Diposkan pada Cerbung, Cinta, Keluarga

Cerita Masa Lalu : 14.

Ajeng mengantar Mamad sampai di depan rumahnya, “Aku tidak yakin,” ucap Mamad.
“Kamu pasti bisa. Aku tahu ini sulit, tapi membahagiakan orang dengan kebohongan itu sangat menyakitkan lagi bagi hati kamu sendiri dan orang-orang yang kamu bohongi,” ucap Ajeng.

Ajeng menepuk pundak Mamad, ia kemudian berbalik badan dan berlenggang pergi meninggalkannya sendiri.

Tina membuka pintu rumahnya dan terkesiap melihat seseorang di depan pintu, “Ibu,” panggil Mamad.
Tina tersenyum, “Kenapa kamu kembali? Apakah ada yang tertinggal? Enal kemarin ke sini untuk pamit, katanya dia gak akan pulang lagi sampai lulus. Kamu kenapa tidak pakai seragam? Kamu…” kata-kata Tina terhenti begitu Mamad sujud di kakinya.
“Maafkan Mamad, Bu,” ucap Mamad.
Tina mengangkat wajah anaknya, “Kamu kenapa minta maaf?” tanyanya.
Mamad mendongak, “Mamad telah membohongi ibu, dan semuanya. Mamad sebenarnya telah gagal,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

“Apa yang kamu katakan, ibu sama sekali tidak mengerti,”

Melihat Mamad tetap terdiam, Tina sontak melepaskan pegangan tangannya, hatinya hancur saat itu juga.

“Pergi kamu! Anakku bukanlah seorang pembohong, pergi!!!” teriaknya hingga membuat orang-orang yang lewat menoleh ke arah keduanya.

Mendengar teriakan itu, Rahman dan Sita pun keluar. Mereka terkejut melihat Tina dan Mamad yang sama-sama berurai air mata.

“Ada apa ini? Kenapa ibu menangis?” tanya Sita.
Mamad memeluk Sita, “Sita, maafkan mas. Mas sudah gagal,” ucapnya.
Sita melepaskan pelukan kakaknya, “Gagal atas apa? Polisi? Bukankah mas kemarin waktu pulang pakai seragam polisi?” tanya Sita.
Mamad menunduk, air matanya semakin deras. “Itu semua bukan yang sebenarnya. Seragam itu, bukan milik mas,” jawab Mamad dengan menggelengkan kepala beberapa kali.
Mendengar jawaban itu tungkai Sita melemah, ia terjatuh dan saat itu juga Tina langsung menghampirinya. “Sita, kamu gak apa-apa, sayang?” tanyanya panik.
Sita tak pernah menjawab pertanyaan ibunya, ia terus memegangi dada dan meringis kesakitan. “Pergi kamu, pembohong! Pergi dari rumah ini!!!” teriak Tina sembari menunjuk ke arah jalanan.

Rahman yang sedari tadi terdiam akhirnya melangkah dan membawa Mamad menjauhi rumahnya, ia baru berhenti ketika berada di tanah lapang yang sepi.
Rahman dan Mamad saling berhadap-hadapan. Mamad terisak sementara Rahman menatap anaknya tanpa berkedip.

Rahman melayangkan tangan, Mamad menutup kedua matanya dan merasakan ngeri sebelum telapak tangan ayahnya jatuh di wajahnya. Dalam benaknya, ia membayangkan wajahnya akan penuh luka dan berdarah-darah. Namun ia tak pernah mendapatkan tamparan-tamparan itu, ia justru merasa tubuhnya di dekap erat. Belum pernah lebih erat dari siapapun.

Mamad memandang ayahnya nanar, “Tidak apa-apa,” ucap Rahman.
“Ayah bangga kamu berani berkata jujur,” kata Rahman lagi, kali ini senyum itu terlukis di wajahnya, senyum yang belum pernah Mamad lihat sepanjang hidupnya.
Rahman menepuk pundak anaknya beberapa kali, “Kamu tahu, ibu dan adikmu marah bukan karena kamu gagal. Mereka marah karena kamu berbohong, mereka tak pernah kamu bohongi jadi mereka marah ketika kamu membohongi mereka.” jelas Rahman.
Mamad mengangguk beberapa kali, “Sekarang, ayo kita pulang,” ajak Rahman.

