Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 10.

Adri mengetuk kamar Mamad, tidak ada jawaban meski ia telah melakukannya berkali-kali. Belakangan Adri tahu bahwa pintu kamar Mamad tak dikunci, ia pun masuk ke dalam. Jantung Adri berhenti berdetak, ia memandang berkeliling tetapi ia tetap tak menemukan Mamad.

Ponsel Adri bergetar ketika ia membuka lemari di ruangan itu, Adri sedikit lega melihat barang-barang Mamad masih tertata rapi di sana.

Adri kemudian teringat akan ponselnya, ia pun segera meraihnya lantas membuka sebuah pesan yang masuk.


From Mamad :


“Saya pulang dulu, ada keperluan,”


To Mamad :


“Saya tunggu kamu, semoga kamu selamat sampai tujuan,”


Adri tersenyum membaca pesan itu, ia menutup flap ponselnya lantas keluar dari kamar itu.


Sementara itu,


Bandung


Mamad memandang berkeliling, setidaknya wajah datar adalah perubahan yang baik setelah wajah sayunya akhir-akhir ini. Udara di dalam bis itu berubah menjadi dingin, suatu pertanda bahwa bis itu telah memasuki area tempat tinggal Mamad.


Setelah sampai di terminal, Mamad harus menaiki bis lagi untuk sampai di desanya.

Bis itu melewati jalan berkelok dan banyak tanjakan, jalanan di kaki gunung Mangu memang terkenal akan keterjalannya.


“Kau yakin uang sisa penjualan tanah itu mau kau pakai sendiri?” tanya Budi.

Mamad mengangguk yakin, “Aku sudah putuskan hal itu,” jawabnya.


Budi bangkit dan berjalan memasuki kamarnya, sesaat kemudian ia kembali dan menyerahkan amplop berwarna cokelat yang terisi penuh oleh sesuatu.


“Tapi kau harus ingat, aku tak akan bertanggung jawab bila ayah ibumu menanyai hal ini dan apapun yang terjadi.” kata Budi.

Mamad mengangguk lagi, “Tenang saja, ini hanya tentangku,” katanya.


Mamad pamit dan meninggalkan rumah Budi, ia berniat pulang ke rumah dan menjenguk keluarganya. Dalam perjalanan pulang itulah sesekali Mamad akan melihat isi tasnya, melihat sesuatu yang ia beli di pasar loak. Ia juga melihat nama dirinya yang tercetak rapi di papan nama kecil yang ia pesan di suatu percetakan. Papan nama itu bertuliskan, “Akhmad Abdul R”.


Mamad baru saja sampai di rumahnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah nomor asing. Tanpa pikir panjang, Mamad langsung mengangkatnya.


“Halo? Mas bisa pulang gak? Ibu lagi sakit,” suara itu ialah suara Sita, dari nada bicaranya Sita tengah tergesa.

Mamad membuka pintu rumahnya, “Mas sudah ada di rumah,” jawab Mamad seraya mematikan sambungan telepon.

Mamad berjalan menuju kamar ibunya, “Ada apa?” tanyannya.


Sita, Rahman dan Tina sama-sama terkesiap ketika menoleh dan menyadari keberadaan orang berseragam yang tak asing itu.


Sita bangkit dan berlari ke arah kakaknya, “Mas!!!” teriaknya sembari mendekap Mamad.

“Mas, Sita kangen!” katanya setengah berteriak.

Sita melepaskan pelukannya, ia menatap lekat pada seragam yang kakaknya kenakan itu. “Mas pakai seragam?” tanyanya dengan mulut menganga.

Ragu, Mamad mengangguk, “Tapi kok…”

Mamad tak mengindahkan perkataan Sita, ia berjalan menuju ke arah ibunya yang tersenyum sejak ia menginjakkan kaki di ruangan itu. “Ibu kenapa?” tanya Mamad.

Dengan senyum yang masih bertahan di wajahnya, Sita menjawab, “Ibu tidak apa-apa, apa kabar kamu?” tanyanya.

