Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 3.

Mamad berjalan di jalanan aspal dengan sepeda ontelnya, sepeda itu adalah sepeda ayahnya yang diberikan kepada Mamad. Menurut ayahnya, sepeda itu awalnya adalah sepeda milik kakeknya.

Mamad sesekali melirik bunga yang ia bawa, sore menjelang malam itu ia berniat menemui Dissa kekasihnya.

Jalanan berkelok-kelok dan naik turun, untunglah jalanan sudah beraspal yang melancarkan perjalanan Mamad dan siapapun yang melewati jalan itu. Mamad hanya berpapasan dengan beberapa motor dan sebuah mobil, memang belum banyak orang yang memiliki kendaraan-kendaraan tersebut. Di kiri dan kanan jalan terdapat sabana hijau yang luas, juga beberapa pepohonan yang menggugurkan bunga-bunga yang memenuhi jalanan. Daerah tempat Mamad tinggal memang masih sangat terjaga keasriannya.


Senja telah tertelan gelap, suara adzan berkumandang dan Mamad baru saja akan mengetuk pintu ketika pintu rumah Dissa itu terbuka.


“Kamu mau ke masjid ya? Ini bunga buat kamu,” tanya Mamad seraya menyodorkan sebuket bunga itu, nafasnya tetengah-engah.

Dissa menerima bunga itu, “Mau nunggu di sini atau ikut ke masjid?” Dissa balik bertanya.

“Ikutlah,” jawab Mamad.

“Aku kan gak tahu seperti apa kekasihku yang sekarang, apakah dia sering ibadah atau telah melupakan Tuhan. Aku jarang sekali bertemu dengannya akhir-akhir ini,” kata Dissa sembari memalingkan pandangan.

Mamad senyam-senyum sendiri mendengar kata-kata itu, “Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk,” katanya beralasan.


Tak terasa iqamah sudah terdengar, Dissa langsung berlari tanpa menghiraukan Mamad yang terlihat akan menuturkan seperti apa kesibukannya.

Mamad berlari menyusul Dissa, namun kekasihnya yang satu itu sudah tak dapat lagi terkejar.


Mamad duduk di beranda rumah Dissa, ia mengamati setiap sudut rumah dan kesemuanya selalu membuatnya betah berlama-lama di sana. Rumah Dissa sangat bagus dan luas, sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang masih tradisional dan terbuat dari kayu.


Dissa meraih bunga yang tergeletak di meja itu, ia baru saja akan menciumnya ketika Mamad tersadar dan menoleh. Dissa mengurungkan niatnya setelah melihat bunga itu sedikit kotor dan berdebu, ia kembali meletakan bunga itu di tempat semula.


“Ini dari rumah Ajeng, ya?” tanya Dissa.

Mamad mengangguk, “Iya,” jawabnya.

“Jadi kamu ke rumah Ajeng lebih dulu lalu ke sini?” tanya Dissa lagi.

Mamad kembali mengangguk, “Ternyata aku tak lebih berharga dari sahabatmu itu, huh!” Dissa duduk di sebelah Mamad namun ia melihat ke arah yang berlawanan.

Mamad tak mengindahkan, “Besok aku jadi ke kota,” katanya.

Dissa sontak menoleh, “Serius?” tanyanya antusias.

“Aku selalu serius kalau itu tentang kamu, sebab aku sangat mencintai kamu,” jawab Mamad.

“Aku harap kita bisa lulus sama-sama,” kata Dissa.


Tetiba seseorang muncul di belakang Dissa, orang itu langsung menarik lengan dan memaksa Dissa berdiri. Dissa baru saja akan protes, sebelum ia sadar orang yang menarik lengannya adalah Umam, ayahnya sendiri.


“Masuklah, tidak baik anak perempuan malam-malam begini di luar, sama laki-laki lagi,” kata Umam seraya menunjuk ke dalam rumah.

Setelah mendongak, Mamad berdiri, “Om,” sapanya ramah.

