Ini buat mas,” kata Sita sembari tersenyum.

Ragu, Mamad menerimanya, “Kamu yakin?” tanyanya.

Sita mengangguk, “Sita pengen lihat mas pakai seragam,” katanya, senyum itu masih bertahan di wajahnya.

Mamad mendekap Sita, “Terima kasih,” gumamnya.

“Ini dari ibu,” kata Tina, ibunya Mamad, sembari menyodorkan bungkusan tebal.

Mamad melepaskan pelukannya terhadap Sita, dahinya segera berkerut begitu tersadar, “Ibu jadi jual Komeng?” tanyanya.

Tina mengangguk, “Demi kamu, apapun akan ibu lakukan,” katanya, matanya berkaca-kaca.


Kedua mata Mamad pun berkaca-kaca, ia tahu seperti apa ibunya itu menyayangi Komeng, sapi satu-satunya yang dimiliki. Ia bahkan tak akan pernah menyangka bila ibunya itu akan menjual Komeng. Tak pernah sekalipun.

Mamad mendapatkan dukungan-dukungan itu lagi, tekadnya semakin yakin. Dalam hati ia berkata ia harus pulang dengan seragam, sebagai seorang patriot.


✳✳✳


“Lalu, bagaimana dengan ayah kamu?” tanya Enal.

Mamad menoleh, “Dia tetap sama, dia tidak setuju,” jawabnya dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kesedihan.

“Tapi sudahlah,” Mamad tersenyum, “…kita harus bersemangat mulai dari sekarang.” ucapnya lagi.

“Ya!” seru Enal, wajahnya bernas keyakinan.

Enal teringat akan sesuatu yang membuat ia menoleh ke arah Mamad, “Bagaimana dengan Ajeng dan Dissa?” tanyanya penasaran.

“Itu…”


Segelintir ingatan mulai bermunculan lagi di benak Mamad, kenangan tentang Ajeng sahabatnya dan Dissa kekasihnya.


Sebelum ke rumah Budi si juragan tanah, Mamad terlebih dahulu ke rumah Ajeng. Ajeng tengah menyapu di halaman rumahnya saat Mamad tiba, Ajeng menguncir rambutnya dan ia memakai  jarit yang membuatnya terlihat cantik.


Ajeng menghentikan aktifitasnya begitu ia melihat Mamad di hadapannya, “Aku mau ngomong sesuatu,” kata Mamad.

“Kalau kamu tetap mau mengejar cita-cita kamu itu, ya tinggal pergi aja sana,” kata Ajeng seraya kembali menyapu.

“Aku memang akan pergi, dan hari itu adalah besok,” ucap Mamad.

Dada Ajeng bagai tertusuk duri-duri tajam, kesemuanya terkumpul di satu titik bernama hati. Ajeng mendongak, “Kamu benar-benar mau ninggalin aku?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


Di beranda rumah Ajeng terdapat sebuah dipan, di sanalah kedua insan itu duduk berhadapan. Bunga-bunga penuh warna bergoyang-goyang tertiup angin, Mamad memandanginya penuh senyum. Ajeng benar-benar menyayangi tanaman-tanaman bunga di tamannya, seperti ia menyayangi Mamad.


Ajeng menunduk, menyembunyikan air matanya, “Apa kamu yakin?” tanyanya penuh pengharapan.

Mamad mengangguk, “Kalau pas kamu pulang aku udah nikah gimana?” tanya Ajeng lagi.

Kali ini Mamad tersenyum, “Aku tahu sahabatku yang satu ini adalah manusia paling setia di dunia,” kata Mamad seraya mencubit pipi kanan Ajeng.


Ajeng mengharapkan jawaban yang lain-lain, akan tetapi hanya itu yang keluar dari mulut Mamad. Realita selalu di bawah pengharapannya.


“Kalau tahu begitu, seharusnya kamu jangan pergi,” protes Ajeng, “…awas aja kalau kamu pulang gak pakai seragam.” tambahnya dengan bibir mengerot.

Ajeng menggenggam kedua tangan Mamad, “Saya, Ajeng Rahayu, dengan ini berjanji tidak akan menikah sebelum sahabat saya yang bernama Akhmad Abdul Rozaky alias Mamad menjadi seorang polisi!!!” Ajeng mengatakan ikrarnya dengan lantang.

“Dan saya, Akhmad Abdul Rozaky alias Mamad, dengan ini berjanji tidak akan pulang sebelum menjadi seorang polisi!!!” teriak Mamad tak kalah lantang.


Mereka kemudian tertawa bersama-sama, di kota nanti Mamad pasti akan merindukan kekonyolan-kekonyolan yang diciptakan sahabat perempuan satu-satunya itu. Sementara Ajeng menyayangkan kepergian dan betapa ia ingin mengungkapkan segala sesuatunya saat itu juga meski tak bisa. Wajah sahabatnya sedang dipenuhi kegembiraan, ia tak mungkin meniadakan hal itu begitu sebuah kejujuran terungkapkan.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s