Diposkan pada Cerpen, Tentara

Sore di Dalam Hutan

Sumber : Pixabay

Aku cukup terkejut. Aku menyapanya, seorang serdadu yang baru saja keluar dari belukar. Ia tampak sesekali mengusap keningnya yang berkeringat, dan aku cukup yakin bahwa di balik belukar itu seorang serdadu lain tengah sekarat dan bakal segera mati karena luka tembak di dada atau perut dan kehabisan darah.
Aku melihat sepatu kulitnya yang ternoda bercak darah, dan ia buru-buru menyimpulkan bahwa aku salah sama sekali menilai tentang dirinya. Tapi, aku bahkan belum mengatakan sepatah kata jua. Ia pun masuk kembali ke dalam belukar, terdengar bunyi ‘gedebug’ beberapa kali dan ia keluar dengan seekor babi yang cukup montok. Aku berkata ‘oh’ panjang dan lama, dan ia menanggapinya dengan seutas senyum menggantung di wajahnya yang sesungguhnya sungguh terlampau baik jika ia, entah bagaimana, memang memutuskan untuk menjadi seorang pembunuh.
Aku menerawang babi malang itu, dan tak menemukan luka lain selain kepalanya yang bolong. Ah, aku makin ingin memasuki belukar yang susah payah serdadu itu lindungi.

“Sesungguhnya saya harus memasuki belukar itu untuk mengambil kayu bakar, tapi, mungkin sekarang di sana ada babi-babi yang lainnya.”
“Anda takut babi, Tuan?”

Aku takut kepadanya, tentu saja. Orang ini, biarpun memakai baju hijau tapi tak membuatku merasa aman sama sekali.

Dan aku mesem kepadanya demi menutupi betapa gementar bibirku saat ini. Ia menenteng senapan, tidak ada satu orang pun di lahan yang hanya ditumbuhi putri malu dan belukar dan sedikit ilalang ini. Jadi, ia bisa menutup mulutku dengan sekali tembakan saja. Tapi, ia tak melakukannya. Atau, aku yang salah menilainya dan saat aku memutuskan untuk pulang nanti ia akan mengintaiku di balik belukar dan menempatkan jasadku bersama korbannya yang pertama dan perjalananku ke hutan ini menjadi kesia-siaan belaka. Tidak ada kayu bakar, tidak ada kehidupan.

“Tentu saja saya takut babi. Sejak kebakaran gunung dan mereka turun ke hutan, saya sudah sangat jarang mengunjungi hutan.”
Apa yang salah dengan perkataanku, sehingga serdadu ini sehabis membuka matanya yang teduh menjadi menyeringai kepadaku.
“Aneh, tapi saat ini Anda bahkan rela pergi ke hutan yang sekarang banyak babi demi sebongkok kayu. Padahal, di tepi desa saja sudah pasti ada banyak kayu kering.”
Aku menelan ludahku, dan itu berwujud seperti batu-batu yang kemudian sukar tertelan dan bersarang begitu lama di tenggorokanku.

Ada beberapa saat lamanya jeda, dan selama itu dia menatapku dengan seringainya yang tajam. Entah kenapa aku tak dapat beralih dari kedua mata serdadu itu, sehingga ia bisa melihat jelas-jelas ketakutan yang tergambar dalam selarik wajahku.

“Mungkin seharusnya saya pulang,” kataku dan berbalik, siap berlari.
Aku melambai padanya seperti seorang kawan lama, “…sampai jumpa.”

Aku baru saja melangkah dan menjadi berlari ketika suara tembakan terdengar menusuk telinga. Aku pun menoleh, dan di ketika itu aku begitu terkesiap. Timah panas mendorongku bersua tanah yang sedikit basah oleh hujan kemarin malam, menghamparkan aku pada pemandangan langit oranye yang sendu.
Tapi, kemudian tangan-tangan besar itu meraih kaki-kakiku. Dibawanya aku menuju belukar, dan ia, serdadu itu, tak lagi malu untuk tertawa dan melakukan apapun kepadaku.
Saat seseorang lainnya datang dan menanyai apa yang sedang dilakukan serdadu itu di hutan—di saat magrib begini, ia memukuli kepalaku yang sesungguhnya dengan satu tembakan di dada ini saja sudah merasa pening. Saat darah melewati wajahku dan aku berada di ujung kematian, barulah ia berhenti dan menghadapkan wajahku ke arah barat sehingga kali ini aku dapat dengan begitu jelas melihat serdadu yang dibunuhnya sebelum aku, sementara ia menarik babi dari belukar dan membuat seseorang di sana berkata ‘oh’ panjang sama halnya apa yang aku lakukan dan terus mengobrol sampai kebohongan tujuan awal orang itu pergi ke hutan terkuak. Berikutnya, terdengar suara tembakan dan aku mendapat teman baru, ia juga seorang serdadu, dan ia menangis dan meski kubangan ini sebetulnya hanya muat untuk dua orang saja.

***

Beberapa saat sebelumnya…

Saat seorang warga tergopoh-gopoh berlari dan dengan beraninya menembusi barisan tentara untuk bisa sampai ke barak, aku terdiri dan bergegas menjelanginya dan baru saja akan memakinya ketika ia menjelaskan sesuatu yang selama ini tak pernah terlapor kepadaku sebelumya.

“Ada bunyi tembakan, Tuan. Memang hanya satu kali, namun, saya yakin itu adalah tembakan.”

Orang ini dan seluruh warga desa pada umumnya, menyimpulkan bahwa setiap tembakan adalah suara kematian. Mereka paling tidak suka akan bebunyian itu. Maka saat aku dan kawan-kawanku latihan, kami musti mengunjungi beberapa desa lain setelah desa ini dan tidak memutuskan untuk memindahkan barak sama sekali.
Saat ini seharusnya menjadi akhir dari jatah bertugasku. Namun, karena orang lain tengah latihan, maka aku sendiri yang musti memeriksanya.

Orang ini dan beberapa warga desa yang sudah berkumpul di bibir hutan dengan begitu saja meninggalkan aku sendiri saat aku mulai memasuki hutan. Mereka tak memungkinkan kemungkinan terburuknya dan begitu tega kepadaku dan menganggap aku ini cukup azmat dengan baju hijau ini.

Penulis:

Lahir dan tinggal di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisi pertama saya, "Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas" - Tidar Media 2020. Menyukai anime dan idol selain game online, menyanyi, menggambar anime dan tidur siang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s