Diposkan pada Cerbung, Cinta, Keluarga

Cerita Masa Lalu : 12.

Tidak ada yang pernah mengenal sosok penghuni kamar nomor enam itu, namun teriakannya yang meraung-raung benar-benar memekakkan telingga. Hal itulah yang membuat orang-orang menjelang dan bertanya mengapa orang di kamar itu berteriak histeris. Yang ditanyai bukannya menjawab malah semakin keras berteriak ketika pertanyaan-pertanyaan dilontarkan.
Akhirnya orang-orang memutuskan untuk memanggil seorang dokter, dan teriakan itu tak lagi terdengar setelah dokter memberikan obat penenang. Menurut penuturan dokter, orang di kamar nomor dua belas itu depresi karena suatu hal.

Mamad terjaga dan membaui aroma masakan yang mengingatkannya pada seseorang, ia memandang berkeliling dan menemukan segelas susu, aneka buah dan juga obat-obatan.

“Tibo, dia sudah bangun,” ucap seseorang.
Seseorang bernama Tibo itu berlari ke arah kamar, “Beneran, Jim?” tanyanya.
Jim mengangguk, “Lihat,” jawabnya seraya menunjuk ke arah Mamad.
“Kalian siapa?” tanya Mamad yang memandang bergantian kedua orang itu.
“Nama saya Tibo, ini teman saya Jim. Kami tetanggamu, penghuni kamar nomor 11 dan 13,” jawab Tibo memperkenalkan diri.
Mamad tak mengindahkan, ia terdiam setelahnya, “Kamu kenapa kok teriak-teriak begitu kemarin?” tanya Tibo hati-hati.
“Sepertinya saya ditipu, saya dihipnotis.” jawab Mamad, ia memalingkan pandangan, tak ingin memperlihatkan wajah sayunya.
Tibo dan Jim saling berpandangan, “Saya ikut prihatin dengan hal itu, tapi kamu harus tetap hidup apapun yang terjadi.” kali ini Jim yang berkomentar.
“Terima kasih untuk segalanya,” kata Mamad seraya mencoba tersenyum.
Jim dan Tibo sama-sama tersenyum, “Pokoknya kalau kamu butuh sesuatu, kamu katakan saja pada kami. Kalau kami bisa, pasti akan kami bantu,” ucap Jim.
“Sebenarnya saya…” kata Mamad, “mau pulang,” ucapnya lagi.

Setelah bekemas, Mamad diantarkan oleh Tibo dan Jim hingga sampai di terminal. Mamad memeluk keduanya sebelum menaiki bis, ia juga berjanji akan membalas kebaikan kedua orang yang telah menolongnya itu suatu hari nanti.

Bandung

“Iya, sebentar,” ucap Ajeng begitu mendengar pintu rumahnya diketuk.
Nampaklah Mamad yang tersenyum melihatnya, “Apa kabar?” tanyanya.

Ajeng langsung menutup pintu itu begitu menyadari itu adalah Mamad, sedang Mamad spontan menahannya dengan tangan kirinya hingga pintu itu tak sepenuhnya tertutup tetapi ia meringis kesakitan.

Ajeng membuka pintu itu lagi melihat jari-jari Mamad di pintu, “Kamu mau apa sih?” tanya Ajeng ketus.
Dengan memegangi tangan kirinya yang terluka itu Mamad menjawab, “Aku tahu saat ini kamu sangat-sangat membenciku, tapi aku hanya ingin cerita. Itu saja, aku mohon,” ucapnya masih meringis kesakitan.

Ajeng yang semula tidak peduli itu menoleh begitu mendengar cerita Mamad, ia terkejut bukan main mendengar sahabatnya itu telah ditipu.

“Kamu bodoh!” ucap Ajeng.
Mamad tersenyum, “Aku memang bodoh, semua karena cintaku kepada Dissa. Cinta yang berartikan pembodohan,” katanya sembari menoleh.

