Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 8.

Dissa menatap lekat kedua mata Ajeng, “Dibandingkan rasa cintanya kepadaku, ternyata katakutannya lebih besar. Dia memang lemah,” ucapnya.


Dissa kembali melangkah, meninggalkan Ajeng dengan kedua tangan mengepal lantaran kesal kepada Dissa.


Mamad terasingkan di suatu ruang persegi. Tidak ada lagi keramaian, yang ada hanya betapa setianya seorang sahabat terhadap sahabatnya.


“Dissa, Dissa,” dengan mata tertutup Mamad terus menggumamkan nama yang sama.

Ajeng memijat pelipisnya, ia betul-betul pusing dengan kisah percintaan sahabatnya yang pelik itu. “Aku selalu tidak percaya tentang orang patah hati yang berkata, ‘cinta itu pembodohan’. Tapi kini aku percaya, melihat kamu menjadi seperti ini,” ucapnya dalam hati.


Ajeng nyaris terlonjak mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan sangat kasar, ia sontak menoleh karena hal itu dan melihat Enal setengah berlari ke arah Mamad dengan berurai air mata dan air muka masih terisi kekesalan.

Enal meremas kerah baju Mamad, ia lantas mengangkat Mamad ke udara tetapi ia segera melepaskannya. Kesedihan lebih mendominasi perasaan hati ketimbang kekesalan, maka ia mendaratkan kepala di sebelah badan Mamad dan menangis sesenggukan lalu sesekali memukul-mukul dada Mamad.

Ajeng tak tinggal diam, ia berusaha menyekat seragan-seragan Enal yang kian melemah itu sedangkan Mamad terjaga karena perlakuan Enal.


Mamad menoleh, “Maaf,” gumamnya.

Enal mendongak, menatap sayu wajah kuyu sahabatnya. “Maaf,” ucap Mamad lagi.


Enal menghambur, ia memeluk Mamad erat dan perasaan keduanya disatukan.


Di depan ruangan tempat Mamad terlelap itu Ajeng dan Enal duduk bersama, belum ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka, hanya gerakan-gerakan tangan yang terlihat sigap menyeka bulir-bulir sebelum sampai ke bumi.


“Kamu tahu,” Mamad menoleh, “…Mamad adalah seorang perencana yang hebat. Ia selalu punya cadangan untuk meminimalisir suatu kegagalan, apapun itu,” ucap Ajeng.

Mamad mengangguk, “Dan hari ini kamulah rencana rancangan itu. Hati Mamad sangat rapuh, sampai ia harus melahirkan penawar terlebih dahulu untuk semua yang menyakiti hatinya,” ucap Ajeng lagi.

“Sekalipun dia saat ini tengah terluka karena kehilangan kesempatan, dan juga cinta, tapi aku yakin di lubuk hatinya yang entah yang mana ia merayakan keberhasilan kamu,” Enal mengimani semua kata yang Ajeng ucapkan, memang selalu ada sesuatu di balik sesuatu dalam hidup Mamad.


✳✳✳


“Aku ini sahabat yang tidak baik. Seharusnya di saat-saat seperti ini aku ada di sisi Mamad, tapi aku malah meninggalkannya,” ucap Ajeng sembari menunduk.

Enal mencoba menghibur Ajeng, “Tak apa, lagi pula nanti ayahmu akan khawatir kalau kamu pulang di luar waktu yang sudah kamu katakan,” ucapnya.


Ajeng menepuk pundak Enal. Ia tersenyum lantas melayangkan tangan kanannya dan hormat kepada Enal. Enal yang melihat hal itu tersenyum, ia lantas hormat kepada Ajeng dan keduanya berhormat-hormat.


“Saya mohon jagalah sahabat kita yang sedang patah hati itu, komandan!” kata Ajeng setengah berteriak.

Enal membusungkan dadanya, “Siap, laksanakan!” serunya penuh senyum.


Ajeng melambai pelan dan Enal melakukan hal yang sama, mesin bis kemudian dinyalakan dan dalam sekejab Ajeng terbawa arus arah tujuan.


Enal berniat mengunjungi Mamad lagi, namun ia sedikit terkejut melihat ruangan itu sudah kosong dan rapi.