Rahman dan Mamad berjalan berangkulan menuju rumah, saat itu mereka menjadi sahabat terlekat yang pernah ada.

Sita dan Tina memandang kesal Mamad yang malah harmonis dengan ayahnya itu, “Tak apa-apa, esok juga mereka akan baik lagi sama kamu,” bisik Rahman.
“Ayah mau ke kamar dulu, kamu istirahatlah di kamarmu. Untuk kali ini, bersihkanlah kamarmu sendiri,” kata Rahman.

Mamad berjalan ke kemarnya, ia tak pernah menyangka bila ayahnya yang paling mengekang semuanya malah menjadi yang selalu ada ketika Mamad terjatuh.

Mamad dan Rahman sama-sama membaringkan tubuh mereka di kasur lapuk di rungan yang berbeda, mereka pun sama-sama memejamkan mata. Akan tetapi ada yang berbeda, Mamad terbangun ketika ia mendengar ibunya dan Sita berteriak keras sementara Rahman tidak pernah lagi terjaga. Ia meninggalkan dunia dan semuanya selamanya.

Mamad berlari ke arah kamar ayahnya, ia terkesip bukan main melihat ayahnya sudah terbujur kaku. Ia kemudian memeluk ayahnya beberapa kali hingga Tina melarangnya karena masih kesal. Mamad yang sudah sedih itu semakin sedih lagi mengetahui ibunya bersikap seperti itu di saat seperti berduka. Tetapi ia juga sadar semua karena kebohongannya pula.
Sejurus kemudian datanglah orang-orang. Dalam kurun waktu yang cepat, di beranda rumah Mamad sudah terbangun tenda biru yang tergelar kursi-kursi di bawahnya. Sementara bendera putih di letakkan di belokan menuju rumah Mamad.

Mamad ada di samping makam ayahnya, ia masih menangis tersedu. Ajeng yang ada di sampingnya belum pernah berhasil menghibur sahabatnya yang masih tak percaya dengan kepergian ayahnya itu.

“Sudahlah, Mad. Mari kita pulang,” ucap Ajeng.
Mamad menggeleng, “Tidak. Aku tetap mau di sini, cuma ayah yang menyayangiku,” katanya.

Ajeng bangkit, tetapi ia kembali lagi pada posisi semula. Ia tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Mamad sendirian. Akhirnya ia berada di sana sampai waktu berlalu.

Ketika pulang, Mamad melihat sebuah tas besar sudah tertata rapi di atas ranjangnya. Sang ibulah yang telah membereskan barang-barang Mamad, ia masih kekeh ingin mengusir Mamad dari rumahnya.

“Tolong beri waktu tujuh hari lagi, Bu,” ucap Mamad memohon.

Tina justru meraih tas itu lalu membawanya keluar, Mamad mengikuti ibunya dan melihat ibunya itu melemparkan tas berisi barang-barangnya itu.

“Pergilah, ibu tidak mau lagi melihat kamu,” hanya kata itu yang terucap dari bibir ibunya.

Mamad menyaksikan langkah ibunya yang masuk meninggalkan dirinya dan menutup pintu dengan kasar, saat itulah ia kembali merasakan sakitnya kehilangan. Ia berharap ibunya akan keluar dan mengurungkan niatnya itu.

Mamad menghentikan langkahnya begitu namanya terpanggil, “Kamu boleh tidur di rumahku,” kata orang di kejauhan itu,”…lagi,” ucapnya lagi.
Mamad menoleh, ia tersenyum. “Aku gak tahu gimana jadinya kalau gak ada kamu,” ucapnya.

Mereka berdua pun berjalan menuju rumah Ajeng. Ajeng membantu membawa tas Mamad yang besar. Malam itu Mamad sekali lagi menginap di rumah Ajeng.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s