Mamad baru saja akan meraih tangan Umam ketika Umam menampiknya, “Pulang kamu!” hardiknya.


Mamad berjalan menuju sepeda ontelnya, sementara itu Dissa menyaksikan kepergian kekasihnya dari balik jendela kamarnya. Dissa berharap ia bisa menyemangati Mamad malam itu.


✳✳✳


“Jadi kamu benar-benar melakukan ini demi cinta?” tanya Enal.

Mamad mengangguk, sejurus kemudian ia menggeleng. “Jawabannya iya dan tidak. Aku memang melakukan semuanya demi cintaku pada Dissa, akan tetapi aku juga memang memimpikan profesi ini.” jawab Mamad.

“Pokoknya kita harus pulang dengan memakai seragam,” kata Mamad.

“Ya, aku yakin aku pasti bisa.” Enal menambahkan.


Setelah setengah perjalanan mereka memutuskan untuk saling bercerita, akhirnya kedua sahabat itu mengistirahatkan badan dengan terlelap di kursi penumpang. Di dalam mimpi masing-masing mereka, ada mimpi yang menjadi kenyataan.


Enal merasakan pundaknya ditepuk beberapa kali, ia terkaget dan terjaga. “Turunlah, kita sudah sampai,” ucap seseorang.


Enal mendongak, rupanya itu adalah kernet bis yang memberitahukan bis telah sampai tujuan. Enal menggoyang-goyangkan badan Mamad, Mamad terjaga namun ia kembali memejamkan mata.


“Woi!!!” teriak Enal tepat di telinga Mamad.

Mamad kali ini terjaga, ia menoleh ke arah Enal dengan mengerotkan bibir dan menutupi telinganya. “Iya, udah bangun nih,” katanya dengan nada protes.


Mamad dan Enal duduk di bangku di terminal, mereka sama-sama bingung hendak ke mana. Mereka sampai di terminal di kota tengah malam, tidak ada kehidupan lagi selain beberapa bis yang masuk dan keluar terminal.

Mereka membuat suatu keputusan, mereka akan bermalam di terminal itu.


Pagi terjelangi, Mamad terjaga ketika sinar mentari yang menyilaukan membangunkannya. Ia memandang berkeliling, terminal itu mulai ramai dengan orang-orang dan bis-bis yang memenuhi setiap sudut.


“Enal,” gumam Mamad.

“Apa?” tanya Enal dari arah belakang.

Mamad menoleh, “Aku kira kau meninggalkanku,” katanya.

“Mana mungkin aku meninggalkanmu, kita ini sahabat,” kata Enal, terdapat penekanan pada kata ‘sahabat’.


Mamad dan Enal baru saja selesai membicarakan tentang tempat tinggal ketika seseorang berwajah garang menghampiri mereka.


Sontak Mamad dan Enal mundur beberapa langkah, sepertinya mereka memikirkan hal yang sama. “Punten, nuju neneangan enggon tinggal nya?” [1] tanya orang itu sopan.

Mamad menoleh ke arah Enal yang menoleh ke arah dirinya, “M—muhun,” [2] jawabnya terbata.

Orang itu tersenyum, “Abdi teh aya, lamun hoyong. Abdi jamin, mirah.” [3] kata orang itu dengan senyuman yang mengembang.

Mamad dan Enal kembali saling berpandangan, “Gimana?” tanya Mamad.

“Terserah kau saja, yang penting benar-benar gak mahal.” jawab Enal.

“Nya enggeus, hayu ngiring abdi.” [4] perintah orang itu sembari berlengang.


Mamad dan Enal kembali berpandangan, ini sudah ketiga kalinya. Mereka bahkan belum memutuskan, namun orang berwajah garang itu seperti sudah mendapat jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaannya.

Mamad dan Enal akhirnya mengikuti orang itu yang berjalan kaluar terminal.


[1] Maaf, lagi nyari tempat tinggal ya?

[2] Iya

[3] Saya ada, kalau mau. Saya jamin, murah.

[4] Ya sudah, mari ikut saya.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s