Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 4.

Setelah melewati sebuah perkampungan hingga jalan yang sempit dan kotor, Mamad, Enal dan orang berwajah garang itu berhenti di sebuah rumah yang cukup luas.


“Napangkeun, nami urang teh Tisna,” [5] ucap Tisna sembari menoleh.

“Saya Mamad,” Mamad memperkenalkan diri, “…ini teman saya, Enal.” giliran Enal yang diperkenalkan Mamad.

Tisna memegang gagang pintu, “Tunggu,” kata Mamad.

“Aya naon, atuh?” [6] tanya Tisna yang kembali menoleh ke arah Mamad.

Mamad mengumpulkan keberaniannya, “Saya pengen tempat yang dekat dengan akpol,” jawab Mamad.

“Maksadna eta?” [7] tanya Tisna sembari menunjuk sebuah gedung yang terlihat dari beranda rumah itu.

Mamad dan Enal menoleh, sementara Tisna menutup mulutnya yang melongo begitu menyadari suatu hal. “Duh, Gusti. Maraneh teh calon pulisi?” [8] tanya Tisna lagi.

“Muhun,” kali ini Enal yang menjawab.

Tisna membuka pintu, “Upami kitu, abdi parin diskon engke,” [9] katanya sembari memasuki rumah itu.

“Hatur nuhun, akang,” [10] ucap Mamad dan Enal hampir bersamaan.

Tisna berbalik badan dan menatap Mamad dan Enal dengan tatapan mata yang serius, “Ulah saur akang!” [11] katanya, terdapat penekanan pada kata ‘akang’.

“Lalu?” tanya Mamad dengan dahi berkerut.

Tisna memandang berkeliling, setelah dirasa tidak ada orang, ia mendekati kedua sahabat itu. “Jalma lumrah saur teteh geulis,” [12] katanya, kali ini penekanan terdapat pada kata ‘teteh geulis’.


Mamad dan Enal gantian melongo, mereka saling mengagguk setelahnya, mengiyakan apapun yang diucapkan Tisna. Bagaimana mungkin seorang Tisna yang gagah perkasa dan berwajah garang bisa bersikap seperti itu, mereka benar-benar tak habis fikir.


Mamad dan Enal menaruh pakaian mereka di lemari, setelah itu mereka mengeluarkan sebuah figura. Di figura Enal, terdapat foto dirinya dengan sang ayah beberapa tahun yang lalu. Sedang di figura Mamad terdapat foto Dissa yang sedang berpose dan terlihat begitu cantik.


Enal menoleh, “Aku kira kau bakal pasang foto si Ajeng itu,” ucapnya.

Mamad tertawa mendengar komentar sahabatnya itu, “Yang benar saja kau, Ajeng itu kan sahabatku,” katanya sembari menepuk lengan Enal.

“Justru itu kau harus memasang foto dia. Kau tahu, hanya sahabat yang akan menemani kita sampai kapanpun dan dalam keadaan seperti apapun juga.” tutur Enal.

Mamad mengibaskan satu tangannya, “Ah, sudahlah. Aku mau tidur dulu, capek,” katanya seraya membenamkan diri ke dalam kasur.


Enal pun melakukan hal yang sama, ia belum yakin bahwa ia telah menginjakkan kaki di kota. Ia masih menganggap ini adalah mimpi yang selalu terjadi di malam-malam yang panjang. Ia berada satu ruang dengan Mamad, bahkan sesekali ia mengenakan seragam dan Mamad pun malakukan yang demikian. Mereka berjalan menuju sekolah dan lulus dengan nilai terbaik. Mereka mendapatkan jabatan, memperoleh lencana-lencana dan membuat keluarga bangga. Mimpi-mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.


“Apa yang akan kau lakukan jika kau gagal?” tanya Enal.

“Oi, kenapa kau tanya seperti itu?” tanya Mamad yang sedikit kesal dengan pertanyaan Enal.

Enal menoleh, “Andai, Mad. Andai…” ia berusaha menjelaskan.

