Diposkan pada Cerpen

Induk Kucing

Aku pulang malam-malam, malam yang bukan malam yang biasa—ini terlampau malam. Aku menumpahkan diri ke kasur, memejamkan mata. Terlampau banyak hal yang aku lihat hari ini. Seorang anak membunuh ibunya, seorang ibu membunuh anaknya dan beberapa pembunuhan semacam itu, entah mengapa akhir-akhir ini sering terjadi seolah mereka tak mengijinkan aku untuk pulang di jam pulang kerja yang semustinya. Tentu aku telah bersiap untuk hal itu dan apapun, aku mungkin hanya tengah merindukannya saja. Jalanan yang masih ramai, kerlap-kerlip lampu di gunung itu, pesawat yang melintas di langit, segerombolan bintang dan bulan yang tersenyum. Terkadang, aku sempatkan pula mengunjungi taman yang dipenuhi berpasang-pasang kawula bercumbu di bawah terik lampu tanpa merasa malu. Dan aku makin tak ingin memiliki pacar. Istri. Setidaknya sampai pundakku berbintang.

Ketika aku mulai memasuki kebun mimpi, seekor kucing mengeong beberapa kali dan dua ekor anaknya melakukan hal yang sama. Memanggil ibunya yang di luar rumah. Aku bangun dan terhuyung saat mendekati sumber suara. Kadang aku berpikir untuk meletakkan dua anak kucing itu di luar rumah. Namun, selain musim hujan yang siap meluluhlantakkan apapun dengan kebekuan, para kucing jantan yang menjelang pun menjadi ancaman. Pernah suatu ketika aku terlupa tak menutup pintu rapat-rapat saat memasuki rumah, aku ke lantai dua dan saat aku kembali ke lantai satu, aku temukan anak kucing yang semula sepasang itu menjadi ketunggalan. Aku tak menyerah, melihat pintu sedikit terkuak aku berlari keluar dan menemukan seekor kucing tengah memandangi anak kucing yang menangis itu. Aku segera mengusir kucing penculik itu, dan aku merumahkan kembali si anak kucing nan malang.

Aku membuka pintu, induk kucing segera mengeloyor masuk ke dalam rumah dan bersua anak-anaknya—menandaskan rindu dan memenuhi perut mereka dengan air susu.
Aku baru saja akan menutup pintu ketika pintu yang setengah tertutup itu terdorong kuat-kuat dan sebuah tangan yang menggenggam pisau melesat menuju ke perutku. Jika aku tahu, aku pasti memilih untuk menghindari pisau yang melesat ketimbang pintu yang mungkin bakal membuat keningku berdarah karena aku tak menghindarinya.

Perasaan macam apa ini? Aku sangat takut. Perutku basah, sebuah pisau menancap di sana dan aku terus memeganginya. Tanganku yang kini basah. Mata orang itu menyala, aku meniliknya tapi tak aku kenal sama sekali. Namun, senyum rekahnya membuatku mengira bahwa orang ini, yang saat ini menikamku dengan pisau yang makin membenam adalah seseorang yang pernah aku kirim ke penjara.
Aku kini merasakan sakitnya, sakit yang tersakit dari yang pernah aku rasakan ini. Tubuhku ditumbuhi gigil dan tungkaiku lemah.

“Siapa kau?” sekuat tenaga aku menahan getar bibirku ketika mengucapkannya.

Ia tidak menjawab, malah mesem. Sesaat kemudian ia menghunus pisau. Aku ambruk dan posisi jatuhku langsung menghadap kepada induk kucing dan anak-anaknya. Perpaduan ini membuat aku ingin menghadap Tuhan dan berterima kasih dan mengeluh pada saat yang sama. Aku mendengar langkah kaki memburu, orang itu berniat kabur. Kenapa tak ia matikan aku saja saat ini juga? Malah biarkan aku sekarat begini, sekarat yang begitu menyiksa.

Aku tak mengenalnya sama sekali. Perempuan itu membebat tekan disekitaran lukaku seusai menanyakan pertanyaan seperti ‘Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?’ dan ia terlihat menghubungi seseorang dibalik telepon, aku harap itu adalah 112. Dan aku harusnya menjawab pertanyaannya, namun, suaraku mendadak hilang. Nafasku pun tercekat hebat.

“Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu.” katanya.

Aku tak ingat apalagi yang terjadi, aku hanya merasa lukaku terus ia tekan sebelum gelap jatuh.

***

Aku terjaga dan mendapati diriku berada di ruangan penuh aroma kimia. Aku teringat induk kucing dan anak-anaknya, sudah makankah mereka? Aku mencari perempuan yang menolongku itu, dan Tuhan segera memunculkannya dari balik pintu.

“Bagaimana kabarmu?” sapanya dengan senyum yang hangat.
Aku mencoba duduk, tapi perutku terasa nyeri lagi. “Jangan lakukan itu. Kau belum sembuh.” katanya.

Setelah dibantu olehnya aku ketika makan, aku beranikan diri untuk bertanya. Memastikan.

“Apa kau melihat seseorang keluar dari rumahku? Kau datang setelah kejadian itu dan aku pikir kau mungkin melihatnya.” tanyaku, rasanya ada yang melayang dari kepalaku.
Perempuan itu mengangguk, “Kau melihat wajahnya?” tanyaku sekali lagi.

Ia kembali mengangguk. Aku menelan ludah. Sesaat kemudian mulutnya sedikit terbuka, ia makin dekat dengan diriku. Entah kenapa jantungku jadi berdebar. Aku memejamkan mata, namun ia melewatkan bibirku. Ia menuju ke telinga, sangat dekat. Aku bahkan mendengar hembusan nafasnya.

“Orang itu adalah,”
Aku membuka mata, “…ayahku.”

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s