Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 6.

Taman kota itu tampak sepi di siang hari yang menyengat di musim kemarau. Dissa bertahan di bawah rerimbunan pohon, ia segera mengusap-usap kulit putihnya begitu kulitnya itu tersengat matahari yang masuk melalui celah dedaunan.

Dissa membawa dua lembar kertas yang sesekali ia lihat, terkadang pula ia gunakan lembaran itu untuk meniadakan betapa panasnya badan ketika mentari menguasai bumi.


Dissa tersenyum begitu melihat Mamad berjalan ke arahnya, “Akhirnya,” gumamnya.


Mamad memakai celana pendek yang usang, kaos bertuliskan ‘I Love Bandung’ yang sama usangnya dan sendal jepit yang masih baru. Dengan langkah memburu ia menghampiri kekasihnya itu, ia menghapus buliran keringat di kening sebelum menyunggingkan senyuman.


“Maaf, aku terlambat. Ada urusan mendadak tadi,” ucap Mamad beralibi.

Dissa tak mengindahkan, ia menyerahkan lembaran itu kepada Mamad. “Nih, buat kamu sama Enal. Ingat ya, kamu harus berhasil. Kamu masih ingat kan bagaimana caranya mendapatkan hati ayahku?” katanya bengis.

Mamad mengangguk, “Aku selalu mengingat itu,” katanya setengah menggumam.


Mendapatkan hati Dissa dan ayahnya membuat Mamad harus melakukan apapun, bahkan merelakan cita-citanya. Hal itu pulalah yang membuatnya ada di kota yang ia pijaki kini.


Terdengar suara klakson di jalan di ujung taman, “Aku sudah harus pergi,” kata Dissa seraya menoleh.


Mamad memandangi mobil itu lekat-lekat, ia seolah ingin meminta waktu kepada orang di dalam mobil itu, siapapun itu.


Dissa baru saja melangkah ketika tangannya digenggam, “Bagaimana jika aku gagal?” tanya Mamad, air mukanya terisi keseriusan.

Dissa menoleh, “Kamu tidak perlu menanyakan pertanyaan yang kamu sendiri bahkan sudah tahu jawabannya,” Dissa tersenyum lagi, “…aku percaya kamu bisa.” katanya lagi.

“Aku sayang kamu,” ucap Mamad.


Dissa melepaskan pegangan tangan Mamad, ia berjalan mendekati Mamad dan jarak mereka hanya berbatas selapis kelopak mata.

Kedua mata Mamad membelalak begitu bibir Dissa menemui pipi kananya, jantungnya seperti tak lagi bergetar bahkan ia tak sadar bila Dissa sudah ada di ujung taman membuka pintu mobil.


✳✳✳


Ajeng membuka tirai jendela, mentari bahkan belum menampakan hangat sinarnya tetapi ia sudah terjaga. Berlatar belakang suara gema adzan subuh, ia melihat keluar dan tersenyum. Ia belum pernah melakukan hal senekat ini sebelummya.


Suara ketukan pintu terdengar, “Parantos gugah sare, teh?” [18] tanya orang di sebalik pintu, “Janten ka akpol keun?” [19] tanyanya lagi.

Ajeng mengangguk meski tahu orang di luar sana tak dapat melihatnya, “Janten! Sakedap, mang!” [20]  teriaknya seraya membukus tubuhnya dengan jaket tebal.


Ajeng keluar kamar, menyaksikan orang yang tadi menanyainya itu yang menggigil kedinginan meski sudah membalut diri dengan pakaian yang lebih tebal lagi. Ajeng merasa bersalah, ia mungkin tak seharusnya melibatkan orang di depannya ini untuk ikut andil dalam kenekatannya, tetapi di sisi lain ia pun tak memiliki pilihan.


“Hampura, mang. Tiis, nya?” [21] tanya Ajeng.

Orang itu mengangguk, “Teu nanaon, nu utama teh tiasa kapanggih rerencangan teteh,” [22] ucapnya seraya tersenyum.


Dengan dibonceng oleh orang yang dipanggilnya ‘Mamang’ itu, Ajeng membelah dinginnya pagi di jalanan kota yang belum sama sekali berpenghuni itu. Sesekali ia memandang ke langit, di atas sana sepersatu bintang mulai ditelan pagi.