“Kalau aku gagal…”


Mamad berada di depan rumah, ia tak mempunyai keberaniaan dan kekuatan hanya untuk mendorong pintu itu supaya terbuka. Ia bertahan di sana dengan semua ketakutan-ketakuran yang bersarang di hati dan pikiran.


Rahman membuka pintu rumah, ia terlihat memakai caping dan memanggul cangkul di pundaknya. Tangan kirinya memegang arit, ia bersiap pergi ke sawah.


Rahman sekilas melihat ke arah Mamad, ia langsung memalingkan pandangan begitu mengetahui Mamad tak memakai seragam. “Untuk apa kembali ke rumah ini? Kau bahkan tak pakai seragam yang selalu kau banggakan itu,” tanya Rahman seraya menyeringai.

Mamad memegang tangan ayahnya, “Maafkan aku ayah,” katanya dengan wajah memelas.

Rahman segera menampiknya, “Pergi kamu! Kamu bukanlah anakku lagi,” hardik Rahman dengan mata berkaca-kaca.


Mamad langsung mundur beberapa langkah begitu dirinya diusir, sedangkan Sita dan ibunya yang mendengar hal itu dari dalam rumah hanya mampu berpelukan membagi kesedihan masing-masing, mereka tak bisa berbuat banyak ketika Rahman tengah naik pitam.


Mamad pun pergi, ia berjalan jauh untuk menemui Dissa. Sementara itu rasa sakit di hati Rahman terungkit, kali ini dengan sakit yang lebih sakit lagi. Sakit karena kegagalan.


Umam tengah duduk di beranda rumahnya ketika Mamad sampai di sana, “Permisi, om. Apakah Dissanya ada?” tanya Mamad.


Seharusnya Dissa ada di rumah, mempersiapkan apa-apa saja yang hendak dia bawa ke asrama.


“Tidak.” jawab Umam, ketus.

“Tapi, Om…” Mamad tetap ingin menemui Dissa saat itu.

“Pergi!” ucap Umam seraya menunjuk ke arah jalanan.


Mamad menunduk, ia pun menuruti perintah Umam untuk pergi dari rumah itu saat itu juga. Mamad berjalan kembali ke kampungnya, melewati jalanan berkelok dan naik turun yang cukup jauh, kali ini rumah Ajenglah yang ia tuju.


Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat Ajeng. Ajeng tengah menyirami bunga-bunga di taman kecilnya sore itu, sesekali Ajeng akan bernyanyi menyanyikan lagu tentang bunga-bunga yang tumbuh bila terus disirami.


Nyanyian Ajeng terhenti ketika melihat seseorang di berjalan ke arahnya, “Aku pulang,” ucap Mamad.

Ajeng mengamati sejenak apa-apa saja yang Mamad pakai dan apa-apa saja yang Mamad bawa, “Mana seragam kamu?” tanya Ajeng.

Mamad menggeleng, “Apakah jika aku pulang tak pakai seragam, itu berarti kita bukan sepasang sahabat lagi?” ia justru balik bertanya.

“Ya, tentu saja. Kau tahu, sudah tiga orang yang datang melamarku namun selalu aku tolak karena aku menantikan keberhasilan sahabatku yang seorang pemimpi itu yang bercita-cita menjadi patriot, seorang yang mengabdi kepada negara dan apalah itu, aku menantikannya.” jawab Ajeng.


Mata Mamad berkaca-kaca, ia tak bisa lagi berkata-kata, hanya bulir-bulir di matanya yang menggambarkan betapa ia teramat sangat sedih saat itu.


Ajeng berbalik dan masuk ke dalam rumahnya, ia sempat menoleh ke belakang dan menyeringai ke arah Mamad. Saat itulah persahabatan yang telah dibangun sejak kecil itu terlerai.


[5] Perkenalkan, nama saya Tisna,

[6] Ada apa, atuh?

[7] Maksudnya itu?

[8] Duh, Tuhan. Kalian ini calon polisi?

[9] Kalau begitu, nanti saya kasih diskon,

[10] Terima kasih, Abang,

[11] Jangan panggil abang!

[12] Orang lebih sering panggil kakak cantik,

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s