Diposkan pada Cerbung

Cerita Masa Lalu : 9.

Jakarta

Mamad memandang keluar, di sana ia melihat sebuah plang bertuliskan nama-nama daerah di kota ini. Ia bahkan tak tahu harus ke mana, ia ikuti saja ke mana bis itu mengarah.

Sebentar-sebentar, Mamad terlihat menghapus air mata yang mengalir melewati pipi.


Bandung


“Apakah Mamad ada di rumahnya?” tanya Enal.

Ajeng menggeleng pelan, “Kebetulan kemarin aku ke rumahnya mengantarkan sayuran, aku tak melihatnya sama sekali.” jawab Ajeng.

Dahi Enal berkerut, “Apakah ada sesuatu?” kali ini Ajeng yang bertanya.

“Tidak ada,” jawab Enal singkat.


Enal pun segera menutup panggilan telepon itu, ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan sahabatnya. Ajeng pun tak kalah khawatirnya dengan Mamad, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Enal. Sesuatu yang Ajeng tak boleh tahu.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Ajeng dalam hati, ia masih menatap layar ponselnya.


“Bagaimana?” tanya Tisna yang duduk di sofa sembari memandangi Enal.

Enal menggeleng, “Dia tidak pulang, teh,” jawabnya lesu.


Keduanya lantas berpandang-pandangan, mereka memikirkan seseorang yang sama: Mamad.


Jakarta


Mamad duduk di bangku taman, memandangi hilir-mudik kesibukan kota. Di sana tak ia temukan keramaian, kesendirian memenuhi hatinya.


“Kenapa kau melamun seperti itu, anak muda?” tanya seseorang yang tanpa Mamad sadari sudah duduk di sebelahnya.

Mamad menoleh, ia melihat keramahan di wajah orang asing itu. “Apa yang terjadi kepadamu?” tanyanya lagi.

Mamad menggeleng pelan, “Ceritakanlah semuanya kepadaku,” ucapnya sembari menepuk pundak Mamad.

Mata Mamad terasa panas, “Aku telah gagal atas mimpiku. Tetapi yang lebih menyakitkan, aku telah gagal atas cintaku,” ia berkata seraya menunduk.


Entah kenapa orang itu tersenyum mendengar jawaban Mamad, ia menghembuskan nafas dalam sebelum menepuk pundak Mamad beberapa kali.


“Namaku Adri, aku bisa melakukan apapun. Jadi, apa yang bisa aku lakukan untukmu? Apa yang kau butuhkan?” tanya Adri.

Mamad menoleh lagi, “Aku butuh cintaku, aku harus menjadi seorang polisi untuk mendapatkannya.” jawab Mamad.

Adri mengangguk, “Aku pasti bisa menjadikanmu apapun,” katanya.


Mamad tak pernah menyangka bila pertemuannya dengan Adri, orang asing di depannya kini, bisa membuat hati dan pikirannya begitu damai. Adri seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menghibur hatinya yang duka lara. Ia pun bersyukur atas pertemuan itu.


“Ini kamar untukmu,” kata Adri seraya menujuk sebuah ruang.

Mamad segera masuk ke dalam, “Terima kasih,” ucapnya seraya berbalik.

Adri tersenyum, “Kamu istirahatlah dulu di sini, aku akan mengurus semuanya. Nanti pasti aku kabari,” katanya menjelaskan.


Mamad tersenyum lagi, sementara itu Adri pamit dan berlenggang pergi dari ruangan Mamad.


“Aku punya pekerjaan untukmu, Mark,” kata Adri.

Mark, orang di hadapan Adri itu mengangguk, “Aku siap melakukan apapun,” katannya penuh keyakinan.

Adri menatap lekat mata Mark, “Aku berjanji ini adalah yang terakhir kali,” katanya.

Mark tersenyum, “Aku tahu hatimu sebenarnya hati orang yang baik,” Adri memalingkan pandangan, “…kamu melakukan pekerjaan kita ini untuk menyelamatkan putrimu.” ucapnya.

Adri mengibaskan tangan kirinya, “Kamu memang selalu pandai memuji,” katanya.

“Kau tahu, terkadang aku juga merasa bahwa diriku dihipnotis,” dahi Adri seketika berkerut, “Maksud kamu?” tanyanya.

Mark menyeringai, “Sekarang, siapa dermawan yang mau melakukan dosa?” tanyanya.


Itulah hal yang membuat Adri selalu merasa bersalah setiap kali ia melibatkan Mark dalam pekerjaannya. Mark adalah seorang dermawan; ia membagikan makanan untuk orang-orang di jalanan, mengunjungi masjid-masjid untuk memberikan sumbangan dan membantu orang-orang kesusahan.


