Diposkan pada Cerpen

Misi Pertama

Terminal bus cukup ramai. Aku menanti kedatangan seorang bernama David di kursi-kursi beton yang mulai ditinggali para pelancong. Mengira bakal bertemu dengan seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan, tapi hanya ada seorang yang bahkan terlihat lebih muda dari diriku menyunggingkan senyum seusai mendekati dan memastikan orang di dalam pesan singkat itu adalah benar aku.

“Mukton?” tanya David, dahinya bergaris.

Aku mengangguk, dan di ketika itulah misi pertamaku dimulai.

Rupanya David tidak sendiri, ia ditemani seorang yang sedikit lebih tua—barangkali seusiaku, dan banyak menanyaiku tentang apapun. Dan karena aku sudah diberitahu sebelumnya, aku pun menjawab pertanyaannya dengan kebohongan.

“Aku belum pernah bekerja. Aku cuma lulus SD. Rumahku sangat jauh dari kota ini.” begitulah jawabku.

David dan kawannya nampak berbisik ketika mereka menunjukan jalan ke basecamp dan menyuruhku untuk berjalan lebih dahulu ke sana.

Persis seperti yang Pelapor itu katakan. batinku.

Aku melewati gerbang usang yang telah berkarat, menilik rumah-rumah di dalam pagar-pagar rumput itu dan menemukan seseorang melambai kepadaku.

Apakah mereka kaki tangan David?

Aku mendekati mereka, dan mereka memasukkanku ke dalam indekos yang mirip seperti kamar dalam asrama keagamaan yang pernah aku singgahi dulu.

“Maaf, tapi inilah tempat kami tidur. Tapi tenang, tempat kerja kami tetap di kantor.” David tetiba muncul dengan kaki tangan lain yang tadi turut menjemputku, senyumnya mengembang begitu luas.
Aku kibaskan satu tangan untuk mengusir sedikit rasa bersalahnya, “Meski tak seperti apa yang kau katakan di pesan singkat, tapi tak apa. Aku malah menyukainya. Ini mengingatkan aku akan asrama keagamaan.” akuku, jujur.

Ini mengingatkan aku akan asrama keagamaan. Entah sudah berapa kali dalam hari ini aku mengatakannya. Para penghuni indekos ini tak terkecuali David nampak begitu senang mendengarnya, kedengarannya seperti aku bakal betah berlama-lama tinggal di tempat ini.

Esok hari pun terjelang, dan esok-esok berikutnya pun segera terjelang. Aku belum pernah sama sekali bekerja, bahkan bertemu bos mereka. Kantor yang aku idam-idamkan itu, jalan pulang ang lelah, sementara uangku mulai menipis. Tiap malam aku menyerahkan selembar uang merah pucat kepada David : untuk biaya pendaftaran, untuk biaya naik angkot selama satu bulan, untuk biaya makan di angkringan di dekat indekos ini, untuk photo copy dokumenku sendiri dan tak lupa untuk membayar uang kos sekalipun aku baru beberapa hari tidur di sini. Aku mengikuti perkataan David dan antek-anteknya, memang seperti inilah permainan mereka.
Pada suatu pagi yang habis diguyur hujan, aku didudukkan di ruang tamu yang juga tempat kami tidur. David menghadapku, sementara beberapa kaki tangan David lainnya di samping kiri dan kanannya. Jantungku pun berdebar-debar.

David membuka buku tebalnya sembari menujukan kepadaku. Dijelaskannya padaku tentang bagaimana aku bekerja. Aturan yang memusingkan. Kantor impianku, meja kerja dan gaji yang besar, seluruhnya melayang bersama butiran hujan yang melangit seusai sinar mentari.
Aku terlalu hanyut akan permainan ini, sampai aku melupakan misiku. Siapa aku sebenarnya? Padahal aku adalah badan pemerintahan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum. Namun, aku malah larut.

Inilah saatnya. aku membatin, meyakinkan diriku sendiri.

“Apa-apaan ini? Investasi Alat Kesehatan? Sama sekali tidak ada dalam perbincangan kita.” setengah mati aku menahan bibir agar tak bergetar.
“Halah, basi.” David mengibaskan tangannya dan menyeringai, ia menjadi seorang yang berbeda sama sekali.

Tuhan, lindungilah aku. kataku dalam hati.

Kaki tangan David masing-masing memegangi tanganku erat.

“Jadi, bagaimana? Kau mau teruskan atau bayar uang perpisahan?”
“Uang perpisahan? Aku tidak sudi.”

Muka David langsung memerah, dan sebuah bogem mentah mendarat di perutku—membuat aku terdorong ke belakang dan barangkali bersua tembok jika anak buah David itu tak memegangiku. Sejenak, aku bersyukur pula tanganku tersekat.

“Kau datang kami sambut dengan baik-baik, kau pulang pun harus dengan cara yang baik.”
Giliran aku menyeringai, “Cara yang baik-baik, katamu? Hah, dasar penipu.” kataku.

Pegangan erat atas tanganku makin erat, dan aku merasakan sakit yang sama seperti saat wajah David memerah tadi. Bahkan, kali ini lebih sakit lagi dan berulang.

Kali ini para penipu itu menyenderkanku di tembok. Mereka mengusap darah yang mengalir dari mulutku sebelum mereka biarkan aku sendirian. Sebagai gantinya, mereka sama-sama memegang ponsel dan siap merekam.

Aku pun mulai bicara seperti halnya yang mereka perintahkan:

“Saya, Mukton. Dengan ini, bersumpah bahwa saya telah ditipu seperti halnya orang-orang sebelum saya!”

Aku segera dihujani tatapan mata yang tajam begitu selesai mengucapkannya. Sebagian besar dari mereka melayangkan kepalan tangan.

Aku memberikan kode kepada David, David mafhum pun mengikuti ke mana mataku mengarah. Sesuatu berkedip-kedip di atas lemari kayu.  David menghentikan bogem mentah para anak buahnya dengan sebuah teriakan yang lantang.

“Tidak. Tidak! Siapa kau sebenarnya?” teriak David.
Aku tersenyum kali ini, “Menurutmu? Seharusnya polisi sudah sampai di tempat ini, kira-kira, sampai di mana mereka?”
David menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak mungkin… tidak mungkin…” katanya.

Saat David da

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

4 tanggapan untuk “Misi Pertama

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s