Telah lama Ajeng tak menatap mata Mamad, mata yang dahulu penuh kegembiraan dan cinta itu kini terisi oleh duka nestapa.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Mamad seraya memeluk Ajeng.
Ajeng terkesiap, “Aku tidak mungkin pulang ke rumah,” ucap Mamad.

Ajeng menepuk-nepuk punggung Mamad, di saat-saat seperti ini ia malah tak bisa berpikir. Perhatiannya tersita oleh Mamad yang mendekap erat dirinya.

Di ujung jalan di bawah rumah Ajeng, terdapat sebuah mobil. Dissalah yang ada di dalam mobil itu, ia menatap Ajeng dan Mamad yang tengah berpelukan. Entah mengapa hatinya tidak sakit sama sekali, ia justru malah merasa begitu lega menyaksikan persatuan kedua sahabat itu.

“Jalan, Pak!” perintah Dissa.

Mobil itupun berjalan, meninggalkan senja dan tangis Mamad di pelukan Ajeng. Sementara itu punggung Ajeng mulai terasa basah karena Mamad terus-menerus menangis di pelukannya. Dalam hal ini justru dirinyalah yang merasa hatinya paling hancur, ia yang mengikuti segala macam hal yang Mamad alami seolah mengalami pula patah hati paling sakit yang kali ini.

Di tempat lain…

Bakhri tampak mengamati seragam yang dibawa pulang oleh anaknya, seragam yang diperlihatkan kepada dirinya tatkala pertama kali pulang ke rumah setelah sekian lama. Ia mengamati sebelum menggelarnya di sebuah meja untuk disetrika.

“Kenapa seragam kamu berbeda dengan seragam Mamad?” tanya Bakhri yang tengah menyetrika seragam anak semata wayangnya itu dengan setrika tradisional dengan bahan bakar arang menyala.
Enal yang tengah makan itu nyaris tersedak mendengar pertanyaan ayahnya, “Mamad pakai seragam?” ia justru balik bertanya.
Bakhri mendongak, “Iya, malah ayah lihat dia sudah punya beberapa lencana,” jawabnya.
“Apa yang kamu lakukan sekarang, Mad?” gumam Enal.
“Apa Mamad ada di rumah, yah?” tanya Enal.
Bakhri berjalan mendekati Enal, dari jarak dekat bisa terlihat kerutan di dahinya, “Lhoh, bukannya kamu sendiri yang bilang kamu sama Mamad itu sekamar?” tanya Bakhri.

Enal mulai mengingat hal itu, bagaimana mungkin ia dan Mamad sekamar bila Mamad saja tidak lulus tes fisik. Lagi pula, Mamad langsung pergi ketika gagal. Ia sadar, ia tak seharusnya mempertanyakan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.

Enal menggaruk kepalanya yang sesungguhnya tak gatal itu, “Maksud saya siapa tahu Mamad di rumah Ajeng atau Dissa gitu,” ucapnya dengan tertawa kecil.
Bakhri menggeleng pelan, “Kamu ini aneh, mempertanyakan pertanyaan yang ayah sudah pasti tak tahu jawabannya,” ucap Bakhri seraya membelai rambut Enal.

Bakhri pamit karena harus pergi ke sawah untuk mengambil cangkulnya yang tertinggal, sedangkan Enal menghentikan aktifitas makannya begitu ayahnya pergi. Ia masih memikirkan tentang Mamad, tentang jalan pikiran sahabatnya itu.

✳✳✳

“Sudahlah, kamu jujur saja. Toh, semuanya juga pasti akan tahu pada akhirnya nanti,” ucap Ajeng.
Mamad yang masih bertahan di pelukan Ajeng itu menggelang pelan, “Aku tidak bisa, aku tidak mungkin mengecewakan mereka,” ucap Mamad.
“Mereka tetap kecewa apapun yang terjadi, bahkan dengan kebohongan yang kamu buat itu mereka akan lebih kecewa lagi jika suatu saat mereka tahu,” kata Ajeng.

Entah ke mana kebencian dalam hati Ajeng beberapa waktu yang lalu, semuanya terlebur berkat kesedihan Mamad saat ini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s