Sementara itu…


Jantung berdegub kencang seolah akan meledak, nafas pun memburu dan kesemuanya itu bercampur bersama gigil pagi. Seorang instruktur di bawah sana terus menyuruh orang-orang termasuk Mamad dan Enal agar cepat dalam mengganti baju, mereka semua memakai pakaian serba putih sebelum terjun ke lapangan di pagi buta itu. Di sisi lain, instruktur itu juga menyuruh para orang tua untuk berhenti sejenak dalam mengabadikan moment anak-anaknya dengan kamera.


Mamad, Enal dan semuanya berkumpul di lapangan, tepatnya di arena lari. Pertama-tama mereka harus berlari cepat dengan waktu yang sama cepatnya pula.


“Aku pasti bisa!” kata Mamad kepada Enal.

Enal mengangguk, “Aku juga, pasti bisa!” katanya bersemangat.


Setiap orang diringi satu orang polisi yang akan menilai mereka, ada pula penilaian melalui sensor yang kian memudahkan penilaian.


Tibalah giliran selanjutnya, pull up. Mamad menatap nanar tiang-tiang di depannya itu, ia ingat betul berat badannya selalu naik dan jika saat ini ia harus mengangkat badannya sendiri, ia tidak tahu apakah ia akan bisa ataukah gagal.

Keringat lahir dari telapak tangan Mamad seiring banyaknya gerakan yang ia buat, Enal sempat menoleh ke arah sahabatnya dan melihat betapa kesusahannya Mamad akan hal itu. Enal berdo’a dalam hati agar Mamad dapat menyelesaikan rintangan yang kali ini.

Jantung Mamad dan Enal sama-sama berdegub kencang, Mamad kehilangan kendali dan satu tangannya bergelantungan menahan tubuhnya sementara tangan satunya lagi di awang-awang. Orang-orang berteriak melihat hal itu, selanjutnya mereka mencoba menyemangati Mamad. Sekuat tenaga Mamad meraih tiang dengan tangan lemahnya itu, ia bisa dan kembali melanjutkan apa yang belum terselesaikan.


Ajeng setengah berlari menuju kolam renang, di sana sudah ada banyak orang memenuhi tribune dan ia harus sedikit berusaha untuk mendapatkan tempat duduk.


Mamad, Enal dan yang lainnya selanjutnya pergi ke kolam renang itu. Ke semuanya lantas melepas baju dan diletakkan di sebuah kotak di dekat kolam. Mereka kemudian bersiap sedia dan ketika bunyi peluit dinaikkan, sepersatu dari mereka menceburkan diri dan berenang menuju seberang dengan waktu yang sangat singkat.


Mamad memegangi dadanya, “Ayolah, kamu pasti bisa!” ucapnya dalam hati.


Debaran jantung Mamad semakin kencang, terlebih ketika ia melihat teman-temannya gagal dan menangis di pinggiran lapangan. Di antaranya bahkan ada yang menangis histeris sekalipun kedua orang tua mereka telah mencoba menguatkannya.


Enal menoleh, Ayolah, Mad. Kau pasti bisa, ini yang terakhir,” gumamnya.

Berlatar belakang tepuk tangan dan sorakan penonton, Ajeng pun memikirkan hal yang sama dengan Enal. “Ayo, Mad. Pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa,” katanya dalam hati, dua kata terakhir itu terus terucap, terngiang dalam pikiran.


Mamad, Enal dan beberapa temannya maju ke depan dan bersiap terjun ke kolam setelah nama mereka terpanggil, instruktur itu mengaragkan tangannya ke depan lalu melayangkannya ke atas dengan diiringi bunyi peluit yang nyaring. Semuanya lalu menceburkan diri ke kolam dan berenang menuju impian mereka.


[18] Sudah bangun tidur, kak?

[19] Jadi ke akpol kan?

[20] Jadi! Sebentar, mang!

[21] Maaf, mang. Dingin, ya?

[22] Tidak apa-apa, yang penting bisa ketemu teman kakak,

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s