“Ke mana,” gumam Enal seraya memandang berkeliling.


Sementara itu…


Tisna terkesiap melihat Mamad dengan wajah penuh kekesalan itu menuju kamarnya, saking terkesiapnya Tisna bahkan tak sempat menanyai apa yang terjadi dengan Mamad.


Tisna berjalan ke arah kamar Mamad, ia mendapati Mamad tengah berkemas dan sesekali tangannya sigap mengusap ujung mata. “Aya naon, kasep?” tanya Tisna, ia menatap nanar Mamad di ujung ruangan sana.


Mamad menghentikan aktifitasnya berkemas sejenak. Ia memandang ke depan, menarik nafas lalu melakukan aktifitasnya lagi.

Tisna merasa ada yang aneh, ada yang berbeda. Melihat reaksi Mamad, Tisna bisa memahami bahwa saat ini Mamad sedang butuh bersendiri. Ia pun keluar dan kembali duduk di ruang makan.

Tisna baru saja duduk ketika Mamad menghadap, ia mendongak dan menyaksikan Mamad meletakkan uang di meja tanpa berkata-kata.


Tisna memegang tangan Mamad ketika Mamad berbalik badan dan hendak melangkah, “Semua orang pasti punya masalah, dan mereka juga pasti  punya jalan keluar.” katanya pelan.

Tisna meraih uang di meja, “Apapun yang terjadi, apapun yang akan kamu hadapi di luar sana, saya akan terus berdo’a agar segala sesuatunya baik-baik saja.” ucapnya lagi seraya tersenyum dan meletakkan uang di telapak tangan Mamad.


Mamad tak mengindahkan, ia berlenggang pergi meninggalkan Tisna yang masih berkencan dengan tanda tanya agung tentang apa yang Mamad alami hari ini.


Enal berjalan tergesa saat menuruni tangga bis kota, saat itulah ia menoleh ke kiri dan melihat Mamad tengah menaiki bis di depan bis yang baru saja ia naiki.


“Mamad!!!” teriak Enal keras.


Bis itu berjalan cepat meninggalkan Enal yang berlari sekuat tenaga. Mamad memandang keluar jendela, namun ia tak menyadari bilamama Enal berteriak memanggil-manggil namanya.


Enal terjatuh di langkah yang kesekian, kepalanya terbentur batu yang membuatnya merasakan nyeri paling menyakitkan setelah kucuran darah mengaliri wajahnya.


“Ah, sial!” maki Enal.


Enal memandang bis kota yang Mamad naiki, bis itu semakin kecil seiring semakin jauhnya jarak antara Enal dan bis itu.


Tak hanya kepala yang berdarah, Enal juga mendapat luka di kakinya yang membuatnya berjalan terseok-seok. Sontak Tisna yang melihat kengerian itu bangkit dan menghampiri Enal.


“Aya naon, kasep? Cikeneh si Mamad nu aheng, ayeuna anjeun raheut,” [26] tanya Tisna penasaran.

Enal memandang Tisna tanpa asa, “Mamad sudah pergi, teh,” ucapnya.

“Teteh tahu. Dalam hidup, kedatangan dan kepergian itu sudah biasa.” Tisna mencoba menghibur Enal yang tampak bersedih itu.

“Saya belum siap tanpa dia, teh,” ucap Enal, jujur.

Tisna menggeleng, “Kamu harus siap, mulai sekarang kamu akan berjalan sendiri. Kamu akan meraih mimpi kamu,” kata Tisna meyakinkan Enal.

Dahi Tisna berkerut, ia berencana akan mengeluarkan tanya dalam benaknya. “Mamad teh, gagal?” tanyanya pelan.

Enal hanya mengangguk, “Pantas,” gumam Tisna.

“Sekarang, tunggu di sini. Saya akan ambilkan obat dan air untuk membersihkan luka kamu,” ucap Tisna seraya bengkit dan menuju tujuannya.


[26] Ada apa, ganteng? Tadi Mamad yang mengherankan, sekarang kamu terluka,

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

3 tanggapan untuk “Cerita Masa Lalu : 8.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s