Diposkan pada Puisi

Pengorbanan Seorang Ayah


aku memang harus berkorban
namun aku musti hidup
untuk buat engkau tetap hidup
aku rela lidah terbakar
waktu yang memburu
melucuti kepulan pada semangkuk asa

meski di sana, di seluruh ketergesaan
kau acuh tak acuh
tinggalkan aku serupa tak pernah
berlari demi lesapkan lagu alam paling aku benci
di perut kecilmu
—di kala aku tak mampu menjelang
sama sekali

2020

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s