Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 5.

Mamad menoleh, ia tertawa kecil melihat Enal sudah terlelap bahkan dengan mulut menganga. Mamad yang sedikit kesal itu menggoyang-goyangkan tubuh Enal hingga Enal gelagapan dan terjaga.


“Malah tidur kau, di saat aku sudah banyak-banyak cerita,” protes Mamad.

Enal menguap, “Iya iya, aku denger kok,” katanya dengan mata yang tak mau terbuka.

“Kalau kau, bagaima kalau gagal?” tanya Mamad.

Enal memandang langit-langit kamar, di sana tak ada apapun selain susunan genteng warna merah tua. “Bahkan membayangkannya saja aku tak bisa…” kata Enal.


Pikiran Enal berputar, mengungkit mimpi buruk dalam pikirannya itu lagi.


Enal pulang dengan menenteng dua buah tas besar dan satu tas kecil di punggung. Selain membawa lelah, ia juga pulang membawa malu. Orang-orang melihatnya dengan tatapan yang menusuk jantung hati, ia hanya dapat menunduk setelah dipandang begitu.


“Aku pulang,” ucap Enal.

Bakhri yang tengah tiduran di dipan pun segera menuju pintu keluar begitu mendengar suara yang tak asing itu, “Sebentar,” ucapnya dengan wajah berhias senyuman.


Bakhri membuka pintu rumahnya, ia sedikit tak percaya dengan keberadaan orang di depan rumahnya. Enal akhirnya pulang ke rumah.


“Ayah, maaf. Enal gagal,” ucal Enal seraya menunduk.

Bakhri memeluk anaknya, “Tak apa, Nal. Melihat kamu berusaha saja ayah sudah sangat senang,” katanya sembari menepuk pundak Enal beberapa kali, ia juga menyeka air matanya.

Enal segera melepas pelukannya begitu punggungnya terasa basah, “Ayah nangis?” tanyanya.

Bakhri mengangguk, “Ayah terharu, lebih tepatnya. Ayah sangat merindukan kamu,” ucapnya.


Enal mendaki bukit Mangu, ia menuju puncak tertinggi yang bahkan belum pernah ia pijaki. Dari atas ketinggian di bukit itu, angin berhembus menghempas tubuhnya dan bendera merah putih yang mulai usang warnanya.

Di sisi kanan terdapat sebuah jurang yang dalam, cukup untuk membenamkan tubuh Enal hingga tak ditemukan siapapun. Ke sanalah pandangan mata Enal menuju, ia menutup matanya lantas merentangkan kedua tangan.

Tubuh Enal terasa ringan, akan tetapi ia tetap jatuh ke bawah.


Tubuh Enal bergidik, “Ih, ngeri kali,” ucapnya.


Suara ketukan pintu terdengar ketika Enal selesai menceritakan cerita perandai-andaian kegagalannya. Mamad belum sempat menanggapi, ia lebih memilih untuk bangkit dan berjalan menuju pintu.


“Dahar heula, kasep. Parantos abdi sadiakeun ka meja,” [13] ucap Tisna.

Mamad menyunggingkan senyuman, “Hatur nuhun atuh, teh. Mohon maaf, ngerepotin,” ucapnya.

Tisna mengibaskan satu tangannya, “Henteu nanaon,” [14] katanya.

“Sok, atuh. Dahar,” [15] katanya lagi mengingatkan.


Mamad dan Enal pun keluar kamar, ia berjalan menuju meja makan dengan aneka makanan di atasnya. Di sana sudah ada Tisna, menikmati secangkir kopi kesukaannya. Ini adalah yang pertama kali baginya setelah sekian lama rumahnya tak dihuni calon patriot. Ia selalu menyambut hangat orang-orang itu, hal itu sekedar mengingatkan dirinya kepada sang ayah yang juga berprofesi serupa seperti orang-orang itu.


“Linggih,” [16] ucap Tisna mempersilakan.

Mamad dan Enal mengangguk pelan, “Teh Tisna teh tinggal sama siapa?” tanya Mamad.

“Sendiri,” jawab Tisna singkat.

“Ayah? Ibu?” tanya Mamad lagi.

