Diposkan pada Cerpen

Tiap Malam Jumat

Menilik tiap-tiap sudut di taman kota ini, tidak ada yang lebih hangat dari pada berbaring di bawah rumah goblin di tengah-tengah taman. Ia berencana tidur di sana dan polisi yang mengantarnya itu miris karenanya. Dan betapa berkali-kali polisi itu menawarinya sebuah kamar di rumahnya yang kosong, tapi ia menolaknya. Rumah mengingatkannya kepada keluarga, dan pelarian ini akan sia-sia jika ia tidur di sebuah rumah lagi. Jalan hidup yang pelik.

Sepulang mengatar seorang kawan barunya, polisi itu berencana akan berdoa. Lagi pula hari ini adalah malam jumat.

***

Kompensasi yang diberikan kepada badan pemerintahan yang bertugas menjaga ketertiban dan keamanan umum adalah berupa pulang lebih awal yakni sebelum magrib yang biasanya tengah malam. Ada banyak alasan ihwal jam pulang yang biasa. Angka keamanan, perjudian, pesta minuman keras dan wanita-wanita yang menjual dirinya di pinggiran jalan pada jam-jam tertentu mendekati tengah malam. Kecelakaan pun entah kenapa akhir-akhir ini terjadi di peliknya situasi kota. Kompensasi itu dilangitkan dan kepolisian lokal meminta bantuan kepada polisi dari pusat untuk menggantikan pahlawan-pahlawan lain yang pulang lebih awal.
Bio harusnya mensyukuri hal itu. Namun, ia malah inginkan jam kerja yang biasa. Adalah seorang nenek tua yang secara tidak langsung mengingatkannya tentang ibunya yang telah meninggal karena bekerja terlalu keras setelah ayah Bio meninggal, sementara Bio kukuh dengan cita-citanya untuk menjadi seorang polisi sementara untuk makan saja sang ibu sudah sangat kesusahan.

Ibu tak akan meminta banyak hal darimu saat kau telah meraih mimpimu dan menjadi besar nanti, ibu hanya minta kau kirimkan doa saat ibu telah meninggal tiap malam jumat. Kata-kata itu terus terngiang, terlebih jika malam jumat jatuh. Tapi Bio ditelungkup kesibukan maha hebat dan bahkan hanya berdoa saja mendadak menjadi sesuatu yang sukar dilakukannya, sekalipun ia telah berjanji.

Jumat itu, seperti biasa Bio pulang lebih awal dan mendapati seorang nenek yang sama duduk di beranda rumahnya. Bio mulai berpikir apa yang harus ia lakukan. Ia tak keberatan memberi nenek itu makanan, ia hanya benci mengingat ibunya.

“Anda datang lagi. Sudah lama menunggu? Maaf, jalanan cukup ramai hari ini.” sebuah senyum terbit di wajah Bio.
Nenek itu mendongak, “Tidak apa-apa, Pak. Anda tidak membuat janji kepada saya, Anda tak harus datang pada saat yang sama. Saya tidak bermaksud membebani Anda, namun, saya akan terus menunggu.” katanya dengan mendongak demi melihat wajah Bio yang terang bulan itu.

Tapi ia menyesal telah mengatakannya. Sinar bulan itu segera padam atas wajah Bio dan ia tak menyangka sama sekali bahwa Bio akan bereaksi seperti itu.

Menyadari ada yang berbeda, nenek itu segera menambahkan, “Maafkan saya, saya terlalu banyak bicara.” katanya dan menunduk.

Wajah Bio merah menyala tapi ia tetap memaksa tersenyum, menjatuhkan kebohongan demi membuat nenek yang kini tak enak hati itu mengingat tujuannya kemari. Sekali lagi Bio tak marah kepada nenek itu, hanya saja ia seperti melihat ibunya pada diri nenek dan hal itu cukup mengusik hatinya.

“Silakan masuk, saya akan membuatkan masakan untuk Anda.”

Seperti biasa, Bio akan mendudukan nenek itu di meja makan sementara masih menggunakan seragamnya Bio akan memasak.
Nenek itu dengan sabar menunggu dan sedikit menyesal bahwa ia tak mampu membantu Bio. Tangan kanannya tak dapat lagi memegang pisau karena menderita kelumpuhan akut. Lagi pula Bio juga melarangnya.

Bio datang dan menghidangkan masakan buatannya ke meja makan. Ia tersenyum melihat mata nenek itu berbinar-binar.
Bio duduk di hadapan nenek dan menatapinya sementara nenek memakan masakannya dengan lahap. Biasanya ia akan betah berlama-lama, namun pertanyaan nenek itu sekali lagi mengusik hatinya.

“Anda pandai memasak, pasti ibu Anda yang mengajari. Oh, iya. Di mana ibu Anda, Pak? Apakah ia ada di desa?” tanyanya.

Bio menoleh, tak ingin menunjukan wajah merahnya yang kali ini. Ia tak menjawab pertanyaan nenek.

“Saya harus mandi. Habiskan saja makanan itu, saya sudah makan di luar.” pamit Bio.

Apakah pertanyaanku amat lancang lagi baginya? batin sang nenek.
Dan sambil berjalan menuju kamarnya Bio pun turut membatin, Apakah ia berusaha mengusik hidupku?

Mendengar pintu kamarnya diketuk, Bio tersadar bahwa ia dalam bugil yang mendinginkan seluruh tubuh di kamar yang tak seberapa luas itu. Ia mengenakan pakaiannya dan membuka pintu, mendapati nenek itu ada di depan kamarnya dan tersenyum karena perut laparnya telah bersua makanan.

“Oh, apakah Anda sudah selesai?”
Nenek itu mengangguk, “Masakan Anda selalu sedap. Terima kasih.” ucapnya.
“Apakah itu ibu Anda?” tanya nenek seraya menunjuk sebuah foto monokrom dalam pigura yang tergantung di ujung koridor di dekat kamar tamu.

Nenek tak menangkap wajah merah itu lagi. Seperti batu yang bakal berlubang jika terus ditetesi, itulah Bio saat ini.

Bio berjalan menuju foto itu dan nenek mengikutinya dari belakang, “Ibu saya sudah lama meninggal. Beliau meninggal sehari sebelum saya mendapatkan seragam ini.” katanya.
“Ibu Anda pasti bangga dengan Anda.”
“Saya harusnya memiliki tugas melindungi semua orang, namun, saya tidak bisa melindungi ibu saya.”
“Kadang-kadang sesuatu memang membutuhkan pengorbanan. Lagi pula, kita tak pernah tahu kapan maut akan turun. Yang terpenting…”
Bio menoleh, “Yang terpenting?” tanyanya dengan dahi berkerut-kerut.
“Janganlah Anda mengingkari janji.”
“Ba-bagaimana..”
Dan sebelum Bio berkata-kata lagi, nenek itu menghujaninya kekata, “Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah kebohongan. Janji yang tidak ditepati adalah kebohongan yang paling tak bisa dimaafkan.” katanya.

Bio berkali-kali berkata dalam hatinya bahwa nasihat nenek itu hanya memang sebuah nasihat. Bahwa nenek itu bukanlah ibunya sama sekali dan ibunya telah meninggal.

“Apakah Anda akan pulang sekarang? Saya akan mengantar Anda.” tanya Bio.

Nenek mengangguk. Dan karena Bio harus memanaskan mobilnya terlebih dahulu, ia berjalan menuju garasi. Nenek itu berkali-kali menyeka ujung mata melihat punggung Bio yang besar, entah kenapa. Ia akan mendadak menyunggingkan senyum saat Bio menoleh kepadanya.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s