Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 7.

Berenang di kali sepulang sekolah sudah menjadi kebiasaan Enal dan Mamad. Siang itu cuacanya tengah mendung, Mamad yang ragu pun mengurungkan niatnya. Sementara Enal telah menceburkan diri dan sudah sampai di ujung kali.

Setetes air mata langit mulai menetes. Mamad mendongak, saat itulah tetesan-tetesan itu kian banyak hingga membasahi seragamnya. Mamad menoleh ketika suara gemuruh terdengar dari arah kanannya, jantungnya langsung berdebar kencang begitu menyadari hal itu.


Mamad lantas melihat kepada Enal, Enal masih saja asyik berenang. “Enal! Gancang naik, aya caah!!!” [23] teriak Mamad sekencang yang ia bisa.

Seperti tidak mendengar, Enal justru menyelam dalam-dalam. “Maot urang,” [24] gumam Mamad.


Mamad melempar tasnya ke hamparan rumput nan hijau, tanpa pikir panjang lagi ia langsung menceburkan diri ke air dan menuju Enal. Sesekali Mamad melihat ke arah kanan, menyadari banjir itu sudah sangat dekat dengan jaraknya.

Mamad menarik Enal, sementara Enal yang sedikit kebingungan mengelak. Akan tetapi Mamad meraih tangan Enal lagi dan membawanya ke tepian.


Mamad berkacak pinggang, “Kau tak dengar apa? Aku sudah panggil-panggil kau, ada banjir!!!” tanyanya penuh penekanan, ia terlihat mengatur nafasnya.


Banjir itu menerjang ketika Mamad selesai menandaskan kekesalannya pada Enal. Mamad terbawa arus banjir itu, sementara Enal yang masih terkaget bertahan dengan berdiam seperti patung sebelum menutup mulutnya yang melongo.


“Tulung! Tulung!” [25] teriak Enal seraya memandang berkeliling.


Di sekitar Mamad tidak ada siapapun, ia mulai kebingungan harus berbuat apa. Ia akhinya berlari menuju jalanan, di sana pun tak ia temukan siapapun. Ia akhirnya pulang ke rumah, menceritakan semuanya kepada Bakhri, ayahnya, dan ia dimarahi karena hal itu. Bakhri segera keluar, entah apa yang terjadi selanjutnya.

Sore harinya, Bakhri pulang. Enal yang duduk di kursi tamu seraya menyeka air mata yang tak bisa berhenti itupun menghampiri ayahnya. Ia menanyakan tentang Mamad, akan tetapi sang ayah hanya menggeleng pelan dengan wajah terisi keputusasaan.

Malam harinya Bakhri keluar dengan mengalungkan sarung di lehernya dan menenteng sebuah senter, Enal yang masih terjaga itu ngotot tetap ingin ikut dalam pencarian Mamad malam itu.

Semua orang menyisir sungai sembari memanggil nama Mamad, tidak pernah ada jawaban atas panggilan-panggilan itu. Enal mendekati sebuah batu besar, di belakang batu itu ia melihat sebuah kaki. Kaki itu bergerak ketika Enal hendak menghampirinya, Enal mundur beberapa langkah. Terdengarlah suara gemericik air, Mamad muncul dari balik batu itu setelahnya dan Enal tak tahu harus senang atau sedih melihat Mamad di hadapannya. Mamad terlihat baik-baik saja dengan senyum yang mengembang di wajahnya, akan tetapi darah yang mengucur dari kepalanya membuatnya seperti menangis dan mengeluarkan air mata darah.

Mamad mendekati Enal, dalam hitungan detik tungkai-tungkai Mamad kehilangan daya dan ia jatuh tersungkur ke tanah.

Enal segera menghampiri Mamad, ia memandang berkeliling dan memanggil orang-orang agar menjelang. Orang-orang datang setelahnya, mereka bersyukur telah menemukan Mamad meski pun Mamad penuh luka.

Sejak hari itu Enal berjanji tidak akan pernah berenang di kali lagi, Mamad pun membuat janji yang sama.


Enal harus menghampiri Mamad dan menepuk pundaknya untuk menyadarkan Mamad dari lamunan, “Kau kenapa, Mad?” tanya Enal, ia benar-benar khawatir pada sahabatnya itu.


