Diposkan pada Cerpen

Siapa yang Meletakkan Tas di Belakang Kotak Amal?

Tiap-tiap surau hampir rekah. Namun, kau masih dalam perjalanan menjelang surau yang biasa kau nikahi pada hari Jumat bersama seorang rekan kerja.
Parkiran hampir penuh, kau bertaruh pasti surau juga bakal sepenuh berandanya kini.
Seusai mengambil air wudhu, kau dan rekanmu itu berniat masuk ke dalam surau. Tapi, kau urung saat melihat kotak amal di dekat pintu masuk yang juga sudah dipenuhi jemaat yang sama sekali tak ingin beribadah di dalam surau yang memang cukup sukar untuk mencari tempat yang masih longgar. Kau memasukkan selembar uang berwarna merah pucat, tersenyum. Tapi, senyummu segera menghilang. Sebuah tas hitam yang penuh terisi terletak di sana—di belakang kotak amal dan hal itu membuatmu curiga. Surau ini walau kecil namun para pengurusnya menyediakan tempat penitipan seperti halnya tas besar yang kini kau temukan. Semua orang yang datang untuk jumatan termasuk orang yang baru pertama kali masuk surau ini pun bakal mafhum dan meninggalkan barang bawaan mereka di sana.

Siapa yang meninggalkan tas di belakang kotak amal? batinmu. Kau memandang berkeliling, dan hampir seluruh orang menunduk sembari merapal tasbih.

Penasaran, kau membuka sedikit tas itu dan melihat angka merah menyala berkerlip—berganti-ganti. Kau terkesiap hingga jatuh ke belakang. Tentu kau mendadak jadi pusat perhatian.
Kau menyelam ke dalam benak, tapi tak menemukan apapun di sana sementara puluhan menit yang tersisa makin habis.

Orang yang meletakkan bom ini tidak bodoh. Ia menyetel waktu saat khatib berkhutbah. katamu lagi, dalam hati.

Keningmu yang semula terbasahi air wudhu itu berganti berpuluh-puluh keringat dingin.
Tinitrotoluena ini akan meledakkan surau dan seluruh jemaat. Berusaha menjinakkannya pun cuma bakal membuat para jemaat itu lari kucar-kacir. Kau telah memilih, dan kau baru saja akan meraih tas itu ketika seseorang menepuk pundakmu dan kau kembali terkesiap.

“Kenapa kau begitu terkejut? Aku menemukan tempat untuk kita di dalam, ayo masuk!” ajak rekanmu yang juga seorang polisi itu.
Kau mengangkat bibir demi menutupi getar pada seluruh badan, “Aku akan di luar, hari ini cukup panas.” senyum itu masih menggantung di wajahmu.
“Kau baik-baik saja, bukan?” tanya rekanmu, memastikan.
Kau mengangguk-angguk, “Tentu saja, aku baik-baik saja. Maaf ya, aku tak bisa bersamamu kali ini. Masuklah, sebentar lagi akan mulai.” katamu.

Meski ragu, rekanmu itu masuk dan bertanya mengapa langkahnya begitu berat meninggalkanmu kali ini.

***

Khotbah telah dimulai, kau yakin temanmu di dalam rumah Tuhan itu pasti tengah lelap dalam tidur bahkan menapak tanah mimpi. Tapi, siapa seseorang yang berdiri di depan mobil yang baru saja kau hidupkan itu? Ia memakai seragam polisi, sama sepertimu. Ia menghadap ke belakang, kau pun terheran dibuatnya. Kau menghapus peluh, memasang senyum dan keluar dengan terburu-buru.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyamu.
“Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu?” ia, rekanmu itu , justru balik bertanya.

Tak lama ia mengeluarkan revolver dari rumah di pinggang kanannya. Kau terkesiap, sampai mundur ke belakang karena refleks.

“Apakah sesuatu di balik tas itu adalah bom?” tanyanya lagi.
Kau mengangguk dan menelan ludah bersamaan, “Kau akan segera ditolong.” katanya.
Dahimu jadi berkerut dengan kata-kata ambigu itu, “Maksudmu…”

Timah panas itu melesat menembus celana dinas dan terbenam dalam betismu, kau pun terjatuh seketika. Kau bahkan tak tahu kapan rekanmu itu bergeser posisi sehingga ia dapat menembak betismu.

“Kau mendapat promosi, bukan? Kau tak seharusnya mati dengan cara seperti ini. Aku, biarpun aku pun mendapat promosi dan meraih gelar maha tinggi, tidak ada yang bakal mendengarkan ceritaku. Memangnya aku punya siapa? Semua orang telah pergi dari hidupku.” matanya berkaca-kaca ketika mengatakannya.

Waktu memang terus berjalan. Dan ia kemudian berjalan ke arahmu, memegang pundakmu erat dan menyampaikan permintaan maaf yang tak pernah diucapkannya sama sekali.

Mobil itu berjalan cepat meninggalkan dirimu dalam luka yang terus kau tekan bebat dan merintih kesakitan karenanya. Orang-orang berduyun-duyun menjelangimu dan menghujanimu dengan pertanyaan demi pertanyaan sementara muara kesedihan yang meluap telah mampu membuatmu menangis dan tak dapat melakukan apapun selain itu.

Selesai

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s