Diposkan pada Cerbung, Cinta, Keluarga

Cerita Masa Lalu : 15.

Tisna tidak pernah menduga bahwa senyum Mamad akan makin ranum, “Saya akan melakukan apapun. Saya akan menjadi diri saya sendiri. Namun, pertama, saya harus hidup.” katanya bernas keyakinan.

***

Melewati jalan berputar yang menanjak, Mamad merasakan bulir-bulir itu memenuhi kening dan wajahnya. Kedua matanya panas begitu ia telah sampai di gerbang pemakaman.

“Aku sudah membersihkan kamarku,” ucapnya seraya menyeka air mata agar tak sampai jatuh ke gundukan tanah yang masih baru dan basah itu.
“Maaf, Yah, aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Ibu dan Sita barangkali sangat membenciku, aku bahkan tak akan sanggup melihat wajah mereka lagi. Semuanya telah berubah, Yah, namun aku tetap pendusta yang sama.”

Ajeng menanti Mamad di dasar bukit, Mamad melihatnya menyeka keringat yang membasah wajah polosnya. Sampai saat itu ia masih berpikir mengapa ia tak bisa mencintai sahabatnya itu.

Ketika telah terlalu dekat sementara Ajeng tak menyadari keberadaan Mamad, Mamad meraih sapu tangan dari saku celananya dan menghapus berpuluh-puluh peluh di pipi ajeng dan Ajeng terkesiap namun tak bisa mengelak sama sekali.

“Kamu membuatku malu,” ucap Ajeng dengan wajah memerahnya.

***

Bandung

Melihat dari kejuhan Enal dengan koper besarnya itu menaiki sebuah bis, Mamad berlari sembari berteriak dan melambai-lambaikan tangan namun bis itu tidak berhenti sama sekali. Tisna melihat keberadaan Mamad, tersadar akan sesuatu yang lebih penting daripada menandaskan rindu kepada anak malang yang satu itu ia turut melambaikan tangan namun tetap usahanya percuma.

“Teteh punya telepon, kamu bisa pakai itu untuk membuatnya berhenti di ujung jalan.”

Tisna menggandeng tangan Mamad erat-erat dan dibawanyalah ia menuju rumah yang sangat dirindukan.

“Halo?”
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat lamanya sekalipun Mamad yakin bahwa sambungan itu diterima, “Mamad?” tanya Enal ragu.
“Buruan atuh!” Tisna ikut menimpali.
Enal baru saja akan menanyakan keberadaan Mamad seusai mendengar pula suara Tisna ketika Mamad berbicara lagi, “Aku ada di Bandung, aku bahkan melihatmu menaiki bis. Selamat.” ucapnya, ia mengalihkan pandangan atas Tisna agar kesedihannya tak begitu kentara.

Hening lagi, Enal sesungguhnya saat ini di dalam didilema yang besar. Ia berbahagia atas dirinya dan turut menderita atas sahabatnya, Mamad.

“Akhirnya kau bakal tinggal di asrama!”

Seruan Mamad itu telah menyadarkan Enal atas lamunan. Ia pun menyunggingkan senyum meski yakin bahwa Mamad tak pernah dapat melihatnya.

“Kau harus berhasil, Nal. Aku akan terus mendoakanmu.” kata Mamad lagi.
“Terima kasih,” Enal menyeka bulir suci yang turun dari matanya itu.

Enal sungguh penasaran apa yang bakal dilakukan Mamad di kota yang dingin ini, akan tetapi pertanyaannya tentu bakal mengungkit luka yang dalam di hati Mamad. Ia sudah cukup bahagia bahwa Mamad masih mau menjalani hidup meski mungkin dengan kesibukannya ia tak bisa membantunya sama sekali.

“Kau baik-baik saja, bukan?” tanya Enal.
Mamad buru-buru menyeka air matanya begitu pertanyaan itu terlontar, ia pun sama tersenyum ranum, “Tentu saja. Aku akan selalu baik-baik saja.” katanya.

Enal mematikan panggilan itu meski ia masih ingin banyak berbicara dengan Mamad ketika seorang senior menginstruksikan bahwa mereka akan berhenti terlebih dahulu di suatu tempat dan akan kembali melanjutkan perjalanan beberapa saat setelah perjalanan. Enal ingin memberitahukan kabar bahagia itu, kesempatan bahwa ia dan Mamad bisa bertemu tapi segera urung ketika tahu bahwa mungkin Mamad tak memiliki banyak uang seusai perjalanan sejauh desa menuju kota Bandung ini. Sesungguhnya dengan keberadaannya di kota ini saja ia sudah sangat bersyukur, bahwa ia bisa menemui Mamad kapan saja misal ia libur.

Mamad menilik ponsel Tisna dan cukup mafhum dengan teriakan kata ‘perhatian!’ yang begitu keras dari seseorang.

“Bagaimana?” tanya Tisna sembari menggigit jari.
Mamad menggelengkan kepala tetapi ia tersenyum, “Kami memutuskan untuk tidak bertemu saat ini, Teh. Toh, kami bisa bertemu kapan pun.” jawabnya.
Tisna amat berhati-hati dalam menanyakan satu pertanyaan yang begitu mengganjal hatinya, “Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.

Ekspresi wajah Mamad segera berubah, dan Tisna menyesal sama sekali bahwa ia dengan rasa tidak tahu diri yang lancang telah menanyakan pertanyaan yang mungkin seharusnya terlarang itu.

***

Ajeng membaringkan diri di dipan yang akhir-akhir ini menjadi tempat kegemarannya berbaring. Di sana—kemarin seorang yang paling ia sayang berlabuh meski luka.
Sementara itu dari balik jendela kayu tak bertirai, Tina memandangi langit malam dan hatinya terjejal sejuta tanya dan kekhawatiran yang maha hebat sekalipun rasa benci kepada anak sulungnya itu terlebih besar lagi.

Sedang apa? Di mana? Apakah ia makan? Apakah ia dapat tidur? Apakah ia nyaman?

Tiba-tiba hatinya penuh akan penyesalan. Sita datang dan baru saja akan menepuk pundak ibunya ketika ia dengar ibunya itu terisak-isak dan ia pun mengurungkan niatnya sama sekali. Ia memeluk ibunya dan mengatakan bahwa suatu saat kakaknya dan segalanya pasti akan kembali.

Selesai

(Mungkin ada kelanjutannya)

Kenapa tiba-tiba selesai? Apakah karena tidak ada yang baca? Oh, tentu tidak. Dari awal saya menulis juga memang tidak banyak yang mau membaca tulisan saya dan saya cukup mafhum dan tidak peduli sama sekali meski awalnya sakit hati. Sekarang ini keadaannya memang serba susah, bahkan untuk membuat sebait puisi saja saya bisa seharian memikirkannya. Bahkan saya juga memutuskan untuk resain dari menjadi kontributor di blog Pak Guru Desfortin.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

4 tanggapan untuk “Cerita Masa Lalu : 15.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s