Diposkan pada Cerpen

Kereta : Dari Kota Menuju Desa

Di peron stasiun itu, Al beberapa kali menilik tasnya—memastikan seragam yang ia curi dari seorang kawan yang mungkin saat ini tengah kewalahan dengan hukuman itu ada di sana. Padahal Al telah mendapat tempat bermalam seusai jatuh dalam aliran biru yang membutakan. Ia pun tak pernah benar-benar ingin mencuri, ia hanya tak ingin membuat ibunya di kampung menjadi kecewa.
Saat kereta datang dan gerbong terbuka, Al segera berjalan cepat memasuki kereta dan berniat untuk duduk di satu kursi namun tiap-tiap kursi pribadi itu telah terisi. Akhirnya Al duduk di kursi yang juga segera diduduki seorang lainnya.

“Bolehkah aku duduk di dekat jendela? Aku menyukai pemandangan malam hari ketimbang orang-orang yang sebentar lagi bakal tertidur lelap ini.”
Al menoleh, “Kau pikir untuk apa aku duduk di sini?” tanyanya.

Dan lelaki seumuran Al itu mafhum dan ia tak berniat mengukuhkan keinginannya sama sekali. Masih mendapatkan tempat duduk saja barangkali adalah sesuatu yang musti disyukurinya.

“Namaku Asfak. Siapa namamu?” Asfak menjulurkan tangannya.
Dan tanpa menoleh, Al menjawab pertanyaan seseorang di sebelahnya itu, “Al.” jawabnya, singkat.

Asfak meggerakkan tangannya ke kanan-kiri dan Al masih tak mengindahkannya. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan menatap ke depan.

***

Melewati pepohonan pinus di dekat perbukitan adalah tanda bahwa taruna itu akan segera sampai di desa, tanah kelahirannya. Seorang wanita paruh baya telah menunggunya di beranda rumah dan sekonyong-konyong berlari demi dapat segera mendekap anaknya itu.

“Oh, anakku. Ibu sangat merindukanmu.”
“Aku lebih merindukanmu lagi, Ibu.”

Mendengar isak tangis sang taruna, wanita paruh baya itu melepaskan pelukan sejenak dan menilik wajah anaknya nan sayu.

“Apa yang terjadi kepadamu? Ibu tahu kau sedih, namun, seorang calon perwira tak sepantasnya melakukan yang seperti dirimu.”
Taruna itu tetiba menyunggingkan senyum, “Maafkan aku, Ibu. Aku hanya sangat-sangat merindukanmu. Maaf, maaf. Maafkan aku.” katanya.

Wanita paruh baya itu mendekap anaknya sekali lagi dan ia memasukkan taruna itu ke dalam rumah yang telah lebih dahulu ia bersihkan dan sebuah sajian di meja makan yang masih mengepul, kegemaran anaknya.

Seperti hari-hari biasa selama satu bulan terakhir ini, sang taruna duduk di gazebo di pinggiran sawah untuk menandaskan lapar dahaganya. Seharusnya bisik ilalang dan harum bebunga kopi di sebelah sawah membuat makan taruna itu menjadi nikmat, tapi sang ibu yang terus menatapinya membuat ia bertanya-tanya.

“Apa yang salah dengan wajahku, Bu?”
Sang ibu tetap menatapnya, “Tidak ada. Yang salah adalah jadwal liburmu. Benarkah kau libur selama itu? Dua bulan? Tidak ada sesuatu yang tak ibu tahu, bukan?” tanyanya.

Taruna itu menelan ludah dan butiran nasi itu mendadak seperti batu-batu besar yang sukar menuju perut.

Taruna itu mesem, “Tentu saja tidak.” katanya dan melanjutkan makannya walau tak lagi enak.

Wanita paruh baya itu bergabung dengan anaknya. Namun, sesekali ia akan mencuri pandang, menilik kegelisahan anaknya itu.

***

Al tercengang bukan main mendengar cerita Asfak. Ia tak menyangka sama sekali bahwa ia adalah Asfak dan Asfak adalah ia.

“Lalu, bagaimana kau akan mengakhirinya?” tanya Al.
Asfak sedikit mengangkat pundaknya, “Entah. Itu urusanku. Kau, jujurlah dari sekarang. Aku tahu ibumu akan kecewa, tapi, ia akan lebih kecewa lagi misal kau menjadi aku yang lain.”

Al tak tahu harus memilih yang mana. Kedua pilihan yang ada itu sama-sama membawanya pada kehancuran yang nyata.

Seharusnya Al fokus pada langkahnya di pematang. Namun, ia malah memikirkan kemungkinan seperti mungkin seharusnya ia memakai seragam kawannya, atau pakaian biasa yang dikenakannya kini sudahlah tepat. Tapi, untuk apa ia mencuri seragam itu jika tak dipakai? Tapi Al pun bisa mengembalikannya sewaktu ke kota lagi meski tentu bakal dapat dampratan. Pemikiran-pemikiran itu berkecamuk dalam benaknya dan ia tak tahu mana yang lebih benar untuk dilakukan. Yang pasti ia terus berjalan menuju rumahnya yang mulai kentara.

Mendengar pintu rumahnya diketuk, wanita tua itu membukakan pintu dan sedikit terkesiap bahwa Al sudah pulang. Tanpa menunggu lagi, ia pun mendekap Al erat.

“Mana seragammu?” tanya sang wanita tua.

Jantung Al berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia pun melapaskan pelukan ibunya.

“Kenapa kau diam?” tanyanya lagi, matanya mulai terasa panas.

Wanita tua itu telah menjual seluruh hartanya demi bisa melihat Al memakai seragam. Al berjanji tidak akan pulang sebelum ia mendapatkan sebuah seragam.

Barangkali seragam kebesaran anaknya itu ada di dalam tas itu. Barangkali Al tak ingin membuatnya kotor. pikir sang wanita tua.

Wanita tua merenggut satu-satunya tas yang Al bawa, ia membuka tas itu dengan tidak sabar dan mengeluarkan sebuah seragam polisi.

Seketika sebuah senyum terbit, “Ibu tahu kamu pasti mendapatkannya.” katanya.

Al mengambil seragam itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia mendudukkan ibunya di dipan di depan rumahnya dan menatapinya dengan senyum mengembang.

Al memegang tangan ibunya, “Seragam itu…”
“Seragam itu?” sergah wanita tua.
“Bukan milik saya.” lanjut Al.
Wanita tua itu bangkit dan berjalan memasuki rumahnya dengan terhuyung-huyung, “Apa maksud kamu? Ibu sungguh tidak mengerti. Jika bukan milik kamu, mengapa itu ada di dalam tasmu?” tanyanya dan jelas bahwa ia mengusap ujung mata.

Maafkan saya, Ibu. Maafkan saya.

Al mengejar ibunya, ia memeluk wanita tua itu dari belakang dan menangis sejadi-jadinya.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s