Diposkan pada Cerpen

Sang Wanita Malam

Wanita itu memejamkan matanya. Ia berkata bahwa ia ingin melihat kerlap-kerlip kota, tapi ia malah menutup mata saat telah sampai di pucuk gedung. Kekasihnya baru saja dimatikan germo, orang yang juga sangat ia benci, dan ia merasa tak memiliki alasan lagi untuk hidup. Ia memiliki seorang ayah, tapi ayahnya yang tahu bahwa anak semata wayangnya itu bakal dijual malah membiarkannya begitu saja dan di kota urban inilah sang wanita hidup, menjadi pemuas nafsu para lelaki yang datang. Ia tahu betul ayahnya itu melakukan hal keji demi pengobatan penyakit, tapi, seharusnya selalu ada jalan jika manusia berpikir. Dan ayahnya bukanlah orang dengan kesabaran.

Untuk ayahku, ayah yang bejat. Sembuhkah kau kini? Tidak, bukan? Lalu bagaimana dengan aku? Aku sudah sangat begitu hancur. Aku bukanlah aku. Kau sama sekali tak pentas disebut ayah, aku tak ingin memiliki ayah seperti dirimu. Matilah dalam kedukaan karena kehilanganku.
Untuk kekasihku, Rando, aku minta maaf namun aku benar-benar mencintaimu. Kau harusnya tahu jika aku terpaksa melakukan itu, bahwa aku terpaksa tak memberitahumu bahwa jika kau datang maka kau akan mati. Tapi, aku tak masalah jika kau tetap membenciku. Bukankah di alam yang berbeda nanti segala sesuatunya akan penuh dengan kejujuran? Maka aku tidak takut akan apapun saat aku telah di alam lain. Kau juga harus bersabar, Rando. Ah, kini aku memanggil namamu. Rasanya agak aneh sementara kau protes dan sedikit terkejut karena aku memanggilmu dengan sebutan ‘Pak’ dan aku tahu kau seorang polisi. Kau harus bersabar. Tentu saja kau akan masuk surga, kau seorang pahlawan. Aku adalah wanita hina, bahkan aku secara tak langsung membunuhmu, kekasihku sendiri, pahlawan yang menjadi kebanggan semua orang. Aku telah mengirim seluruh uangku kepada keluargamu di kampung. Mungkin itu tak berarti dengan uang pensiunmu yang meski tak banyak tapi terus menerus jatuh dari langit, tapi aku hanya ingin memberikannya. Aku tidak menyukai ayahku sendiri, biarlah ia mati dengan penyakitnya yang membuat aku begini.
Aku menyayangimu, Pak.

Wanita itu tersenyum, ia naik ke pagar pembatas dan seseorang baru saja meneriakinya dan sekonyong-konyong berlari ketika wanita itu merentangkan tangan dan menjatuhkan diri ke dasar gedung.

***

Rando sedang berpura-pura menjadi pelanggan, dan ia serasa bakal melayang ketika sepersatu pakaiannya dilucuti sang wanita malam. Seluruh tubuhnya tegang dan perasaan yang sama sekali tak dapat ia jelaskan telah mengalir melewati sungai darah di tubuhnya.

“Kau tentu bisa melepaskan celana mungil itu sendiri,” tunjuk wanita malam.

Rando menggigil bukan karena seluruh pakaiannya tanggal kecuali sebuah celana dalam yang membungkus kemaluannya dan membeku, ini sungguh di luar kendalinya.

“Aku ingin melakukannya nanti,” katanya.
Dan wanita malam itu mesem, “Biar aku tebak. Sepertinya kau belum pernah melakukannya?” ia sejenak memejamkan mata, entah kenapa.
“Tidak. Bukan begitu. Aku memesanmu bukan hanya karena nafsu, aku ingin sesuatu yang lebih dari itu.”
Membaca air muka yang seketika berubah, Rando buru-buru menambahkan, “Setiap orang menganggap sesuatu itu penting dari sudut yang berbeda-beda. Aku, menganggap pembicaraan lebih baik dari apapun. Dengan berbicara, kita dapat memahami perasaan satu sama lain dan,” Rando menarik nafas, “…aku ingin melakukan itu sebelum yang lain.”

Rando baru saja akan memakai kemejanya ketika wanita malam itu menyergapnya—dengan bibir yang merah lembut dan Rando pun kalah dalam pertaruangan saat itu juga. Malam yang remang, Rando berada di atas langit. Terdengar desah demi desah dan kata-kata pengampunan, namun, Rando menciptakan ombak lebih cepat dari semua ombak. Wanita malam itu pun memekik dalam desahnya dan makin jauh terjatuh dalam harmoni cinta. Ini adalah kali pertama baginya menemu lelaki seperti Rando. Bahkan, tanpa selembar uang pun ia rela pulang dan pertemuan itu serupa kencan sepasang kekasih.

Wanita malam itu tertidur di betapa luas dada Rando, puas-puas membaui aroma tubuhnya tapi ia tak menemukan Rando yang beberapa saat lalu dengannya pada Rando yang didekapnya erat-erat itu.

Apa yang kau pikirkan, Pak?
Dan seolah mengerti bahwa wanita malam itu penasaran, Rando menilik wajah wanita malam dan membelainya. Aku pasti sudah kehilangan akal karena meniduri dirimu.

