Diposkan pada Cerpen

Bus Terakhir

Raihan duduk berhadapan dengan Raisa. Ada banyak yang ingin ia katakan, tapi pengakuan Raisa telah membuat hatinya terusik.

Apakah aku kalah kali ini?

Menatapi wajah seorang yang dicintainya, Raihan membenarkan jaket yang semula akan dibuka itu dan menutupnya rapat-rapat.

“Kamu kenapa? Tidak bisanya kamu diam seperti ini.” tanya Raisa.
Raihan sontak menyunggingkan seutas senyum, “Tidak ada apa-apa, aku hanya sangat lelah hari ini.” katanya, “…aku lelah berlari mengejar kamu.” dan hatinya masih terus berbicara.
“Tidak ada yang aku tidak tahu, kan?” tanya Raisa.
Raisa berkutat kembali dengan makannya, ia baru saja akan mempertemukan sajian berselera itu dengan bibirnya ketika Raihan menjawab. “Sebenarnya ada,” kata Raihan, “…aku sekarang memiliki kekasih.”
Raisa meletakkan kembali sendoknya, “Kekasih?” tanyanya.

Raisa menoleh ke jalanan, tak ingin menunjukan perasaan yang tergambar jelas di wajahnya. Saat itaulah ia melihat secarik kertas beterbangan di tengah jalan, kesana-kemari diijak oleh para mobil dan terbang lagi dan kembali berlabuh untuk diijakhancurkan. Seperti itulah hati Raisa saat ini.

“Kenapa mendadak?” tanya Raisa, masih tak ingin menerima kenyataan.
“Ada banyak yang terjadi. Kamu pun tahu aku tak selalu bisa menemui kamu seperti malam ini, kan?” tanya Raihan.
“Apakah sekarang kamu juga…”
Raihan menangkap pertanyaan itu sebelum Raisa udarakan, “Tidak. Aku belum punya seragamku sendiri. Bukankah kamu tahu aku pasti akan memberitahu kamu jika aku sudah memakainya? Lagi pula,”
“Lagi pula?” desak Raisa.
“Aku memakai seragam atau tidak, sekarang sudah tidak lagi penting. Kamu sudah menjadi milik Juan sekarang.”

Aku berharap aku milik kamu. batin Raisa.

“Memangnya kalian mengejar mimpi hanya untuk aku?” protes Raisa.

Entah kamu tahu atau tidak, ayah kamulah yang mewajibkan itu. Mendapatkan kamu, kami harus pakai seragam. giliran Raihan yang membatin.

Raihan mengibaskan tangannya, “Tentu saja tidak. Mari habiskan makanan ini, kita harus segera pulang sebelum bus terakhir.” kata Raihan.

Mengapa kamu mendadak membosankan, Raihan? Kamu punya pacar. Bahkan, sekarang kamu ingin buru-buru mengakhiri saat yang mungkin akan jadi saat terakhir kita.
Aku tak ingin menyesali keputusanku, Raisa. Kamu bukan untukku, kamu untuk Juan. Dia berusaha lebih keras dari aku, dari siapapun juga.

Bus malam itu tiba di halte saat kedua sahabat itu baru saja keluar dari restoran. Raisa segera berlari dan Raihan mau tak mau musti mengejarnya.

Raihan tengah mengusap peluhnya ketika Raisa yang sedang menaiki tangga bus itu melambai dan tersenyum kepadanya. Raihan pun melambai, dan pada tiap lambaian itu cinta di hatinya turut luruh.

***

Ada puluhan panggilan dan pesan masuk, namun Raihan enggan menilik ponselnya sama sekali. Ia bermaksud akan mematikan ponsel itu dan menemukan seluruh panggilan dan pesan itu berasal dari satu nomor yang mendadak ia benci; Juan. Usai mematikan ponselnya, Raihan makin tak punya keinginan untuk pulang. Dan jika seseorang tak berhenti di depan halte bus dan memanggil namanya, Raihan bisa saja di tempat kenangan itu sampai malam berikut terjelang.

