Diposkan pada Cerpen

Yang Pertama Tertembak

Anak lelaki itu dalam gigil dan rasa takut yang luar biasa berdiri di pojok ruang dan menutup mulutnya sendiri namun terus terisak, terlebih ketika suara kaca yang pecah terdengar disertai langkah kaki kemudian. Ia tak ingin bersuara sama sekali, namun detak jantungnya yang lebih cepat dari apapun membuatnya makin terisak dan seseorang di luar sana mengetuk pintu. Ia pun merasa bersalah.
Senyap. Sesuatu yang aneh saat kegaduhan-kegaduhan di ruang lain masih berlangsung. Ia baru saja akan mendekati pintu ketika secara paksa pintu itu terbuka dan sontak melangkah mundur.
Seorang bertopeng hitam dan menenteng senapan. Anak lelaki itu tahu ia mungkin tak akan selamat. Ia hanya ingin berkata bahwa ia ingin memeluk ayahnya sekali lagi. Tapi bahkan sebelum keinginannya terucap, orang bertopeng itu mengarahkan senapannya dan menembaki dadanya berkali-kali.

Rasa sakit macam apa ini? tanyanya dalam hati.

Anak lelaki itu pernah jatuh dari sepeda, dan rasanya tak sesakit ini. Ia ambruk dan bersukur bahwa tembok itu sudi dijadikan tempat bersandar. Ia menyaksikan orang bertopeng itu menyalakan shower sebelum pergi meninggalkan dirinya dalam sekarat yang maha dingin dan rindu yang masih menyiksa sampai akhir.

***

Kau tak sepenuhnya tidur ketika matamu terpejam. Jika kau rasa bibir yang lembut itu mengecup keningmu, telaga di dalam matamu serasa bakal meluap saat itu juga. Ada bau yang khas ketika lelaki paruh baya itu memasuki kamarmu. Tentu saja bau itu akan makin kentara ketika ia telah mulai dekat. Bau yang akhir-akhir ini sangat kau rindukan dan kau samarkan tak dapat kau baui lagi. Kau seharusnya bangun dan berkata bahwa kau merindukannya, tapi, terakhir kali kau melakukan itu kau malah mendapat dampratan dan enggan sama sekali mendapatkan hal yang sama. Ia bakal berpikir bahwa kau tak benar-benar belajar dan tak lelah pun lelap dalam tidur. Itu seperti meruntuhkan kepercayaan dan kebahagiaan kecilnya karenamu. Barulah ketika kau yakin pintu telah kembali tertutup kau membuka mata dan mata yang panas itu meledak jua. Kau ingin berlari ke arah pintu, mengejar ia yang menuruni tangga dengan seragam kebesaran dan menandaskan rindu. Tetapi kau urung dan pendam rindu demi tak membuat ia kecewa. Dan ketika kerlap-kerlip lampu merah-biru menembus jendela yang memang sengaja tak kau tutup tirainya, kau berlari dan menyaksikan mobil dinas itu menghilang di balik remang jalanan. Dan jika tak kau dapati malam itu juga ia pergi, ia bakal pergi pagi-pagi sekali ketika kau belum terjaga atau setelah kau berangkat ke sekolah dan kau tak dapat membangunkan singa atas tidurnya pula. Makin tak karuan rindu itu, kemanakah ia akan tertumpah?

Belakangan ini ombak di dalam hatimu berdebur lebih cepat dan di meja makan kau menumpahkan apa yang ingin kau katakan kepada ayahmu, kepada ibumu. Dan ia tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Seorang polisi dengan lencana di sana-sini tak mungkin mati hanya karena perasaan tak enak anak semata wayangnya dan sebuah mimpi buruk yang datang berkali-kali. Jawaban dan tiap-tiap tanggapan yang sama. Setidaknya kau ingin ibumu untuk menenangkan ombak itu, agar tak sebegitu riuhnya. Percobaan yang sia-sia sementara kata-katamu memenuhi langit.

