Diposkan pada Cerpen

Misi Terakhir

Bagaimana ia dapat melupakan sepatu yang dirajutnya sendiri? Sepatu yang dipakai seorang berpakaian serba hitam itu. Ayahnya telah berjanji untuk berhenti dari pekerjaan kotornya, apakah kini ingkar? Ia sungguh tak habis pikir.
Waktu berjalan lebih cepat dari biasa, dan ia harus mengejarnya. Menilik kepada teman-temannya yang bertombak itu, ia kerap mengedarkan pandang—mengira-ngira. Saat tombak itu dilemparkan, ia berlari membuat semua orang bergidik.

“Apa yang dia lakukan?” batin si Pembunuh Bayaran.

Dan darah mengucur dari perut dan mulut polisi muda itu. Teman-temannya tentu segera menjelanginya, mereka lupa sama sekali dengan Pembunuh Bayaran.

“Apa yang kau lakukan, Jun Na?” tanya salah seorang kawan.
Jun Na malah mesem, “Jun… Na?” tanya Pembunuh Bayaran pada dirinya sendiri.

***

Berjalan menyusuri jalan pedesaan, kaki lelaki paruh baya itu segera membeku saat dua orang berpedang menghadangnya.

“Mau apa kalian?” tanyanya dengan bersiap.

Namun kecurigaannya segera meluap saat dua orang itu menundukkan kepala dan menujukan kepadanya sebuah jalan.
Berjalan di jalan yang telah dipilihkan, lelaki paruh baya itu sesekali bakal menoleh sedikit kepada dua orang yang mengawalnya. Sampai saat itu kedua orang berpedang masih pula menganggukan kepala, tanda hormat.

Siapa orang-orang ini? Mungkinkah… batin lelaki paruh baya.

Di sebuah belokan, lelaki paruh baya itu berhenti lagi menyaksikan seseorang melambai pun tersenyum kepadanya.

“Jae Yo?” tanya lelaki paruh baya, dan dahinya bergaris-garis.

Lelaki bernama Jae Yo itu mendekat dan menjabat tangan lelaki paruh baya dan mereka berdua berdekapan dalam waktu yang cukup lama.

“Apa kabarmu, Yang Myong?”
“Ah, benarkah itu kau?” lelaki paruh baya itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, masih tak percaya bahwa itu adalah rekan kerjanya yang telah dinyatakan meninggal dunia.
Jae Yo mengangguk, “Tentu saja. Aku sudah bilang kan, aku ini tak akan mudah mati.” katanya.

Jae Yo merangkul Yang Myong ke kedai minuman, di sanalah mereka menandaskan rindu.

“Apa yang kau lakukan selama ini? Di mana saja kau?” tanya Yang Myong sembari menuangkan arak.
Dan Yang Myong tengah minum ketika Jae Yo menjawab, “Ke mana lagi memang? Tentu saja Barak Hitam.”
Jawaban itu telah membuat Yang Myong tersedak dan terbatuk-batuk, “Barak Hitam?” tanya Yang Myong lagi.

Di tempat yang lain…

Jun Na, seorang polisi yang baru beberapa kali ditugaskan, mendapat tugas peringkat berat dengan diwajibkannya ia bergabung dengan para seniornya untuk menjaga pangeran kerajaan yang diasingkan karena melakukan suatu kesalahan. Menurut penuturan ketua, pangeran kerajaan itu akan dalam bahaya besar jika berada di luar istana. Orang-orang rela mendadak menjadi pembunuh hanya untuk membunuh sang pangeran karena imbalannya berkantung-kantung emas dan dapat digunakan sebagai biaya hidup sampai mati. Adalah seorang menteri yang berhasrat menjadi raja yang telah mencetuskan sayembara gila yang menyebar dari mulut ke mulut namun tak diketahui orang istana sama sekali.

Ketika Jun Na hanyut dalam lamunan, seseorang menepuk pundaknya, “Apa yang kau pikirkan? Kau siap bertugas, bukan?” tanyanya.
Jun Na yang terkaget itu segera berhormat-hormat, “Saya tentu siap bertugas, hanya saja…”

Ayah, aku akan mengatakannya kepadamu saat aku pulang nanti.

“Tentang hal itu, benar? Maka kau harus selesaikan misi ini dan pulang.”

Jun Na mengangguk, ia berhormat-hormat sekali lagi, mengambil tombak dan bergabung dalam barisan. Hari itu, ia dan para seniornya berangkat ke tempat diasingkannya pangeran kerajaan.

***

Yang Myong tergopoh-gopoh menghampiri Jun Na yang dikerubungi polisi, air matanya mengalir tanpa izin.

“Apa yang kau lakukan di sini, dengan seragam polisi ini? Polisi? Kau tidak…”
“Apa yang ayah lakukan di sini? Bukankah ayah sudah berjanji?” tanya Jun Na, suara dan nafasnya putus-putus sedang air mata membasuh darahnya.

Para polisi membias, membiarkan sepasang ayah dan anak itu bersua.

Yang Myong cuma menunduk. Melihat darah yang meruah itu, tangannya bergetar hebat.

“Kenapa kalian diam saja? Bukankah seharusnya kalian membawa Jun Na ke tabib?” hardik Yang Myong.
Dan para polisi senior itu baru saja akan menjelang Jun Na lagi ketika Jun Na mengangkat tangan kanannya sedada, “Tidak perlu sunbae[1], ayah, aku tidak akan bertahan.” katanya diiringi batuk.
“Maaf, maaf. Maafkan ayah, Jun Na.”
Jun Na mesem, “Untuk apa? Ayah melakukan ini untuk aku pula, bukan?”
Yang Myong menatap wajah anaknya, “Justru aku yang seharusnya minta maaf, aku tidak memberitahumu sejak awal siapa aku sebenarnya.” kata Jun Na lagi.

***

“Kita harus mencabut tombak ini,”
“Tapi, dia akan sangat kesakitan bahkan…”
“Dengar, kita tidak punya pilihan. Setidaknya kita harus mencoba.”

Polisi senior itu menatap Yang Myong yang kini tangannya terikat tali, mereka mengharapkan sesuatu di matanya: izin.

“Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Tapi, aku punya permintaan.” ucap Yang Myong.
“Apa itu?” tanya salah seorang polisi senior.

Setelah Yang Myong mengucapkan permintaannya, polisi senior itu mengangguk.

Yang Myong menilik pada Jun Na sekali lagi, dan wajah Jun Na makin memucat. Telinga Yang Myong kemudian dibekap kuat-kuat oleh telapak tangan polisi senior sedang ia memejamkan kedua mata. Namun, raungan Jun Na masih terdengar olehnya. Tak pernah ia bayangkan misi terakhirnya akan sebegitu menyiksanya.

Selesai

[1] senior

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s