Diposkan pada Cerbung, Cinta, Keluarga

Cerita Masa Lalu : 11.

“Cuma segini?” tanya Adri, dahinya berkerut.
“Iya, bang,” jawab Mamad yang tampak mulai gelisah itu.
Adri tersenyum, menenangkan hati Mamad, “Tidak apa-apa, sisanya kalau kamu sudah pakai seragam,” ucap Adri.

Adri menepuk pundak Mamad beberapa kali sembari tersenyum, ia kemudian bangkit dan meninggalkan Mamad yang tertidur di kamarnya.

Adri menatap tasnya, “Maafkan aku,” gumamnya sembari berpaling menatap Mamad.

Adri menatap nanar Delima dan dirinya sendiri yang mengenakan baju serba putih. Langkah Delima yang terhenti di depan sebuah pintu dengan cahaya yang menyilaukan membuat Adri menghentikan langkahnya pula. Selanjutnya Delima menatap ayahnya, ia terlihat sangat cantik saat itu dan senyuman yang telah lama hilang dari wajahnya itu akhirnya kembali.

“Yah, Delima pergi dulu ya…” ucapnya sembari melepaskan pegangan ayahnya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Adri.
Delima menunjuk pintu yang bersinar itu, “Ayah ikut!” Adri berseru.
Delima menggeleng pelan, “Ayah belum selesai di sini, ayah tidak bisa ke sana sekarang,” tuturnya, “…ayah juga belum menepati janji ayah.” ucap Delima lagi, kali ini matanya berkaca-kaca.
Adri mendekap Delima erat, “Jangan pergi, sayang. Maafkan ayah soal janji itu. Jangan pergi, ayah tidak bisa hidup tanpa kamu,” ucapnya tulus.

Delima melepaskan dekapan erat ayahnya itu, ia kemudian berjalan menuju pintu yang bersinar dan sesekali akan menoleh ke belakang dan melambaikan tangan. Hanya senyum manis Delima yang Adri ingat sebelum badannya terguncang dan ia terjaga.

Di sampingnya ada Bila tengah memandangnya dengan tatapan tak biasa, “Kamu kenapa, Dri?” tanyanya.

Adri tak mengindahkan, ia turun dari ranjang dan segera memakai seragam yang telah ia persiapkan. Ia kemudian meraih sebuah jaket berwarna hitam dan berlari menuruni tangga.

Bila berusaha mengejarnya, tetapi Adri sudah melesat menembus paginya kota Jakarta.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” tanya Bila.

Bila menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menyusul Adri yang terburu-buru itu, ia paling tidak bisa melepaskan pikirannya dari Adri di saat-saat seperti ini.

Adri menaiki sebuah lift, lajunya seolah menjadi lambat ketika sesiapa tengah memburu waktu. Di dalam lift itu Adri membenarkan kerah baju yang belum sempat ia rapikan di rumahnya tadi.
Pintu lift itu terbuka, Adri segera keluar dan berjalan setengah berlari menuju ruangan Delima.

Langkah Adri memelan begitu mendengar langkah orang-orang menuju ruangan anaknya itu, jantungnya seolah tak berfungsi lagi tetapi ia masih bisa terus melangkah.

Kerumunan orang itu menyibak begitu menyadari keberadaan Adri, mereka semua menunduk lesu. Sementara itu selang infus sudah tidak ada lagi di pergelangan tangannya, Delima pun telah terbebas dari obat-obatan yang selalu memenuhi meja di sebelah ranjangnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Adri seraya memandang berkeliling, matanya terasa sangat panas.
Adri menatap Delima, “Delima sayang, kamu lihat? Ayah sudah pakai seragam, ayah sudah tepati janji,” katanya seraya tersenyum.
“Dia sudah pergi, Pak.” ucap seorang dokter seraya menepuk pundak Adri.
Adri menoleh, “Tidak! Dia cuma tidur seperti biasa, sebentar lagi juga pasti bangun.” bentaknya hingga membuat semua orang di ruangan itu terkesiap.

Dokter itu menggeleng beberapa kali dengan air muka terisi kesedihan, ia lantas mengisyaratkan agar semua yang ada di ruangan itu meninggalkan Adri dan Delima sendiri.

Mulut Bila terbuka selebar-lebarnya andai tak segera ia tutup dengan kedua telapak tangannya begitu mendengar jawaban dokter yang baru saja keluar dari kamar anaknya.

“Kami sudah berusaha semampu kami,” ucap dokter itu sebelum pergi meninggalkan Bila yang terpegan.

Bila berlari menuju ruangan Delima dengan berurai air mata, ia melihat Adri tengah menceritakan cerita masa lalunya kepada Delima yang terbujur kaku itu.

“Dia sudah pergi, Dri,” ucap Bila seraya memegang tangan suaminya itu.

Adri mendengar peringatan itu lagi, kata-kata yang mendadak paling ia benci dan menghala realita. Adri serta merta melepaskan pegangan tangan Bila, ia kembali bercerita.

“Dri, udah. Biarkan dia pergi,” ucap Bila lagi, kali ini ia mendekap Adri.
Adri terpegan, “Tidak!!! Delima!!! Jangan pergi!!!” teriaknya.

Alam semesta seolah mendengar raungan kesedihan Adri, awan mendung menggusur biru langit kota, menggantinya dengan gelap yang menyesap hingga cakrawala. Air mata langit berjatuhan, menangisi kepergian Delima.

Dalam pelukan Bila yang semakin erat, Adri terus menangis tersedu menyesalkan kepergian anak semata wayangnya itu.

Adri dan Bila terdiam di bangku di depan sebuah pemakaman, keduanya sama-sama mengenakan setelan warna hitam.

“Ini salahku,” gumam Adri.
Bila menoleh, “Tidak, ini sudah takdir Tuhan. Kamu gak boleh menyalahkan diri kamu seperti itu,” ucapnya.
“Tidak, ini memang salahku. Aku bukanlah ayah yang baik, aku tak menepati janji dan terlalu lama membuatnya menunggu sampai akhirnya…” Adri tak kuasa melanjutkan kata-kata dalam benaknya.
Bila mengusap punggung suaminya, berharap itu bisa membuat luka kehilangan hilang. “Dua belas juni,” gumam Adri lagi, “harusnya hari ini aku dan Delima sudah sampai di Singapure.” Adri berkata sembari menunduk.

Mark berjalan menghampiri sepasang kekasih yang bersedih itu setelah puas berlama-lama bercerita di depan makam Delima.

“Aku tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, tapi aku harus menyerahkan ini.” ucap Mark seraya menyodorkan amplop warna cokelat dengan garis biru dan merah di tepinya.
Adri mendongak, meraih amplop cokelat itu, “Apa ini?” tanyanya.
“Kamu buka saja,” jawab Mark, “aku sudah harus pergi, maaf tidak bisa berlama-lama.” ucapnya.

Bila berterima kasih kepada Mark dan melambaikan tangan, semantara Adri mulai membuka amplop itu lantas mengeluarkan isinya. Sebuah kertas dengan garis pembatas di tengahnya; di sebelah kiri bertuliskan Delima, Bunda dan Mark, sementara di sebelah kanan bertuliskan, Ayah. Dahi Adri dan Bila seketika berkerut.

Sosok gambar Delima, Bunda dan Mark terlihat sedang berenang di sebuah kolam, sedangkan sosok Ayah terlihat tengah menangis karena api yang besar membakar tubuhnya. Air mata Adri menetesi gambar itu, ia paham betul apa maksud dari gambar yang diberikan Mark itu.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s