Sang wanita malam baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia melihat Rando meninggalkan ruang yang berantakan itu. Ia seharusnya memanggil Rando, namun urung lantaran melihat sticky note yang tertempel di meja di dekat sofa.

Aku akan datang lagi. Berikut pesan singkat Rando pada catatan itu. Wanita malam pun menyunggingkan senyum.

Maka pada malam di hari-hari kemudian, wanita malam itu benar-benar menunggu Rando. Ia bahkan menolak seluruh pelanggan yang berniat memesannya. Meski sampai berhari-hari Rando tak kunjung datang, ia mafhum dan tetap tabah dalam penantian. Hingga pada suatu malam ke sekian saat wanita malam itu berniat menutup dagangannya, pintu apartemen yang tak seberapa luas itu diketuk dan ia dapati seorang berkemeja biru muda dan menenteng tas ada di depan pintu dan tergopoh-gopoh mendekapnya dibarengi dengan ciuman di sana-sini. Wanita malam itu pun bahagia, rindu dan penantiannya akhirnya tandas jua.

“Aku kira kau tak akan datang. Aku menantimu setiap hari dalam malam-malamku. Aku bahkan…” wanita malam itu enggan melanjutkan kata-katanya sama sekali dan membuat lelaki yang dicintainya menyesal.
“Aku akan memilihmu.”
“Apa?”
“Aku akan memilihmu.” ulang Rando.
“Tunggu dulu, Pak. Ini tentang apa?”
“Kau memanggilku ‘Pak’?”
Wanita malam itu mengangguk, “Tentu. Bukankah kita kini sepasang kekasih? Harusnya tidak ada lagi yang perlu kita tutupi, bukan, Pak?” tanyanya.
Rando menunduk, “Jadi, kau tahu siapa aku?” ia justru balik bertanya.
“Tentu saja. Sejak kau datang kemari, aku sudah tahu.” kata wanita malam, “…setiap lelaki yang datang kemari selalu melucuti pakaianku. Tapi, pada hari itu, malah aku yang melakukan itu kepadamu. Aku juga tak sengaja melihat lencana dalam tasmu.”
Terdengar kata ‘oh’ yang panjang disertai hembusan nafas dan Rando melangkah ke belakang, “Apakah mencintaimu adalah dosa?” tanya wanita malam.
Rando segera mendongak demi menilik kekasih barunya, ia menggeleng yakin. “Tantu saja, tidak. Karena itulah, mari kita berhenti dari semua. Kau tidak harus melakukan ini lagi saat kau memiliki aku, kau tidak perlu berdagang lagi.” tutur Rando.
“Apakah kau akan menikahiku?” tanya wanita malam.

Rando tersenyum, dan dalam hati wanita malam itu meletus kembang api yang tak henti-hentinya.

Wanita malam itu pun mendekap Rando sekali lagi, “Maaf,” bisiknya.
“Maaf? Untuk apa?”
Aku tidak punya pilihan lain. Tapi, aku akan bersamamu. Aku janji. kata wanita malam dalam hati.

Dan sebuah timah panas menancap di punggung Rando. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali sampai Rando tak mampu lagi menopang berat badannya sendiri dan jatuh. Ia melihat mata sang wanita malam berkaca-kaca dan sedikit kecewa bahwa ia harus mati dalam kesedihan kekasihnya. Wanita malam itu dibawa keluar oleh dua orang berkemeja hitam dan sesekali ia akan menoleh kepada Rando seraya menyeka ujung mata. Rando pasti bangkit dan mengejarnya jika ia bisa, namun seluruh kekuatannya terkuras habis berganti luka dan genangan darah yang karena saking sakitnya malah tak terasa sakit sama sekali. Tapi, Rando tetap dalam ruang kelumpuhan yang membuatnya tak berdaya.

“Dalam sidang nanti, kau harus menangis sejadi-jadinya.” kata seseorang di singgasana.

Wanita malam itu mengangguk, namun tak ingin menatap seseorang yang sangat dikenalnya itu. Seseorang yang ia percaya yang membawanya ke kota urban untuk mengumpulkan pundi-pundi harta, tapi malah merekrutnya menjadi kupu-kupu malam hanya karena wanita malam itu berasal dari desa dan masih perawan.

“Bolehkah aku ke puncak apartemen ini?” pinta wanita malam.
Seseorang yang awalnya duduk santai di singgasana itu segera menegakkan duduknya, “Apa yang kau rencanakan?” tanyanya.
“Aku masih memiliki seorang ayah, aku tidak akan melakukan apa yang kau pikirkan. Aku tidak pernah meminta apapun kepadamu. Selama di kota, aku belum pernah keluar apartemen sama sekali. Aku hanya ingin melihat pemandangan kota, ini permintaanku.” wanita malam menghela nafas, mengumpulkan kekuatannnya, “…dan, bukankah kita telah berhasil memusnahkan seorang polisi lagi?”

Orang di singgasana itu cuma mengibaskan satu tangannya, dan para anak buahnya segera membuka lift yang ada di ujung ruangan.

Wanita malam, untuk ke sekian lama akhirnya berani menatap si bangsat di singgasana itu. Ia melakukannya hanya karena merasa butuh mengingat wajahnya dan melaporkannya kepada malaikat jika ia telah masuk neraka nanti.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s