Diposkan pada Cerbung, Cinta, Keluarga

Cerita Masa Lalu : 13.

Enal berjalan tergesa menuju rumah Ajeng setelah tak ia temukan keberadaan Mamad di rumahnya. Sejak keluar rumah, Enal sudah mengepalkan kedua tangan saking kesalnya.

Enal melihat Ajeng tengah mengobati tangan Mamad yang terluka, ia menarik lengan Mamad, memaksanya berdiri lantas mendaratkan pukulan di wajah Mamad berkali-kali.

“Dasar pecundang!!!” teriak Enal.

Enal yang jatuh tersungkur itu memegangi bibirnya yang berdarah, ia lantas mendongak. Belum sempat Mamad berkata, Enal sudah meraih kerah bajunya dan kembali memukul wajahnya.

“Cukup!!!” teriak Ajeng seraya berlari ke arah keduanya.

Enal menyingkirkan Ajeng dari hadapannya tetapi Ajeng kembali menghalangi langkah Enal, ia mendaratkan kepalanya di dada Enal untuk membuat Enal berhenti menyakiti Mamad.

“Kamu sakiti aku saja, Nal,” gumamnya.
Meski lirih, Enal dapat mendengarnya, “Hidupnya sudah hancur, jangan kamu tambah hancurkan lagi,” ucap Ajeng.
Ajeng mendongak, “Dia ditipu oleh calo,” katanya
Enal terpegan, “Bodoh,” gumamnya.
“Semua karena cinta, karena aku, karena keluarganya dan juga karena dia ingin bersama kamu. Kita, sekalipun tak tahu apa-apa tapi juga membebani pikirannya,” tutur Ajeng dengan air mata berlinangan meski tak terlihat.

Enal menyeruput teh panas yang Ajeng hidangkan untuknya, ia sesekali melihat ke arah Mamad yang terlelap di dipan di ruang tamu Ajeng. Dalam hatinya Enal merasa bersalah telah menambah luka-luka di diri Mamad.

“Esok, temuilah ia di bukit Mangu. Bicaralah sama dia,” ucap Ajeng.
Mamad mengangguk, “Maaf, tadi aku hanya…”
“Aku tahu,” tukas Ajeng, “aku juga melakukan hal sama seperti yang kamu lakukan. Tetapi ternyata aku selama ini salah, aku tak pernah benar-benar tahu tentang dirinya selama ini sekalipun aku sudah bersamanya sejak kecil.” jelas Ajeng.
“Kamu selalu peduli kepada Mamad melebihi siapapun,” kata Enal.
Ajeng tersipu, ia berusaha menyembunyikan wajah memerahnya itu. “Apa’an sih, kamu,” ucapnya.
Enal menghabiskan tehnya sebelum bangkit berdiri, “Jadi kapan kamu mau mengungkapkan?” tanya Enal dengan senyum mengembang.
“Mengungkapkan apa?” tanya Ajeng.
“Sudahlah, aku tahu. Kamu suka Mamad kan? Aku saranin sih, mending kamu cepat-cepat ungkapkan rasa itu. Mamad itu lumayan tampan juga, pasti mudah baginya untuk menemukan wanita cantik,” Enal mengucapkannya dengan tangan mengibas-ibas udara.

Perkataan Enal telah membolak-balikan hati Ajeng, ia berpikir semua yang dikatakan Enal adalah benar.
Ajeng menatap Mamad, ia menyelimuti tubuh Mamad dengan sebuah selimut sebelum pergi ke kamarnya sembari tersenyum.

Pagi harinya Mamad dan Ajeng sudah ada di bukit Mangu, mereka memandangi matahari terbit yang menyapa gigil kedinginan yang menyapa kedua insan yang berdekatan itu.
Enal datang, mengusir Ajeng dari sua paling indah sepanjang hidupnya.

“Maaf gangu, Jeng,” bisik Enal seraya tersenyum ketika Ajeng melewatinya.
Ajeng tersipu, “Aku cuma sebentar kok,” kata Enal lagi.

Ajeng berlalu, sedang Enal duduk di sebelah Mamad. Ia memandangi apa yang tengah Mamad pandangi dan menarik nafas dalam sebelum menatap wajah sahabatnya.