“Saya baik-baik saja,” jawab Mamad.


Rahman bangkit berdiri, ia berjalan cepat keluar ruangan. Sebuah senyuman terbit di wajahnya dan Sita sempat melihatnya sebelum disembunyikan di wajah garangnya itu.


“Ayah tersenyum,” kata Sita pelan.


Ketiganya lantas tersenyum bersama mendengar kekata yang Sita lontarkan, sedangkan Tina merasa tak lagi sakit melihat putranya pulang mengenakan seragam.


“Lha, kok cepet banget? Apa gak bisa kembali besok?” tanya Sita.

Mamad tersenyum, “Tidak bisa, Dik. Nanti kakak dimarahi senior kakak kalau gak pulang sekarang,” jawabnya seraya mencubit pipi kanan adiknya.

Ajeng menjatuhkan sayuran yang ia pegang melihat seseorang di depan sana, Sita yang melihatnya langsung menghampiri. “Mbak Ajeng kenapa?” tanyanya.


Ajeng menggeleng pelan, ia memandang Mamad tanpa berkedip. Ajeng menghampiri Mamad dan menarik Mamad, dibawanyalah Mamad menjauhi rumahnya.


“Mbak pinjem kakakmu dulu, sayuran yang jatuh itu buat kamu. Maaf mbak gak bisa bantu bersihin,” ucap Ajeng ketus ketika berpapasan dengan Sita lagi.


Mata Ajeng terasa sangat panas, siap meledakkan genangan air mata yang ia tahan sejak tadi.


“Mereka percaya? Maksud kamu melakukan semua ini apa?” tanya Ajeng masih dengan nada yang ketus.

Mamad mengangguk, “Aku tidak mau membuat mereka kecewa,” jawabnya.

Ajeng menampar wajah sahabatnya itu, “Tapi kamu membohogi mereka,” ucapnya.

“Aku tahu! Aku tidak mau membuat semua yang menyanyangiku—seperti kamu kecewa,” kata Mamad, jantung Ajeng berhenti berdegub, “seperti…”

“Dissa!!!” teriak Ajeng.

Mamad mengangguk lagi, “Sepertinya aku sudah tidak kenal Akhmad Abdul Rozaky, sahabatku, mungkin dia telah mati.” kata Ajeng sembari berlenggang pergi meninggalkan Mamad.


Mamad terpegan, kebongongannya tak hanya menyakiti hatinya sendiri, tetapi hati Ajeng dan juga telah membuat ia kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi.


“Barangkali ini juga yang Enal rasakan saat aku pergi,” kata Mamad seraya memegangi dadanya.


Mamad duduk di halte, di sana kata-kata Ajeng terus terngiang. Mamad menilik isi tasnya lagi, ia melihat amplop cokelat dan seragam abu yang tadi ia pakai. Seragam yang membuat keluarganya senang, ayahnya tersenyum. Sejenak Mamad merasa semua kebohongannya tidak terlalu buruk.


Mamad menaiki bis terakhir menuju ke kota, di perjalanan itulah ia melihat Ajeng tengah duduk di beranda rumahnya sembari sesekali menyeka air mata. Mamad ingin sekali berhenti saat itu juga, hatinya hancur melihat Ajeng menangis seperti itu. Meski dari jarak jauh, Mamad bisa tahu bahwa Ajeng sangatlah sedih saat itu dan semua karena kebohongan yang Mamad buat.


“Aku berjanji setelah ini aku akan pakai seragamku sendiri, Jeng,” ucapnya dalam hati.


Mamad tersenyum, ia teringat akan janji yang ia buat dulu bersama Ajeng. Padahal ia berjanji tidak akan pulang sebelum cita-citanya tergapai, akan tetapi ia malah pulang membawa kebohongan besar. Mamad berpikir, barangkali ada beberapa orang yang datang ke rumah Ajeng dan hal itu juga yang membuat Ajeng teramat marah.


Mamad membuat janji lagi, ia berjanji tidak akan mengingkari janjinya yang kali ini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s