Tisna menggeleng, “Maaf…”

“Mereka di kampung.” tukas Tisna sebelum Mamad berkata-kata.

“Saya itu sama seperti kalian, saya dipaksa menjadi seorang polisi oleh ayah saya yang seorang polisi. Saya menolak karena saya memiliki cita-cita sendiri, cita-cita yang membuat saya diusir dari rumah. Ah, tanpa itu pun saya juga pasti diusir karena dianggap tidak berguna,” Tisna mulai mencerocos.

Mamad mulai memindahkan nasi goreng yang masih mengepul itu ke piring di hadapannya, “Memang cita-cita teteh apa?” tanya Mamad.

“Oh, iya. Kami gak dipaksa sama siapapun kok,” Mamad menambahkan.

Tisna menatap Mamad, “Bagus kalau kalian tidak dipaksa dan tidak terpaksa. Cita-citaku, pengen jadi koki.” ia menjawab seraya memandangi masakan di depannya.

“Wah, saya jadi gak sabar pengen coba makanan ini,” ucap Mamad bersemangat.

Enal berdeham, “Tapi ada lo teh, yang pengen banget jadi polisi demi cinta,” katanya.

Dahi Tisna berkerut, ia giliran memandang Enal, “Cinta sama negara kan, maksud kamu? Indonesia,” tanyanya serius.

Enal menggeleng, “Seorang perempuan cantik,” ucapnya, nada bicaranya seolah mengeja.

Mamad terbatuk-batuk mendengar jawaban Enal, ia langsung menyimpulkan bahwa Enal tengah membicarakan tentang dirinya. “Nginem hela cais bodasna,” [17] perintah Tisna.


Mamad pun menegak air putih di sebelah piringnya, ia bahkan langsung menghabiskan semuanya saking inginnya cepat terbebas dari batuknya itu.


“Sudahlah, lebih baik kita makan dulu saja, bicaranya nanti,” ucap Mamad.

Enal menyeringai, “Dasar,” gumamnya.


Mamad yang menyuruh Tisna dan Enal untuk berhenti berbicara dan lekas makan malah mengehentikan aktifitas makannya, ia tengah membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan itu dari Dissa. D-I-S-S-A, Mamad langsung tersenyum melihat gambar amplop warna kuning berkedip-kedip di ponselnya dengan nama itu sebagai pengirimnya.


From Dissa :


Kamu di mana? Bisa gak kita ketemuan di dekat taman kota? Aku sudah siapin formulir buat kamu dan Enal. Kamu sudah dapat kos kan?


To Dissa :


Bisa, hatur nuhun, geulis. Sudah.


From Dissa :


Jam 2 ya, jangan lupa!


Mamad mengunci ponselnya setelah membaca pesan pengingat dari Dissa itu, ia pun kembali melanjutkan aktifitasnya menikmati sarapan nasi goreng buatan Tisna, saat itulah ia menyadari masakan Tisna memang enak.


“Dari Ajeng?” tanya Enal.

Mamad menggeleng, “Dissa,” jawabnya.


Entah kenapa pertanyaan Enal membuat dirinya begitu rindu dengan sosok sahabat satu itu, ia pun mengingat ikrar di beranda rumah Ajeng dan tersenyum saat itu juga.


Mamad meraih ponsel di meja itu, “Sebentar ya… Teh, Nal,” pamitnya kepada Tisna dan Enal.


Di depan rumah Tisna, Mamad membuka lagi ponselnya dan ia mencari satu nama di daftar kontaknya, “Ajeng”.


Butuh waktu sekitar setengah menit lamanya sampai orang di kejauhan sana mengangkat teleponnya, “Halo, gimana kabarnya? Udah dapet kos kan? Kenapa telepon, udah jadi polisi ya?” tanya Ajeng bertubi-tubi.


Hanya itulah yang ingin Mamad dengar, perlahan ia merasa segala sesuatunya baik-baik saja.


13 Makan dulu, ganteng. Sudah saya siapkan di meja

14 Tidak apa-apa

15 Ayo, atuh. Makan

16 Duduk

17 Minum dulu air putihnya

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s