Adri menunduk, “Ya, sudah. Aku akan lakukan sendiri saja.” ucapnya.

Mark tertawa mendengar kata itu, “Aku bercanda, Dri,” katanya masih terkekeh.

Adri mendongak dan tersenyum, “Nah, itu dia. Senyummu itu terkadang juga ku anggap sebagai hipnotis, sehingga aku bisa seyakin ini membantumu,” kata Mark sembari menunjuk tepat senyum Adri.


Adri kembali menunduk, sementara Mark tertawa lebih keras lagi.


✳✳✳


Delima menatap keluar jendela, ia selalu membenci ketinggian tetapi malah dipindahkan ke ruangan yang paling tinggi. Di ruangan bawah, ia biasa melihat kupu-kupu dan bebunga di taman rumah sakit. Dari atas, ia tak melihat apapun yang ada di bawah. Di sana hanya ada; bangunan yang menjulang ke langit, senja terbenam dan burung-burung yang tersesat dalam perjalanan pulangnya. Barangkali—menurut orang-orang bakal lebih indah dari yang ada di bawah, akan tetapi Delima tetap tak menyukainya.


Adri mencium kening Delima, hal itu sedikit mengagetkan Delima. “Kamu melamun?” tanyanya dengan dahi berkerut.

“Apa yang kamu pikirkan, sayang?” tanya Adri lagi, kali ini ia memegang tangan putrinya itu.

Delima menoleh, melihat kepada ayahnya. “Berapa waktu yang Delima punya, ayah?” tanyanya.

Pertanyaan itu menghancurkan hati Adri saat itu juga, “Kamu tidak boleh bilang seperti itu,” katanya.

“Delima punya permintaan,” kata Delima.

“Apa itu?” tanya Adri.

Delima tersenyum, “Delima pengen lihat ayah pakai seragam lagi,” jawabnya, “sama seperti di foto ini.” Delima menunjuk wajah ayahnya di sebuah foto usang.

“Tapi…”

“Aku mohon,” tukas Delima.


Adri tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya mengangguk lantas tersenyum. Sudah lama sekali ia tak bersua dan memakai seragam itu, sejak pemecatannya karena suatu rumor yang menjadi kenyataan.


Sembari mencari seragam yang Delima maksudkan, Adri terus mengumpat. “Dari mana Delima tahu kalau dulu aku seorang patriot? Siapa yang memberitahunya?” tanya Adri kesal.

Sesekali Adri akan melemparkan barang yang bukan ia cari, “Mark,” gumam Adri, ia menghentikan aktifitasnya.

“Pasti dia,” ucapnya, “awas saja nanti kalau ketemu lagi.” katanya setengah mengeram.

“Ah, ketamu!” seru Adri begitu ia menemukan sebuah kotak berwarna putih.


Adri membuka kotak itu, seragam berwarna abu-abu itu masih terlihat bagus meski sudah tak terjamah bertahun-tahun lamanya.


Adri berada di depan cermin, memasukan satu persatu kancing baju. Pada kancing terakhir, Adri menghadap kedepan: melihat bayangan dirinya sendiri yang seketika memiliki aura terhormat memakai seragam itu. Adri tersenyum, ia lantas berkacak pinggang. Ia kemudian berhormat lalu berkacak pinggang lagi, ia melalukannya terus menerus seperti dahulu sebelum pergi ke tempat kerja.


“Apa yang kamu lakukan dengan seragam itu?” tanya seseorang dari arah belakang.

Adri menoleh, “Kamu jangan mikir macam-macam, aku hanya…”

“Aku berharap kamu selalu pakai seragam itu.” tukas orang itu.

Adri terdiam, “Meski pun aku mencintaimu dengan atau seragam itu, aku hanya merasa dulu kamu sedikit lebih keren,” kata orang itu lagi.

Adri berjalan menghampiri orang itu, “Bila, aku juga sebenarnya tidak mau melepaksan ini,” kata Adri.

“Kamu tahu, terkadang karena terlalu kesal, kita yang dituduh mencuri akan benar-benar mencuri.” kata Adri.

Bila menggelang pelan, “Aku mulai tidak paham,” katanya.


Adri kembali mendekati Bila, kini jarak mereka hanya sehembusan nafas. Adri mendekap Bila, Bila melakukan hal yang sama. Dekapan-dekapan Adri itu selalu penuh arti dan Bila selalu merasa dirinya payah ketika tidak bisa memahami maksud dari dekapan-dekapan itu. Ia selalu menganggap suaminya itu hanya sedang rindu saja.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s