Diposkan pada Puisi

Kopi Terakhir Dan Aku yang Ingin Menjadi Aku yang Dulu


menghitung rintik hujan
nyaris tak ada satu pejalan pun
di malam sedingin ini
masih aku tunggu, selarik pelarian
membangunkan orang tuk jelang
sebab di sana—di
belakang rumah tiap mereka
ternak dan juga besi
tergarong

aku ingin hidup kembali
selayaknya setiap kata pada bait puisi
mimpi-mimpi
mungkin, secangkir kopi
lambai tanganku pada
teguk terakhir
telah meledakkan jantung aku

petikan keroncong
sama sekali muskil
di malam selarut pekat
dari bilik-bilik reyot
dan kerlap-kerlip lampu
gemawan hitam
hujan bekukan
memang malam

2020

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s