Mamad menggeleng pelan, namun ia tetap memegangi dadanya: merasakan debaran jantung melebihi apapun itu.

Enal kembali ke posisinya, ia menoleh sejenak sebelum bunyi peluit dinaikkan dan kesemuanya menceburkan diri ke kolam dan berenang menuju ujung.


Ajeng memandang berkeliling, ia menemukan keberadaan Dissa di ujung tribune paling bawah, entah sejak kapan ia di sana. Hati Ajeng sedikit lega, setidaknya adanya Dissa bisa membuat perjuangan Mamad menjadi tidak terlampau sulit, pikirnya.


Enal segera menoleh ke belakang tepat ketika ia sampai di ujung, jantungnya terus berdebar mengingat dan melihat Mamad yang berenang ke ujung seperti dirinya dan yang lainnya itu.

Sementara itu, mimpi buruk terputarkan dalam ingatan Mamad. Dalam waktu sepersekian detik, tubuh Mamad melesat ke dalam kolam. Mamad mengelak, namun rantai-rantai sekat itu mengekangnya dan ia bertahan di sana tanpa bergerak, tanpa nafas dan tanpa kehidupan.


Ajeng menutup mulut dengan kedua telapak tangannya melihat Mamad, sementara Enal berteriak, “Mamad!!!” teriaknya.


Enal kembali menceburkan diri ke kolam, ia menghampiri Mamad dan membuat Mamad berdiri. Akan tetapi Mamad tidak mempunyai tenaga lagi, air dingin di kolam itu seolah telah menyerap segalanya termasuk semangatnya yang selalu mengebu.


Bunyi peluit kembali dinaikkan, suaranya yang kali ini tak hanya menusuk gendang telinga tetepi menusuk hati Enal. Karena kesal, Enal membenamkan kepala Mamad di kolam lalu menganggkatnya. Ia melakukan hal itu sampai Mamad kesusahan bernafas, semantara beberapa orang segera menghampiri keduanya dan melerainya.


Enal menunjuk Mamad, “Dasar sieunan! Anjeun nu miwarang abdi aya di dieu, anjeun malih teu usaha teuas,” [25] seseorang bahkan mendekap mulut Enal karena Enal terus mamaki Mamad.


Mamad dibaringkan di tepian kolam, seseorang menanyai keadaannya dan berusaha menengangkannya yang masih linglung.


“Sabar, masih ada tahun depan. Yang sabar,” ucapnya pelan seolah mengeja kesemua kata.

“Sita pengen lihat mas pakai seragam. Demi kamu, apapun akan ibu lakukan. Awas kalau kamu pulang gak pakai seragam.” Mamad justru mendengar kata-kata dari Sita, ibunya dan Ajeng sebelum ia berangkat ke kota.


Mamad berteriak histeris setelahnya begitu kesadarannya terkumpul, teriakkannya membuat semua orang melihat kepada dirinya dan merasa iba. Air mata itu pun akhirnya mengalir, tak pernah Mamad rasakan kesedihan sesedih itu sebelumnya. Ia telah gagal.


Dissa memalingkan pandangan, ia melangkahkan kaki dan pergi dari tempat itu dengan hati yang teramat kesal.


Seseorang meraih tangan Dissa tepat ketika Dissa sampai di gerbang, “Tunggu,” ucap orang itu.

Dissa menoleh, “Ajeng,” ucapnya.

“Aku mohon kamu jangan pergi, saat ini Mamad sangat membutuhkan kamu,” ucap Ajeng penuh pengharapan.

Dissa melepaskan pegangan tangan Ajeng, “Dia sudah gagal, Jeng. Kamu tahu kan apa artinya itu?” tanya Dissa dengan penekanan di sana sini.

“Masih ada tahun depan, Dis. Tolong kamu hargai usaha kekasihmu itu,” ucap Ajeng masih terus memohon.


Dissa terdiam, ia termenung. Dissa tahu mimpi Mamad bukan di sini, Dissa juga tahu Mamad melakukan semua ini untuk dirinya. Akan tetapi Dissa tetap tidak bisa menerima kegagalan Mamad.


[23] Enal! Cepat naik, ada banjir!!!

[24] Mati saya,

[25] Tolong! Tolong!

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s