“Kamu masih tinggal di rumah yang sama? Bukankah seharusnya kamu sudah punya kamar sendiri di asrama.”
“Aku tidak pernah memikirkan untuk pindah,” aku Raihan.

Namun, ia segera teringat Juan dan saat itu pula berubah pikiran.

“Aneh. Biasanya dia tak mudah mengubah kata-katanya seperti ini.” seseorang yang memberikan tumpangan kepada Raihan itu sungguh terheran, ini adalah kali pertama ia melihat Raihan bersikap begitu.

Mendengar bunyi derit pintu, Juan segera menuju lantai bawah untuk melihat siapa yang datang. Hatinya begitu lega menyaksikan Raihan ada di dalam rumah.

“Polisi kita ini, ke mana saja kau?” tanyanya.

Alih-alih menjawab, Raihan malah menghantarkan tatapan tajam ke dalam hati Juan. Ia pun berjalan melewati Juan yang mendadak dibebani berbagai tanya.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Juan ketika ia dapati kawannya itu memasukkan pakaian ke dalam tas besar.

Raihan tak menjawab. Baru ketika pertanyaan itu terus diulang-ulang oleh Juan, Raihan menatap kawannya itu lagi dan berbicara;

“Kau seorang penipu, Juan. Kau jadi polisi, hah? Jangankan jadi polisi, lolos tes tahap pertama saja tidak. Aku tidak masalah jika kau melakukan ini agar orang tuamu di kampung tidak kecewa, tapi, antara aku, kau dan cinta Raisa, itu sudah sama sekali berbeda.”
“Memang ayah Raisa yang menyuruh kita memakai seragam jika ingin bersama Raisa, tapi bukankah kita kemudian sepakat untuk meraih itu sebagai mimpi kita berdua? Kau seharusnya mencobanya lagi tahun depan, Juan. Kau seharusnya jujur pada diri sendiri dan Raisa. Dan bagaimana jika Raisa tahu segalanya ini?” Raihan mengacak-acak rambutnya dan sesekali menggigit bibirnya sendiri.
Berpikir bahwa Raihan telah selesai mengomel dan Juan akan mulai berbicara lagi, tapi Raihan kembali bicara. “Aku tidak bisa tinggal serumah denganmu lagi. Aku bahkan… aku bahkan mungkin tak bisa berteman denganmu.” aku Raihan.

Juan mendadak tersedih bukan hanya karena kata-kata menyakitkan atau bahwa ia telah kehilangan Raihan, sahabatnya. Tapi, ia juga sedih karena dirinya sendiri dan betapa kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga agar ia menjadi seseorang tetapi ia malah menjelma seorang pembohong besar.
Juan membuka pintu, di sanalah ia melihat sosok perempuan terpatung.

“Raisa, sejak kapan kamu…”
Raisa baru saja berbalik ketika Juan meraih tangannya erat, “Aku bisa jelaskan semuanya, tolong dengarkan aku.” tuturnya.

Tapi Raisa melepas pegangan paling erat atas tangannya itu, ia berlari sembari menyeka air mata yang tak habis-habis. Ia kesal pada kedua lelaki yang rela menderita demi dirinya, ia kesal pada dirinya sendiri yang menyusahkan orang lain, ia kesal kepada ayahnya dan juga cinta. Dahulu, ketika mereka bertiga masih duduk di bangku sekolah, cinta belum hadir. Hanya rasa saling sayang dan persahabatan yang seolah akan abadi.

Raihan seharusnya mengejar Raisa dan mengantarkannya pulang. Raisa tidak suka naik taksi, sementara bus terakhir telah Raisa naiki dan Raihan tak pernah tahu jika Raisa akan pergi ke rumahnya dengan bus terakhir itu.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

4 tanggapan untuk “Bus Terakhir

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s