Pada malam ke sekian,kau masih berkutat dengan buku-buku pelajaran namun lelaki berseragam itu memasuki kamarmu dan kau sontak terbengong-bengong. Tak percaya bahwa itu adalah ayahmu, dan kau berdiri dan sekuat tenaga menahan berat tubuhmu sendiri agar tak bersua lantai krem di bawah sana dan mengumpulkan kekuatan lain untuk berlari dan menyergapnya dengan dekapan yang maha erat. Ada banyak yang ingin kau katakan, namun kebahagian yang bergerumul di langit hatimu membuat segala sesuatunya jatuh ke tanah hati dan mati saat itu juga.

“Apakah engkau begitu merindukan ayah?”
Kau memukul dada ayahmu, “Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu?” tanyamu seraya menyeka ujung mata.

Kebahagiaan itu seharunya terus berlanjut jika tak kau dengar bunyi tembakan yang menusuk hati dan kau dapati kedua mata ayahmu membelalak seusai pekikan ibumu. Sekonyong-konyong ia memasukkanmu ke dalam kamar mandi dan menyuruhmu untuk diam sementara ia dengan tergesa keluar dari kamar seraya meraih revolver di samping pinggulnya dan meninggalkanmu. Kau tak terima dengan semua ini. Siapapun seseorang dibalik suara tembakan itu, kau mengutuknya sama sekali. Kau keluar dari kamar mandi dan tak masalah jika ayahmu mendampratmu karena hal ini. Rindu adalah rindu, sesuatu yang musti tandas ketika telah menggunung.

Ketika kau sampai di anak tangga, kau dapati ayahmu dengan lengan dan kaki berdarah-darah sekuat tenaga menuju tiang-tiang di ruang tengah di mana sebuah tali telah tergantung di sana. Seorang bertopeng lain telah siap untuk membuat simpul lingkaran. Dan entah apa yang mereka pikirkan, ayahmu dan seluruh polisi di distrik ini adalah polisi-polisi yang hebat dan tentu ia dapat bedakan kasus ini pembunuhan atau bunuh diri. Atau mereka hanya ingin menginginkan itu, kau tak habis pikir. Dan mengapa mereka tak tertarik kepadamu meski kau jelas di depan mereka sementara ayahmu tak menoleh kepadamu sama sekali dan membuat kau sedikit kecewa bahwa kehawatiranmu tak dipedulikannya. Ia hanya terus memasang wajah merah murka. Namun, kau pun melihat ayahmu itu meneteskan air mata beberapa kali entah kenapa.
Ketika kau ingat ibu, barulah kau tahu alasan ayahmu menangis. Ibumu terbaring di meja makan dengan darah yang menggenang sementara sup ayam di atas meja makan masih mengepul dan kau makin ingin memusnahkan tamu-tamu tak diundang itu.
Kau memandang berkeliling dan hanya menemukan tongkat bisbol di belakang tangga. Kau meraihnya dan berlari menuju orang-orang yang tengah menggantung ayahmu dan memukuli mereka namun tubuh mereka tak tersentuh sama sekali. Kesal, kau membuang tongkat bisbolmu dan beralih meneriaki mereka namun mereka terus melakukan kejahatan itu dan ayahmu mati dalam balutan tali dan matanya terbuka sementara lidahnya menjulur keluar.
Merasa takut kau akan menjadi yang selanjutnya, kau berlari menuju lantai dua dan menemukan orang bertopeng lain keluar dari kamarmu. Kau baru saja melangkah mundur ketika mereka berlari ke arahmu dan kau berteriak kuat-kuat.

“Jangan!”

Kau harusnya jatuh usai mereka tabrak, namun kau masih berdiri di tempatmu dan pertanyaan dalam benakmu kian menumpuk.
Kau masuk ke kamar, mendapati jejak-jejak darah dari kamar mandi. Kau melangkah pelan menuju kamar mandi itu, tak ingin memungkinkan kemungkinan yang mendadak lahir dalam hatimu dan rasa kecewamu terbesar selain kepada ayahmu sendiri yang jarang pulang ke rumah.
Kau terkesiap mendapati seseorang terduduk di samping wastafel dengan darah yang terus mengalir selain shower yang dibirakan menyala. Kau akhirnya tahu mengapa ayahmu dan orang-orang bertopeng itu tak menanggapimu sama sekali ketika kau berteriak kepada mereka.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s