Diposkan pada Cerpen

Tuan Pet

Polisi itu tidak menanggalkan tuan Pet di atas meja—di mana pun, maka tuan Pet menyaksikan jelas-jelas penandasan rindu dalam kecup demi kecupan. Bahkan ketika seragam polisi itu terkelupas, tuan Pet masih saja tak beristirahat.
Sudah satu bulan lamanya polisi itu tidak pulang ke rumah. Ia mendadak ditugaskan di luar kota dan istrinya itu tak dapat turut pindah karena suatu alasan. Pak polisi tentu marah di awal, tapi, ia mencintai istrinya melebihi siapapun. Saat pak polisi lelap dalam ketelanjangan, tuan Pet yang terantuk menyaksikan lemari kamar pak polisi terbuka dan polisi lain keluar dari sana dengan langkah yang hati-hati. Mengira bahwa pak polisi dan istrinya tertidur lelap, namun tuan Pet menyaksikan istri pak polisi mengibaskan tangan kanannya seperti petunjuk untuk polisi yang berjalan menuju pintu itu segera keluar dari kamar.
Polisi lain itu akhirnya keluar. Di ketika itu pak polisi terjaga dan baru saja akan memeriksa sumber suara ketika istrinya mendekapnya dari belakang dan mereka hanyut dalam peraduan, sekali lagi.

***

Mendapat telepon dari atasan, pak polisi berhormat-hormat meski dalam keramaian dan tak mengenakan seragam sama sekali. Menutup telepon yang membuat orang-orang memperhatikannya, ia buru-buru melambaikan tangan agar taksi yang masih jauh itu menepi dan membawanya ke kantor.
Ditemuinya sang atasan, diberikan kepadanya sebuah misi bahkan di tengah hari liburnya.

“Maaf. Aku tentu mengganggu liburmu, tapi ini sangat mendesak.” dalih sang atasan.
“Saya siap melaksanakan perintah Anda apa pun, kapan pun.” kata pak polisi dan dadanya makin membusung.
Tanpa diduga, atasannya itu bangkit dan menghampiri pak polisi. “Usah kau formal begitu di depanku. Sekalipun aku adalah atasanmu, tapi usia kita sama. Kita bahkan masuk akademi bersama.” kata sang atasan.
Pak polisi mesem, “Saat hanya kita berdua seperti ini, panggil saja aku Rama. Ini adalah perintah.” kata atasan pak polisi bernama Rama itu.

Begitu pak polisi pamit untuk menjalankan misinya, Rama buru-buru menghubungi seseorang dengan telepon dinasnya dan senyumnya tak pernah pudar dari wajah.

Di tempat yang lain, tuan Pet mendengar istri pak polisi tengah bercakap-cakap dengan seseorang di telepon.

“Apa? Tugas lagi? Apa kau tak terlalu kejam? Bukankah ini hari liburnya?” tanyanya disertai tawa cekikikan.
“Jadi, aku harus menangis lagi. Kau kejam, Sayang. Kau pikir aku seorang aktris? Aku tidak akan bisa melakukan ini lagi. Bagaimana aku bisa menangis saat aku tengah bahagia karena tahu kita akan segera tidur lagi.”
“Baiklah. Tapi, kali ini saja ya. Lain kali, kau berikanlah misi yang lebih berat padanya. Akan bagus jika ia terluka parah atau bahkan,” ia menghentikan kata-katanya dan berbisik, “…mati.”

Terdengar lagi istri pak polisi itu tertawa sebelum sebuah ciuman jarak jauh dan kata-kata rindu sebelum telepon itu ditutup. Ia bersiap menarik selimut saat pintu rumah diketuk. Ia buru-buru keluar kamar untuk menyapa suaminya yang pulang dari berlibur.

“Bagaimana liburannya?” sapanya seraya mengecup punggung tangan dan pipi pak polisi.
Pak polisi itu mesem saat menyerahkan oleh-oleh, dan senyumnya hilang saat ia dan istrinya duduk di meja makan. “Ada apa dengan wajahmu? Kau kan habis liburan, kenapa terlihat tak bahagia?” tanyanya.
Pak polisi menatap istrinya lekat-lekat, “Ada yang ingin aku beritahu kepadamu,” katanya.
Apakah ini saatnya? tanya istri pak polisi dalam hati.
“Ada apa? Apa kau dapat misi lagi?” tanyanya dengan wajah muram.

Dengan sangat menyesal, pak polisi mengangguk. Dan sang istri terisak-isak setelahnya, ia tak ingat sama sekali dengan oleh-oleh yang baru saja ia kencani.

“Maaf, ” bisik pak polisi saat mendekap istrinya, “…maafkan aku.”

Di ketika itulah sang istri yang sembari mengusap air mata itu justru mesem.

***

Tuannya, pak polisi, mengangkat sebuah telepon masuk dan memastikan bahwa tuan Pet dengannya bakal segera sampai di tujuan. Namun ada yang terlupa. Tuan Pet baru saja akan mengingatkan pak polisi ketika tuannya itu mendadak menyalakan lampu sen dan berbalik.

Mengira ada tamu di rumahnya dengan adanya sebuah mobil yang terparkir di depan rumah, akan tetapi hampir seluruh lampu rumah padam kecuali beranda.
Pak polisi memasuki rumahnya dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Ia menyalakan lampu di ruang tamu dan mendapati dua botol wine dan sebuket bunga. Tak ingin mempermasalahkan hal-hal sepele, tetapi istri pak polisi terdengar tengah terbahak di dalam kamar. Pak polisi memasuki kamarnya dan menemukan istirnya dan seseorang lelaki yang sangat dikenalnya tengah bergumul.

Tuan Pet mengingat orang itu, ia adalah seseorang yang keluar dari lemari saat pak polisi dan istrinya selesai bercinta.

“Rama,”
“Jadi, namanya Rama?” tanya tuan Pet.

Tuan Pet tak ingin memungkinkan kemungkinan apapun, apalagi ia masih anteng di kepala tuannya. Yang pasti tuan Pet bisa mendengar detak jantung maha hebat dari tuannya selain saat mengejar penjahat. Pun bara yang menyala dari dalam dada. Malam pun menjadi begitu panas, terlebih saat Rama dan pak polisi sama-sama menilik pada revolver yang terletak di atas meja.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s