“Maaf untuk yang…”
Mamad menoleh, “Kau terlihat keren pakai itu,” ucapnya yang menghentikan kekata yang hendak Enal ucapkan.
Enal memandangi seragam yang dipakainya, “Akan lebih keren lagi kalau aku sudah lulus dan jadi patriot,” komentar Enal.
Mamad tersenyum, “Kau pasti lulus, kau pasti jadi patriot,” ucapnya.
“Ku dengar kau…”
“Jangan bahas itu, aku memang bodoh,” tukas Mamad.

Enal memandang ke depan, angin dingin menyapa wajahnya saat itu juga. Mamad melakukan hal yang sama dan keduanya terdiam untuk beberapa saat.

“Masih ada tahun depan, kan? Kita berdua pasti jadi patriot,” tanya Enal.
Mamad menggeleng, “Kesempatan selalu ada, tetapi semangat tak selalu menggebu,” katanya, terdapat penekanan pada kata ‘semangat’.
Sontak Enal menoleh, “Jangan bilang kau menyerah,” Enal menatap Mamad penuh harap.
Mamad menepuk pundak sahabatnya itu, “Dengan ini aku salurkan semua semangat kepatriotanku kepada kau, Nal,” kata Mamad bernas keyakinan, seolah ia benar-benar membagi semangat itu.
Enal tak bergeming, “Lalu kau mau jadi apa?” tanyanya.
Mamad menggeleng, “Entah,” jawabnya singkat.

Mamad mendekap tubuh Enal erat-erat, ia nampak sigap menyeka air mata yang hendak jatuh, tak rela sama sekali jika seragam Enal ternoda oleh air mata.
Ajeng menghampiri kedua sahabat itu, ia lantas bergabung dalam lingkaran penandasan kerinduan itu dan memeluk keduanya.

Mamad dan Ajeng melambaikan tangan ke arah bis yang telah berjalan, “Aku yakin dia pasti lulus,” ucap Mamad yakin.

Ajeng menoleh ke arah Mamad, ia melihat ada kesedihan ketika Mamad mengatakan kata itu.
Sementara Enal membangun tekad-tekad itu lagi, kali ini tak hanya mimpinya sendiri yang harus diwujudkan, melainkan mimpi Mamad yang dititipkan kepadanya. Terlebih Bakhri, ayahnya, sudah sangat senang melihat dirinya memakai seragam abu itu. Enal tak mungkin gagal.

“Kumaha kabarna ayah, damang?” [27] tanya Tisna.
Sambil mengunyah, Enal mengangguk. “Damang teh, Mamad oge damang,” [28] jawabnya.
Tisna terdiam, “Mamad teh aya ka rumah?” [29] tanyanya lagi.
“Iya, teh. Karunya, Mamad teh keuna hipnotis,” [30] Enal seolah mengeja kata hipnotis, ia paham betul Tisna tak akan mudah memahami kata-kata sejenis itu bila tidak diucapkan secara pelan.
Tisna kian terpegan, “Bet tiasa?” [31] tanyanya lagi.
“Caritana teh paos lamun abdi caritakeun, nu tangtos sadayana teh sae.” [32] Enal bertutur.
“Mugi-mugi manehna tiasa hirup deui,” [33] ucap Tisna.
“Tentu saja teh, dia itu orang yang tidak mudah menyerah. Dia pasti akan segera bangkit dan menemukan mimpinya. Bahkan, dia kemarin juga menyemangati saya saat di rumah. Dia orang yang hebat, maka dari itu saya selalu tak siap kalau harus berpisah dengannya,” aku Enal.

Enal bangkit berdiri begitu sarapannya telah habis, tak lupa ia mengucapkan terima kasih untuk makanan pagi itu seperti pagi yang sebelum-sebelumnya. Enal menatap dunia, ia bisa meraih apapun di depan sana.

“Beruntungnya bila seseorang memiliki sahabat, mereka membangkitkan semangat dalam diri yang sempat mati. Ah, tadinya aku berpikir Enal bakal menyerah karena frustasi dengan Mamad yang sama frustasinya, ternyata semangatnya kian membara. Ia pasti akan meraih mimpinya.” Tisna berbicara kepada dirinya sendiri.

[27] Bagaimana kabar ayah, sehat?
[28] Sehat kak, Mamad juga sehat,
[29] Mamad ada di rumah?
[30] Iya, kak. Kasihan, Mamad kena hipnotis,
[31] Kok bisa?
[32] Ceritanya panjang kalau saya ceritakan, yang penting semuanya baik-baik saja,
[33] Semoga dia bisa bangkit lagi,

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s